Posted in My Lifetime History

Madinah: dari Lubuk Hatiku yang Paling Dalam

Bismillah. Shalawat dan Salam atas Rasulillah.

Meniti hari yang terus berlalu tanpa peduli. Aku akan meninggalkan Kafila dalam hitungan hari, Insya Allah. Sebelumnya, aku sudah bulat memilih Rekayasa Pertanian ITB sebagai jalan hidupku berikutnya. Namun keputusan masih di tangan Allah. Aku bisa jadi ditakdirkan untuk belajar di Fakultas Agronomi di universitas lain. Intinya, aku sudah bulat memilih pertanian. Cita-citaku adalah mengembangkan AgroKafila milik Abah Abdullah Mas’ud yang sudah lama tak terurus baik. Aku juga ingin memajukan usaha Ayah di kampong. Beliau belum lama memiliki kebun. Sudah merupakan tugasku untuk meneruskan kebun tersebut ketika waktunya tiba.

Meskipun,

Aku masih menaruh hati untuk terbang ke Saudi. Aku tidak menemukan universitas apapun di Indonesia yang benar-benar kondusif untuk penghafal al-Quran seperti-ku. Apakah perjuangan orangtua menyekolahkanku ke sekolah islam selama bertahun-tahun, membangun akhlakku, menambah ilmu akhiratku, harus berakhir begitu saja di universitas negeri yang penuh fitnah?

Bertahun-tahun aku terjebak di dunia spelling bee dengan segala pernak-perniknya: pesta, music, ikhtilath yang berlebihan, meskipun aku telah berusaha menghindar. Aku terlalu lelah dengan semua ini. Mimpi-mimpi duniawi yang harus kubayar dengan segenap waktu dan tenaga, harta dan airmata, berakhir dengan sakit di dada. Sejujurnya, hatiku tidak pernah nyaman menekuni dunia itu. Aku memang cinta bahasa asing dan mengeja. Tapi mengapa dunia menuntut ilmu ini harus tercampur aduk dengan kenistaan dan fitnah duniawi? Pada akhirnya, aku pun memutuskan untuk berlepas. Semua ini usai. Aku lelah lahir batin. Dalam hati, di balik senyumanku, piala-pialaku, aku menangis sedu. Mempertanyakan apakah ridha Allah berhak kudapatkan.

Maka aku pun kemudian berpikiran untuk memperbaiki diriku dengan bermimpi kuliah agriculture di Saudi. Aku bukan terpaksa bermimpi ke Saudi. Di Saudi, baik kuliah umum maupun agama, memang kuliah laki-laki dipisah dengan perempuan. Banyak majelis masyaayiikh. Lebih dekat dengan Haramain. Lebih-lebih, kuliah di sana sepenuhnya beasiswa, bahkan para mahasiswa diberi upah secara berkala.

Namun, sesungguhnya semua itu bukan tujuan utamaku setelah ridha Allah.

Sungguh telah tergores-gores hati kecilku ini setiap aku pulang ke Kepahiang, kampung kecilku di Bengkulu, yang bahkan tidak terdeteksi Google Earth.

Aku memang satu-satunya di keluarga besarku yang menuntut ilmu dan bertahan di pesantren. Namun, terkadang aku dianggap berbeda. Dahulu aku berpikiran bahwa, bagaimanpun caranya aku menjadi seorang santri yang tidak kolot seperti apa yang notabene mayarakat kira. Prototype yang paling mereka kenal mungkin seperti: bahwa santri yang pulang kampong akan menar-nari (baca: kena penyakit gatal-gatal), berpeci kemana-mana (Pak ustadz menadadak), dsb. Aku merasa sebagian mereka memandang sebelah mata status seorang santri.

Aku pernah ditanya, “Daffa mau meneruskan ke mana? Mesir?” seakan-akan orang-orang yang belajar agama hanya bisa sukses di bidang agama. Seakan-akan menjadi ustadz itu  dunia sendiri, menjadi pebisnis itu dunia sendiri, menjadi sesuatu yang lain itu dunia sendiri. Seakan-akan dunia dan akhirat terpisah. Seakan-akan orang-orang shalih hanya ada di masjid dan orang-orang yang di perkantoran adlah sebaliknya.

Sungguh, aku ingin sekali mengubah image mereka itu. Maka dengan bahasa Inggris dan biologi yang kupunya, aku ingin membuktikan bahwa seorang hafiz bisa sukses di kompetisi umum dan olimpiade. Aku ingin sekali menunjukkan bahwa aku santri yang tidak kolot. Dan memang santri itu sebenarnya tidak kolot. Santri justru lebih dari anak-anak lain di sekolah umum, karena santri belajar umum plus agama dan bisa sukses serta bersaing di dunia global.

