Posted in My Lifetime History

Kisahku dan Biologi (2)

Ini adalah cerita lanjutan dari ‘Kisahku dan Biologi’ sebelumnya. Silahkan dibaca 🙂

2015.

Alhamdulillah, Ayah mengabulkan permohonanku untuk membelikan buku Biologi Campbell jilid II dan III. Campbell itu, per-jilidnya kurang lebih 400-an halaman. Akhirnya sejak saat itu, aku mulai ngebut belajar. Terkadang buku-buku SMA biasa masih kusempatkan untuk dibaca karena bahasannya lebih simpel. Aku juga mulai membeli buku-buku panduan olimpiade biologi SMA, cari-cari soal di internet. Aku menambah jam belajarku. Pada tahun ini pula, aku mulai dengan tegas mengajukan partisipasi OSN ke kepala sekolah dan bina prestasi. Mereka bilang, mereka akan mengusahakan.

Pada awal tahun, aku kembali diikutsertakan pada CHEMO. Ingat, kan? Olimpiade biologi kedokteran itu, loh. Alhamdulillah, aku bersama Fauzan, anak kimia, dan Farros, anak biologi juga, berhasil menggondol Juara 1 (finally…). Olimpiade ini memang hanya berfokus pada anatomi-fisiologi manusia (hewan) atau anfiswan, ilmu-ilmu kedokteran dasar, serta biokimia. Begitulah.

Mendekati OSK (OSN tingkat Kota), aku pun mengusahakan untuk mengikuti pelatihan berbayar di Erick Institute Malang. Setelah mendapat restu sekolah dan orang tua, aku pun berangkat. Di sana aku digembleng selama 6 hari oleh Kak Kharis, peraih Emas OSN Biologi SMA 2012 dan peserta pelatnas TOBI Tahap 3. Sayang beliau tidak sampai IBO 2013 di Bern, Swiss 😥  Yang jelas, selama pelatihan, aku merasa ilmuku benar-benar bertambah, sekaligus bahwa ilmuku masih sangat kurang untuk level OSN. Campbell pun belum kunjung rampung. Jadi, selama pelatihan, aku lumayan kelabakan. Terkadang bahkan mengantuk… terutama pas masuk bab anatomi hewan, soalnya waktu itu malam hari dan babnya agak ribet. Aku pun sudah capek. Maaf ya, Kak Kharis 🙂

Pulang dari Malang, aku merasa cukup percaya diri untuk melanjutkan belajar mandiri biologi. Sebenarnya, Ust. Ayi, guru di sekolah, hanya banyak mengajarku ketika aku masih newbie di tim, yaitu ketika duduk di kelas 10. Bahkan saat persiapan CHEMO lalu, kami, atau aku maksudku, tidak dilatih sama sekali, kecuali tentu saja saat belajar di kelas, karena kelas XI kebetulan materinya adalah anfiswan.

Waktu itu OSK SMA dijadwalkan lebih awal daripada biasanya, yakni Februari. Kudengar banyak yang mengeluh soal ini, namun tepat juga agar dijadikan tantangan agar persiapannya lebih awal juga. Waktu  itu aku agak bimbang, bahkan galau. Kenapa? Ada yang namanya AEO, yaknbi Asian English Olympics, kompetisi Bahasa Inggris tebesar se-Asia yang diadakan oleh Binus University Jakarta, yang juga telah kujadwalkan untuk partisipasi. Jadwal OSK dan AEO bertabrakan. OSK Biologi akan diadakan bersamaan dengan babak penyisihan AEO, seingatku. Semakin mendekati hari-H, aku memantapkan diri untuk memilih OSK, karena ini adalah tahun terakhirku bisa berpastisipasi pada ajang tersebut. Sedangkan AEO, aku bisa menundanya hingga aku duduk di bangku kuliah. Namun, takdir berkata lain. Sekolahku telah mencoba mendaftar OSK di Kemendikbud setempat, namun ditolak. Alasannya, kuota penuh, kurang lebih seperti itu. Aku tidak heran sih, karena memang sekolahku terlalu telat. Apalagi sekolahku hanyalah sekolah Madrasah Swasta yang sudahlah biasa-biasa saja dan belum memiliki prestasi prestisius apa-apa di bidang sains. Aku sedikit menggerutu di dalam hati, “Mengapa baru sekarang? Mengapa tidak sejak dulu? Sejak kami, anak-anak olimpiade meminta agar diikutsertakan?” Dan, ya, begitulah. Aku hanya bisa mencurahkan apa yang kurasakan pada Tuhanku, lalu pada orangtuaku, dan terakhir, di sosmed. Namun aku masih optimis kalau Allah tahu jalan yang lebih baik. Maka pada malam terakhir deadline pendaftaran AEO, sekolahku tanpa ragu mendaftarkanku untuk bidang Spelling Bee, karena sebelumnya aku telah berpastisipasi dan/atau memenangkan National Spelling Bee lokal sejak 2012.

