Posted in My Lifetime History

Kisahku dan Biologi

Biologi, atau dalam Bahasa Inggris, biology, diserap dari Bahasa Yunani, berarti ‘ilmu yang mempelajari kehidupan’. Maksudnya adalah sains yang mempelajari kehidupan di bumi ini, mulai dari tingkat sel sampai biosfer. Di Indonesia, mata pelajaran biologi biasanya mulai diajarkan di kelas 7 SMP.

Ya, itulah ‘biografi’ singkat biologi. Aku memiliki sebuah kisah dengan bidang itu.

2010.

Sebagai seorang anak kelas 7, aku merasa bangga sekali, mengetahui bahwa aku akan mempelajari hal-hal baru yang tidak kudapatkan di bangku Sekolah Dasar. IPA dipecah menjadi Fisika, Biologi, dan Kimia. Terasa keren. Aku tidak sabar memasuki kelas dan merasakan pengalaman belajar pelajaran-pelajaran itu.

Di SDIT saat aku masih di Bengkulu, aku adalah salah satu anggota tim olimpiade matematika. Alhamdulillah, bersama dua orang teman, Husain dan Rizki, kami menyabet juara satu di sebuah kompetisi dan berhasil mempertahankan gelar juara umum yang telah diraih kakak-kakak kelas kami. Tapi siapa sangka, lima tahun kemudian, temanku Husain dipanggil oleh Allah lebih cepat daripada siapapun di tim kami, saat ia SMA. Innalillahi wa innaa ilaihi roji’un. Waktu itu, kami bukan tim utama, namun kami berhasil mengalahkan tim utama yang pada akhirnya berakhir menjadi Juara Harapan I. Di babak final yang merupakan cerdas cermat, mereka banyak menjawab salah. Sedangkan kami, kebalikannya. Lagi, Alhamdulillah.

Saat bersekolah MTs di  Jakarta, aku telah mempersiapkan buku-buku olimpiade matematika, berharap aku dapat kembali diterima di tim matematika di sekolah. Dan pada akhirnya, aku memang diterima. Karirku mewakili sekolah cukup cemerlang di kelas 7, meskipun selalu gagal meraih piala. Di kelas 7 pun, aku sempat menjadi bintang matematika di sekolah, karena nilaiku ujianku megungguli nilai teman seangkatan.

2011.

Aku mempunyai banyak teman dari daerah yang berbeda. Beberapa dari kami telah mengikuti kompetisi nasional bersama. Ada Ilham, dari Temanggung, Jawa Tengah. Nilai UN Matematikanya di SD 100. Kabarnya, ia hampir lolos OSN Matematika SD 2009. Ia kalah di seleksi ulang. Setiap mewakili sekolah di kompetisi matematika, kami selalu bersama.

2012.

Kelas 8, tanpa kusangka, menjadi akhir karirku berlomba matematika. Temanku Toha, yang gagal di OSK SD Matematika dua kali berturut-turut, mengungguliku. Ia berasal dari Jakarta. UN Matematikanya juga 100 saat di SD, persis Ilham. Temanku Abyan, dari Pekalongan juga perlahan mengungguliku. Mereka adalah teman-temanku di tim matematika SMP, meskipun Ilham juga termasuk jagoan tim Fisika. Ia meraih Perunggu pertama di Kompetisi Sains Madrasah di Bandung. Sekolah kami tidak mengikuti seleksi OSN.

2013.

Ilham, Toha, dan Abyan bersama-sama mewakili kelas 9 di FESMA, sebuah kompetisi matematika-PAI yang diadakan KPM (Klinik Pendidikan MIPA) Indonesia. Pertama kalinya mereka berkompetisi bersama tanpaku. Ilham dan Abyan berhasil menyabet piala. Beberapa saat kemudian ada Kompetisi Matematika Nalaria Realistik. Kali ini, Ilham dan Toha yang mewakili sekolah. Sayang, mereka tidak berhasil.