Maka dari itu, aku pun membuang jauh-jauh impian menjadi syaikh/ustadz, belajar di mesir lah, Arab lah, dan berpikiran untuk lanjut ke Jepang, Singapura, atau Amerika. Untuk membuktikan.

Namun, seiring bertambah (berkurang) usiaku, semakin tahun aku pulang kampung, masyarakat ini benar-beanr membuatku tertampar. Aku sering sekali dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan yang bukan levelku.

“Daffa, apakah benar Yasinan itu tidak benar? Kalaupun itu salah dan kita meyakininya, apakah salah juga untuk tidak menghadiri acaranya? Kan mereka membaca Yasin, berpahala, da nada ustadz yang ceramah. Kalau kita tidak hadir, nanti dianngap individualis, ekstremis, dsb.”

“Daffa, bagaimana cara mendakwahi orang-orang di sekitar kita yang malas ibadah dan membudayakan bid’ah?”

Atau dengan kritikan-kritikan ketika aku menolak bersalaman dengan para sepupu, kabur saat perayaan acara pernikahan yang bermusik, tidak bisa tidak shalat berjamaah di masjid, dsb. Tapi, mereka tidak pernah terlalu peduli soal berapa banyak pialaku, berapa nilaiku. Mereka tidak pernah bertanya apa fungsi mitokondria, apa arti kata ini dan itu, bagaimana cara menggunakan mikroskop. Tidak.

Mereka justru, ketika Ramadhan, memintaku untuk mengisi ceramah. Untuk anak-anak mereka (dan bahkan yang dewasa) aku diminta mengajarkan al-Quran. Aku sering ditanyai apa doa ini doa itu, hukum ini hukum itu, aku pun menjadi mufti mendadak.

Ya. Akupun paham. Mereka lebih membutuhkan sosok yang menjadi tumpuan dan rujukan mereka dalam beragama. Aku pun menyadari bahwa sebenarnya, masyarakat itu tidak butuh ilmu bahasa, sains, dsb yang kuperjuangkan selama ini.

Maka aku pun kembali tertampar.

Satu-satunya jalan yang kupikirkan adalah terbang ke Saudi agar aku bisa menyeimbangkan keduanya: ilmu umum dan agama. Tapi tentu saja aku tidak akan dapat belajar agama maksimal karena aku hanya paling mengandalkan majelis-majelis ilmu dengan tema-tema tertentu. Aku jadi teringat sekelebat pertanyaan-pertanyaan orang-orang di kampung yang kontemporer dan mendetail, tentu saja aku tidak bisa ragu menjawabnya, kan? Apalagi yang berkaitan dengan hukum-hukum yang diperdebatkan para ulama.

Maka hati kecilku yang paling dalam pun membisikiku kepada Universitas Islam Madinah  yang pure agama, di negeri haramain pula. Negeri yang aman dan terjamin. Negeri yang penuh berkah dan majelis ilmu. Kemudian, aku dapat pulang ke masyarakat untuk membagikan ilmu itu, dalam satu hari menghidupkan satu sunnah dan mematikan satu bid’ah. Karena memang sosok itulah yang mereka lebih butuhkan.

Betapa banyak anak-anak dan remaja yang tidak dapat berkesempatan mengenyam pendidikan di sekolah islam berkualitas yang notabene-nya sangat mahal. Apakah risalah Tuhan ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang kaya? Mereka, generasi muda yang haus ilmu itu hanya dapat mengandalkan majelis-majelis ilmu mingguan di masjid, ROHIS, atau lewat informasi yang sangat terbatas sekali, apalagi di kampung. Mereka lebih membutuhakn sosok yang dapat menluruskan jalan mereka meraih ridha Allah.

Namun, takdir berkata lain. Allah memilihku untuk berlanjut ke ITB terlebih dahulu. Bahkan dengan mudah, Ia memberiku jalur tanpa tes.

Ya Allah, Yang Mahamembolak-balikkan hati, kuatkanlah aku atas agama-Mu. Berikan aku jalan yang terbaik.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

3 thoughts on “Madinah: dari Lubuk Hatiku yang Paling Dalam

    1. Wa iyyakum ustadz… mohon doanya dan pengarahannya selalu, karena remaja spt Daffa kerap diliputi fitnah syubuhat dan syahawat. Semoga kami, Daffa dan teman2 angkatan 5 dapat terus kompak dan terjaga dari fitnah dunia akhirat.

      Ahabbaka alladzi ahbabtani lahu

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s