Dan benar. Allah Yang Maha Pengasih memberiku Emas dan penghargaan khusus siswa SMA terbaik, karena lawan-lawanku banyak juga yang mahasiswa. Aku mulai menyadari bahwa Allah sebenarnya memberi kita lebih dari sekedar yang kita mau dan butuh. Aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang hebat dari berbagai macam negara (meskipun tidak sempat berkenalan banyak) dan berkompetisi dengan mereka. Pengalaman yang luar biasa, Masya Allah.

Pulang dari AEO, aku agak kendor dengan biologi, serta Campbell. Aku lebih fokus pada program yang kubuat sendiri, yakni Spelling Bee Camp di sekolahku yang kuadakan untuk junior-juniorku. Aku membantu mereka dan memfasilitasi mereka berbulan-bulan agar mereka bisa mempersiapkan Spelling Bee tingkat regional dan nasional tahun ini dengan matang.

Ketika terdengar desas-desus KSM, aku mulai agak tersontak, karena aku seperti sudah ‘kurang akrab’ dengan biologi. Sedikit-sedikit, aku mulai kembali membuka Campbell, kembali mengantuk-ngantuk, agak menyesali hal-hal yang telah kulupakan. Dan betul, aku kelabakan lagi. Ya Allah, tolonglah aku. Pintaku saat itu. Waktu itu juga tidak ada seleksi sama sekali san anak-anak kelas 10 yang ikut tahun lalu akan ikut lagi tahun ini. Tahun ini juga, setiap sekolah bisa mengirimkan 2 partisipan. Kebanyak guru bidang studi memasangkan senior kelas 11 dengan junior kelas 10 agar si junior bisa berancang-ancang untuk KSM tahun berikutnya.

Katanya, KSM dijadwalkan beberapa hari sebelum UAS dan aku bisa agak mengencangkan ikat pinggang karena masih ada beberapa minggu untuk persiapan, pasca usainya Spelling Bee Camp. Ketika mulai mendekat, aku menerima pengumuman bahwa jadwal KSM diundur. Lalu ketika hari-H lebih mendekat, jadwalnya mucul lagi. Agak ambiguous memang, sampai aku menelepon Kemenag setempat dan aku diberitahu bahwa KSM memang akan diadakan lebih lambat.  Dan gawatnya, diadakan bertepatan dengan UAS tertulis hari pertama. Jadinya, ketika teman-teman sibuk mengulang pelajaran yang akan diujikan hari itu, aku dan parner olimpiadeku membuka bidang olimpiade kami. Aku berusaha sekuat tenaga, tidak juga sih, aku hanya berusaha untuk membaca dan mempelajari apa yang possible.

Dan hari KSM pun tiba. Waktu itu juga langsung seleksi Provinsi. Kukira persiapanku cukup matang. Aku agak optimis untuk menang. Kami, tim olimpiade, berangkat dengan elf sekolah. Tim MTs juga bersama kami, dan mereka adalah, untuk matematika, tentu saja Azzam, Fisika Syamil, dan Biologi Muhadzib. Semuanya kelas 8.

