Posted in About Islam, My Lifetime History

Laylat el Qadr – The Night of Destiny

Bismillah. Assalamu’alaikum, para pengubah dunia!

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menyampaikan kita pada Ramadhan tahun ini. Semoga ini bukanlah Ramadhan kita yang terakhir.

Kita, kaum Muslimin, tentu mengerti akan Bulan Ramadhan yang suci dan penuh kemuliaan. Namun, pada kesempatan ini saya akan membahas satu hal tepenting yang tidak banyak dipahami kaum Muslimin, khususnya saya sendiri, sebelum saya mengikuti daurah dari Syaikh Abdurrahman As-Sudany, yang merupakan guru besar saya sendiri. Dan saya juga akan berusaha untuk menjelaskan dengan bahasa yang bisa dipahami anak seumuran saya.

Pada suatu sore, beliau menyempatkan diri untuk memberikan kami pengetahuan tentang Lailatul Qadr serta kiat-kiat menggapainya. Namun, sebelum itu, sebaiknya kita semua kembali mem-flash back apa ‘Lailatul Qadr’ itu sendiri.

Allah berfirman pada Quran Surah Al-Qadr yang berjumlah 5 ayat.

 

Al-Qadr

Artinya:

Dengan menyebut nama Allah yang maha Pengasih Lagi maha Penyayang.
1. Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemulian
2. Dan tahukan kamu apakah malam kemuliaan itu?
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar

 

Nah, para pembaca, Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat luas dan bermakna dalam. Kalau kita hanya memahami Al-Quran dengan Quran terjemahan, sungguh tidaklah cukup untuk memenuhi rasa ingin tahu kita terhadap makna ayat-ayat Tuhan itu.

Baiklah, sekarang mari kita garis bawahi beberapa kata penting pada Surah Al-Qadr ini.

Pertama. Kata “laylatul qadr” itu sendiri (ayat 1-3). Laylatul Qadr memiliki sedikitnya 3 arti:

1. Malam kemuliaan.

2. ‘Kesempitan’. Karena kondisi planet ini seakan ‘menyempit’ karena diisi oleh para Malaikat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الملائكة تلك الليلة أكثر في الأرض من عدد الحصى

Sesungguhnya jumlah Malaikat pada malam itu (lailatul qadr) di dunia lebih banyak daripada kerikil (batu kecil)” Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah.

3. Hukum.

Kedua. Kata “tanazzal” pada ayat 4. Berbeda dengan kata “nazala“, yang berarti “turun”, “tanazzal” adalah “turun yang dahsyat”. Bisa dibayangkan, kan? “Tanazzal” bisa dibilang adalah majas bagi “nazala“. Berarti Malaikat turun ke bumi dengan cepat dan mengisi ruang-ruang di bumi dengan hebat. Sampai dikatakan bahwa di setiap jengkal terdapat Malaikat.

Ketiga. Warruuhu fiiha” pada ayat ke-4 juga. “Ar-ruuh“, seperti yang telah diterjemahkan, berarti “Malaikat Jibril”. Apakah pembaca bisa merasakan majasnya di sini?

4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan

Malaikat Jibril diberikan pengkhususan. Pada Bahasa Arab, ini disebut “ithnab“, yang berarti bahwa Malaikat Jibril memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan Malaikat-Malaikat lain. Ya, ia adalah Malaikat ranking 1, yang ditugaskan Allah untuk memberikan wahyu pada para utusan-Nya. Malaikat Jibril yang dulu mengajarkan Nabi kita mengaji dan shalat pun masih ada hingga sekarang dan akan terus mengunjungi bumi pada Malam Laylatul Qadr. Spesial!


Nah, dari pembahasan di atas, kita tahu bahwa Malam Laylatul Qadr adalah malam yang istimewa, karena Allah bahkan memberikan porsi satu surat khusus di Kitab-Nya untuk menjelaskan malam ini. Malam Laylatul Qadr, seperti yang kita ketahui, adalah malam yang lebih mulia dari 1000 bulan, atau sekitar 83 tahun 4 bulan. Apa hikmahnya, kawan? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عمر أمتي من ستين سنة إلى سبعين سنة 

Usia ummatku adalah (kisaran) enam puluh hingga tujuh puluh tahun.” Hadits ini tergolong Gharib (diriwayatkan satu demi satu ‘alim hingga sampai ke Nabi)

Fakta, bukan? Hanya sedikit orang yang dapat melampaui usia lebih dari 70. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi bonus spesial pada Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam agar amalan mereka dapat menyaingi amalan umat para Nabi pendahulu, yang usianya bisa sampai ribuan tahun. Bayangkan saja jika kita selalu meraih Laylatul Qadr setiap Ramadhan selama empat puluh tahun usia kita. Masya Allah pahalanya!