Pada akhirnya aku tahu bahwa aku tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Mereka jauh lebih berbakat daripadaku. Aku sadar akan kemampuanku. Aku juga sadar bahwa tiga tahun MTs aku sering malas-malasan. Aku mendapat banyak kendala menghadapi UN SMP/MTs. Pelajaran yang masih susah kupahami adalah Biologi, yang terhimpun bersama Fisika dan Kimia pada satu bidang; IPA. Meskipun sebelum UN aku sempat ditunjuk untuk mengikuti sebuah olimpiade biologi bersama 6 teman lain. Well, kuota pesertanya waktu itu 7 orang, dan aku yang dipilih tereakhiran, ketika hari-H kompetisi semakin dekat. Aku tidak mengerti mengapa aku bisa terpilih, padahal nilai-nilaiku di kelas terbiasa jelek. Seingatku, skor UAS ku bahkan tidak pernah lolos ke angka 80. Aku memang tidak suka menghafal, karena biologi itu isinya menghafal. Aku lebih suka Matematika dan Fisika. Namun karena aku telah di-drop out dari tim, maka apa boleh buat. Aku pun jumpalitan belajar biologi, untuk pertama kalinya. Kak Fata, seorang kakak kelas 12, banyak sekali membantuku. Aku merasa bersalah karena telah mengusiknya mempersiapkan UN. Namun, Kak Fata sangat baik. Ia benar-benar mengajariku biologi dari ‘nol’. Pada suatu malam, aku bahkan baru memahami pelajaran yang mestinya sudah harus kupahami saat masih duduk di kelas 7, salah satunya urut-urutan ‘kifikofagus‘ yakni kingdom-filum-ordo-famili-genus. Aku baru mulai menghafal organel-organel sel beserta fungsi. Aku membuka buku kelas 7-9. Aku belajar siang malam. Pada akhirnya, aku pun berakhir di posisi 3 di regional. Alhamdulillah. Meskipun yang berhak maju ke final adalah 2 orang saja, karena nilaiku tidak memenhui passing grade keseluruhan. Satu temanku yang menduduki posisi kedua pun berangkat ke Bandung. Aku tidak merasa hebat karena kompetisi tersebut bukanlah kompetisi besar seperti OSN atau KSM.

2014.

Entah mengapa, aku mulai memasang target di Biologi. Agustus tahun lalu, ketika sekolah mengadakan sebuah seminar motivasi, kami diminta untuk menulis mimpi-mimpi kami, dan aku menuliskan ‘meraih medali biologi’. Karena sekolahku tidak ikut OSN, maka aku menargetkan KSM. Dua medali. 2014 dan 2015. Entahlah yang penting aku menulikan mimpiku, bagaimanapun kenyataannya kemampuanku di biologi. Pada saat itu, aku dan seorang adik kelas 7, namanya Azzam, mulai bermimpi bersama. Saat SD, Azzam pernah meraih Perunggu di International Mathematics Contest di Singapura dan Bulgaria. Ia bahkan menargetkan IMO. Namun setelah mengetahui kenyataan bahwa sekolah kami belum berpastisipasi di OSN, ia mengikuti mimpiku; dua medali KSM.

Kami mulai belajar bersama, hampir setiap malam (karena kami tinggal di asrama). Ia belajar soal-soal IMC, Po Leung Kuk, dan soal-soal olimpiade matematika sejenisnya, sedangkan aku baru merangkak belajar bab-bab awal biologi kelas 10. Pasca UN, aku baru sempat mempelajari satu bab yakni bab Virus. Dan ya, aku sangat jumpalitan dengan kegiatan ‘memaksa’ itu, karena aku tidak akrab dengan istilah-istilah biologi. Malam saat belajar, aku sering mengantuk. Aku sering dibangunkan Azzam dengan suara-suara tertentu yang, meskipun agak sedikit menjengkelkan, ia ingin aku tetap belajar. Ya Allah, betapa beratnya belajar biologi. Apa pilihanku ini salah?

Waktu berlalu. Di awal-awal kelas 10, aku sedikit unggul karena beberapa bab telah kupelajari. Aku bahkan ditunjuk untuk mewakili MA di CHEMO, sebuah kompetisi biologi kedokteran, dan berhasil sampai semifinal. Oya, lombanya bersifat grup, jadi aku merasa sangat terbantu oleh kakak-kakak kelasku satu tim.