Kami sampai di MAN 4, sebuah MAN Model unggulan di DKI. Well, KSM MA selalu diadakan di sana. Tim MTs pergi ke MTs Model yang berada tepat di sebelah, satu kompleks. Kami tiba-tiba dikejutkan dengan daftar peserta yang tidak bertuliskan nama kami; delegasi MA Kafila. Yang parah malah, hanya beberapa yang tertulis namanya (termasuk aku), namun dengan asal MA yang nyeleneh. Sebelum tes, kami sempat protes, namun panitia setempat mengatakan bahwa hal tersebut tidak perlu dicemaskan. “Tulis saja nama dan asal sekolahmu sebenarnya,” kata sang panitia. Ya sudah. Aku sih masih anxious.

Tes pun dimulai. Perlahan aku melihat cover soal, persis sama yang kuilhat tahun lalu. Hanya berbeda ‘2014’ dan ‘2015’-nya saja. Aku menuliskan identitasku dengan sangat cepat agar tidak kecolongan waktu. Setelah mengucap basmalah, aku membuka lembar soal, dan aku terkejut. Mulutku sampai menganga.

“20 pilihan ganda dan 5 esai,” gumamku pelan. Deg. Aku mencoba menerima kenyataan bahwa aku jarang latihan soal, apalagi esai. Sungguh berbeda dari KSM-KSM tahun sebelumnya. Aku pun mulai mengerjakan soal pilihan ganda, dengan-sangat-santai. Alhamdulillah soalnya…. sebenarnya lebih susah dari tahun lalu, namun aku sudah jauh lebih banyak tahu sekarang. Namun, ada beberapa soal yang aku ragu benar atau salah. Kalau kalian anak biologi, pasti kalian tahu jawabannya. Nih, salah satu soalnya:

*Berikut ini yang merupakan penyakit yang tergolong autosomal resesif adalah…

a. buta warna

b. Huntington’s disease

c. Fenilketonuria

d. sickle cell anemia

Seingatku gitu, dah. A dan D, pasti salah, dong, karena dua penyakit tersebut pasti chromosome X-linked. Aku ragu antara B dan C, dan akhirnya, aku pun menjawab… B.

Esai.

Ada dua soal yang, bagi non-Campbell reader, ia PASTI tidak bisa menjawab. Aku sedikit santai mengerjakannya, meskipun aku tahu kalau jawabanku tidak sempurna. Aku menjawab semua soal sebisaku, sampai berlembar-lembar. Hufft… Aku pun selesai sesaat sebelum bel tanda berakhir tes dibunyikan. Setelah keluar, aku konsultasi dengan Ust. Ayi, dan 2 nomor ketahuan salah. Termasuk soal di atas tadi. Setelah aku membuka Campbell (karena aku tahu PERSIS di mana hal yang kucari berada), aku menemukan bahwa Fenilketonuria (PKU) adalah jawaban yang benar. Jawaban B, ternyata bukan autosomal resesif, namun autosomal dominan. Ah sudahlah. Kecolongan skor aku…. Lumayan, salah satu kan minus satu, sedangkan soalnya sedikit. Skor esai pun juga masksimal empat, sama dengan jawabn benar pada soal multiple choice. Aku harap-harap cemas. Perasaan itu terus terbawa sampai berhari-hari. Aku takut kalah. Gumam hati kecilku. Ya, aku sangat takut kalah. Kalah karena kecolongan satu, dua poin. Karena di KSM, aku juga kembali bersaing dengan para pesaingku di CHEMO, dan mereka bisa saja sudah jauh lebih hebat. Terutama anak-anak MAN 4 yang mendatangkan pelatih dari ITB… Huh…. 😦 -_-

Aku berdoa, berdoa, dan berdoa. Semoga Allah menjadikan KSM Palembang adalah takdirku. Semoga ini yang terbaik untukku, dan teman-teman kontingen MTs-MA. Sesekali aku teringat mimpi yang dulu kuguratkan bersama Azzam. Selangkah lagi, Zam.