Pada Laylatul Qadr juga, kita berkesempatan untuk mengubah takdir kita. Ada kejadian namanya taqdir as-sanawy, yakni takdir tahunan, yang dapat berputar 180 derajat atas kehendak Allah, bagi hamba-hambanya yang meraih kemuliaan Laylatul Qadr. Makanya kenapa Laylatul Qadr bisa juga diartikan “Night of Destiny”, seperti pada judul yang saya gunakan dalam bahasan ini.


KARAKTERISTIK LAYLATUL QADR

Mari kita simak beberapa dalil tentang ciri-ciri Laylatul Qadr:

ليلة القدر ليلة طلقة لا حارة ولا باردة ، تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة

Laylatul Qadr adalah malam yang temperat (sedang), tidak panas lagi dingin. Matahari di pagi harinya bersinar lemah.” Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.

إِنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ طَلْقَةٌ بَلْجَةٌ , لا حَارَّةٌ وَلا بَارِدَةٌ , لا سَحَابَ فِيهَا وَلا مَطَرَ وَلا رِيحَ ، وَلا يُرْمَى فِيهَا بِنَجْمٍ , وَمِنْ عَلامَةِ يَوْمِهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ لا شُعَاعَ لَهَا

Sesunguhnya Laylatul Qadr adalah malam yang temperat (sedang), terang, tidak panas lagi dingin,tidak berawan, tidak terdapat hujan maupun angin (kencang), tidak dilempar padanya bintang-bintang (kepada syaitan), dan diantara tanda pagi harinya: matahari terbit tak bersinar.” Hadits marfu’ (sampai ke Nabi).

Nah, sekarang kita dapat menyimpulkan ciri-ciri Laylatul Qadr dalam beberapa poin:

1- Malam itu tidak panas maupun dingin (temperat/sedang)

2- Malam itu terang walaupun tanpa penerangan lampu.

3- Ada banyak Malaikat yang memenuhi bumi hingga terasa damai yang sangat bagi orang-orang mu’min.

4- Matahari terbit di pagi hari dengan sinar yang lemah dan dapat dilihat dengan mudah menggunakan mata telanjang.

5- Tidak berawan, tidak turun hujan, tidak berhembus angin kencang.

6- Tidak terdapat syaitan yang suka mencuri informasi dari langit (ini ilmu ghaib). Ini berdasarkan lafaz “tidak ada bintang yang dilempar” berarti sedang tidak terdapat syaitan yang berkeliaran di langit dunia.


KIAT-KIAT JITU MERAIH LAYLATUL QADR

Berdasarkan kajian Syaikh Abdurrahman, beliau memberikan beberapa poin:

1- Perhatian yang lebih terhadap 10 hari terakhir Bulan Ramadhan

2- Susun jadwal. Penuhi jadwal malam hari hingga fajar dengan beribadah (membaca Quran, berdzikir, berdoa, Shalat malam)  dan beri porsi beberapa jam di siang hari untuk beristirahat.

3- Manfaatkan setiap kesempatan, khususnya ada waktu-waktu istijabah (dikabulkannya doa), seperti antara adzan dan iqamah, sebelum berbuka puasa, ketika bersujud dalam shalat apapun, dsb. Minta oleh Allah agar diberikan pahala Laylatul Qadr, bisa dengan lafaz “Allahumma ballighnii ajra laylatal qadr.

4- Perbanyak ‘kunjungan’ ke Masjid, tentu saja untuk beribadah. Karena hawa ‘imani’ jauh lebih terjaga di Masjid yang merupakan rumah Allah di dunia.

5- Beri’tikaf. I’tikaf sendiri berarti ‘berdiam di Masjid’. Bukan berarti seperti patung, ya, maksudnya adalah stay di Masjid. Peraturan sebenarnya adalah, ketika beri’tikaf, kita tidak keluar dari Masjid kecuali keadaan mendesak, seperti ke kamar kecil. I’tikaf itu 24 jam, lho, namun kalau kita tidak bisa, maka tidak apa-apa beberapa jam saja, baik pada siang maupun malam hari, asal niatnya untuk luzum al-masjid, atau beri’tikaf itu sendiri.