Waktu terus bergulir. Semakin hari, aku semakin tidak kentara belajar biologi. Perlahan keunggulanku di kelas disaingi anak-anak lain, yang mereka pada dasarnya pintar. Mulai bab Plantae dan Animalia, aku sangat kesusahan karena… mungkin kalian pernah merasakannya ya, bab itu sangat komplikatif karena berisikan klasifikasi. Jadi, kita benar-benar mempelajari SEMUA tumbuhan dan hewan yang ada dan diketahui di bumi ini. Hufft… Perlahan, aku menjadi biasa saja. Belajar bersama Azzam pun mulai jarang, bahkan pada akhirnya kami berhenti sama sekali, sibuk dengan urusan masing-masing. Meskipun begitu, aku masih ingat dengan targetku untuk meraih dua medali KSM.

Sampai tibalah akhirnya seleksi KSM se-sekolah. Aku harus menyaingi kakak-kakak kelas 11. Aku semakin tidak percaya diri dengan kemampuanku, karena sainganku memang hebat-hebat. Aku hanya bisa berdoa dan membaca biologi sebanyak-banyaknya, perkara masuk atau tidak ke otak, belakangan. Aku benar-benar jumpalitan. Aku bahkan memutuskan untuk membeli Biologi Campbell, buku kuliah yang digunakan anak-anak SMA untuk mempersiapkan OSN dan sejenisnya. Aku kelabakan. Di seleksi sekolah, aku pun bertahan sampai 2 besar.

Guru biologiku, Ust. Ayi, mengetesku dan Kak Udin, kelas 11, dua kali, karena di tes pertama selisih kami sedikit. Aku yakin waktu itu aku yang di posisi terendah, namun Ustadz memberikanku kesempatan lain. Dan pada akhirnya, aku pun lolos. Aku bersujud syukur menyatakan pada Allah bahwa aku tidak menyangka. Sangat tidak menyangka. Aku akan mewakili MA-ku di KSM Kota 2014 bersama Fauzan (Kimia) dan Toha (Matematika), yang juga kelas 10. Sedangkan Fisika diwakili oleh Kak Tezar, yang waktu itu menjadi partner-ku di CHEMO. Bagaimana dengan Azzam? Guru matematikanya memilih kakak kelasnya, Zahid, kelas 8. Setahuku tanpa seleksi. Entah mengapa. Mungkin agar semua unggulan kelas bisa mendapatkan kesempatan berpastisipasi. Zahid pun memang juga pintar matematika. Aku heran saja mengapa bukan Azzam yang diunggulkan. Next year! gumamku pada Azzam.

Aku, Fauzan, Toha, Kak Tezar, bersama Zahid, Angling (Fisika MTs), dan Fairuz (Biologi MTs) pun berangkat untuk seleksi KSM bersama. Waktu itu langsung seleksi Provinsi. DKI kurang prepare untuk tingkat kota. Entahlah. Saat tes, aku sendiri merasa soal yang diujikan tergolong mudah, meskipun ada banyak soal juga yang tidak kuketahui dengan pasti jawabannya. Yang jelas, setelah tes selesai, aku bisa tersenyum optimis. Begitu pula dengan beberapa teman lain.

Hasil MTs keluar pada hari itu juga, dan Allah menakdirkan Zahid dan Fairuz menjadi juara I. Mereka akan berangkat ke Makassar untuk tingkat nasional. Pengumuman MA baru akan keluar sekitar satu minggu kemudian. Alhamdulillah, aku, Fauzan, dan Toha pun berhasil sampai 3 besar. Fauzan bahkan meraih peringkat 2 dengan selisih 1 poin dengan juara 1. Namun, peraturan menetapkan bahwa hanya peraih Juara 1 yang berhak mewakili DKI di KSM Nasional. Kami yang tiga besar hanya diikutkan pelatihan bersama di MAN Model.

Terkadang, aku berharap sekolahku dapat berpastisipasi di OSN, dimulai dari tingkat kota. Semoga saja tahun depan.

(bersambung)

 

 

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s