Dan pengumuman pun tiba. Namun, kali ini untuk MTs. Syamil peringkat 1, Muhadzib peringkat 2, dan Azzam… peringkat 2. Aku jelas kaget. Padahal, pada tes pra-KSM, Azzam yang juara satu, sedangkan Syamil dan Muhadzib hanya 5 besar. Skor Azzam di KSM pun berbeda jauh dengan yang peringkat 1. Rivalnya adalah orang yang sama yang menjadi juara 2 di tes pra-KSM. Ada apa ini? Keuntungan sepihak, kah? Azzam adalah peraih medali nasional-internasional. Masa pada olimpiade madrasah ini, ia kalah… telak? Wallahu a’lam bis shawab. Biarlah orang-orang yang tamak merasakan akibat kerakusannya (seandainya mereka benar-benar begitu ya, namun sebaiknya tidak usah berprasangka. Aku, dan kami semua, bahkan pembimbing Azzam, sangat sangat sangat heran-kaget-terkejut).

“Jadi berangkat, Zam?” tanyaku.

“Entahlah.”

Sekarang giliran aku yang tidak bisa tenang menunggu hasil KSM MA. Pengumuman tak kunjung datang. Jangan-jangan kami MA swasta kembali menjadi korban… Eh, malah pada akhirnnya aku menerima pengumuman dari temanku dari MAN 4 sendiri. Ia mengirimkanku ini:

m4Ar3oLl

Dan, ya, begitulah. Para pembaca bisa menebak kira-kira apa yang kurasakan? Perbedaannya, tahun lalu aku di posisi ke-3. Sekarang ke-2. Tahun lalu ke Makassar, tahun ini ke Palembang. Persamaannya adalah: aku sama-sama GAGAL. Ya, aku telah gagal. Aku teringat quote guru bina prestasiku:

“Menang dengan hati yang tetap tunduk, kalah dengan kepala yang tetap tegak.”

Jujur, kalimat itu BARU MENGENA di sanubariku, setelah sekian tahun aku berkompetisi untuk sekolah, pada puluhan lomba. Pada kompetisi-kompetisi yang aku berjuang keras padanya, aku memang tidak terbiasa kalah. Sulit bagiku untuk menerima kenyataan, bahwa aku telah kalah (skor pun bahkan tidak diberitahu). Aku telah kalah dua kali, dari orang yang sekolahnya sama.

Pembaca bisa menebak apa yang kurasakan? Terkadang sampai sekarang… masih terasa? Banyak orang telah menaruh harapan padaku. Sampai seseorang ketika kuberitahu bahwa aku kalah, katanya, “Ah, masa? Bo’ong, ah!” Aku hanya menyampaikan kenyataan, kawan….

Pada akhirnya, aku mengucapkan banyak terima kasih pada setiap orang yang telah membantuku membangun pondasi biologi-ku. Terutama orang-orang yang telah mengayomiku dari nol: Kak Fata, Zaky Ash, Ust. Ayi, ataupun yang telah menemaniku di pelatihan: Pak Ridwan, dosen ITB yang melatihku pasca KSM 2014, Kak Kharis yang hebat Masya Allah, dan tentu saja… Mr. Campbell, secara tidak langsung 🙂 Saya sangat menghargai jasa Adnda dan teman-teman, Pak, karena telah membukukan biologi secara asyik. Hehe.

Terakhir, aku menutup dengan sebuah quote dari Salsabiilaa Roihanah, seorang alumnus OSN Biologi dan IJSO di coretansalsa.wordpress.com

“Jika manusia berusaha, namun Allah nggak berkehendak, nggak bakal terjadi. Tapi apapun usaha manusia supaya sesuatu nggak terwujud, sekali Allah berkehendak, pasti akan terjadi. Sekali lagi, yang  paling penting itu ilmu. Medali itu logam, bisa karatan. Kalau ilmu? Nggak akan pernah karatan.”

Aku sedikit menambahi, bahwa ilmu yang tidak akan karatan adalah ilmu yang bermanfaat; ilmu yang terus digunakan hingga bahkan setelah sang pemberi ilmu meninggal dunia. Yes, amal jariyah yang tak putus. Aku masih terus menunggu hikmah luar biasa apa yang tersimpan dibalik semua ini. Aku yakin, Allah pasti mempersiapkan yang lebih baik untukku. Aku yakin, sangat yakin. Insya Allah.

Alhamdulillah, Wasysyukru lillah. Pembaca jangan lupa doakan agar ada seleksi ulang untuk 3 besar KSM DKI Jakarta 🙂 AMIN.

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s