Silahkan kunjungi link di bawah ini untuk mengetahui lebih jauh tentang i’tikaf

http://rumaysho.com/amalan/batasan-waktu-minimal-itikaf-2737.html

http://rumaysho.com/amalan/i-tikaf-di-malam-hari-siangnya-kerja-3509.html

Nah, ketika beri’tikaf, usahakan jauhi pembicaraan-pembicaraan duniawi, ya, seperti ngobrolin tentang baju lebaran, lah, pulang kampung, lah. Karena hal tersebut makruh atau dibenci, meskipun mungkin tidak terhitung dosa


Lalu, apa yang kita lakukan ketika kita benar-benar merasa menemui Laylatul Qadr?

Berdo’alah kawan-kawan! Ada do’a khususnya. Ketika A’isyah Radhiyallahu ‘anha bertanya pada Rasul tentang what to do saat Laylatul Qadr, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhnya untuk berdoa:

اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Ya Allah sesungguhnya engkau Maha Memaafkan, maka maafkanlah aku.” –Berulang kali, ya!

Lantas, kapankah Laylatul Qadr itu sendiri?

Ada banyak sekali hadits yang menjelaskan waktu spesifik Laylatul Qadr. Diantaranya:
1- Pada sepuluh malam terakhir
2-Pada malam ganjil
3-Tanggal-tanggal tertentu
Saya sengaja tidak menjabarkan semua dalil tersebut, karena Rasululah sendiri tidak benar-benar menentukan Laylatul Qadr selalu terjadi pada malam sekian. Namun, hadits-hadits yang rajih (teruji kebenarannya) memastikan Laylatul Qadr terjadi di 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Ya, pasti. Namun tanggal berapanya, Wallahu a’lam. Ada baiknya kita mengikuti hadits-hadits yang menyatakan bahwa Laylatul Qadr ada di malam-malam ganjil yakni 21, 23, dst. namun kita sebagai manusia biasa tidak bisa menebak rencana Allah, kan?
HIKMAHNYA
Allah ingin kita berusaha di setiap malam 10 hari terakhir tersebut agar kita tidak hanya mengkhususkan 1 malam… Allah kan cinta hamba-Nya yang senang beribadah. Lagipula, ini justru menguntungkan karena setiap pahala di Bulan Ramadhan pasti dilipatgandakan, adal ikhlas. This is chance, Muslims, come on!
Untuk referensi, saya melampirkan link ini, silahkan dibaca

Penghambat Meraih Pahala Laylatul Qadr

Ketehuilah, teman-teman pembaca, sebab terbesar yang menghalangi kita untuk meraih kemuliaan 1000 bulan ini adalah:
DOSA dan KEMAKSIATAN
dan penyebab awalnya adalah: an-nazhar, yakni pandangan.
Ayo kita lebih menjaga pandangan kita, para pengubah dunia, dari hal-hal yang diharamkan Allah, sebisa kita!

يئ

 Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ““Hati-hati kalian, jauhilah kalian dari dosa-dosa yang kamu anggap kecil, sebab dosa-dosa yang dianggap kecil itu akan menjadi berkumpul dan akhirnya membinasakan orang yang melakukannya”.

Ya Allah, Tuhan semesta alam, kami tidak mengharapkan apapun kecuali rahmat-Mu.

Ya Allah, pantaskanlah diri kami untuk rahmat-Mu yang agung itu…

Berkahilah kami dengan hidup beribadah, disetiap denting waktu yang kami tempuh…

Wahai Pemilik Kemuliaan, yang kepada-Nya-lah ditujukan segala pujian,

apabila ini Ramadhan terakhir kami, leburkanlah setiap dosa kami, angkatlah derajat kami di sisi-Mu, perkenankanlah seluruh amal ibadah kami yang tak seberapa… obatilah kerinduan kami akan surga-Mu, dan mudahkanlah jalannya… jemput kami ke sana tanpa hisab lagi adzab…

Wahai Penjawab Segala Permintaan, Penguasa para penguasa,

apabila ini Ramadhan terakhir kami, ubahlah takdir kami yang buruk seluruhnya menjadi yang baik… Takdirkanlah untuk kami dan orang-orang yang kami cintai untuk melihat wajah-Mu… Berikanlah kami kesempatan menginap di malam seribu bulan yang kau muliakan…

Amin, ya Rabb al-‘Alamiin…

 

 

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

2 thoughts on “Laylat el Qadr – The Night of Destiny

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s