Posted in ITB, My Lifetime History

My First ITB Story: It Doesn’t Change Me (2 – part one)

Bismillah. Ash-shalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah.

Sungguh singkat kehidupan di dunia ini. Apalagi ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah divonis hanya berusia 60-70.

Orang-orang yang selamat hanyalah yang dikehendaki Allah. Namun, Ia subhanahu wa ta’aala telah memberikan tanda-tanda orang-orang yang dijanjikan masuk surga itu. Kalau teman-teman pembaca membaca terjemahan al-Quran (syukur-syukur paham tanpa terjemahan), pasti akan menemukan setiap ayat yang menceritakan tentang golongan yang selamat ke surga adalah yang beriman DAN beramal shalih (sepengetahuanku). Bukan beriman doang. Islam KTP. Lebih-lebih yang bertaqwa. Ini kusertakan beberapa referensi ayat:

  1. Al Baqarah 82 : Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.
  1. An Nisaa 122 : Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ?
  2. Al A’raaf 42 : dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.
  3. Yunus 9 : Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam syurga yang penuh keni`matan.
  4. Huud 23 : Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni syurga; mereka kekal di dalamnya.
  5. Ibrahim 23 : Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam syurga itu ialah “salaam”
  6. Al Kahfi 107 : Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal
  7. Maryam 60 : kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun
  8. Al Hajj 14 : Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
  9. Al Ankabuut 7 : Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.

Ketahuilah, kompetisi manusia yang sebenarnya adalah kompetisi menuju surga Allah subhanahu wa ta’ala. Semua yang kita impi-impikan, bangga-banggakan di dunia ini akan sirna kecuali apa yang diridhai Allah. Ia akan menjadi amal shalih yang menemani kita di alam kubur.

Mungkin, karena ini masih pojok tentang cerita pertamaku di ITB, aku tidak menceritakan secara detail tentang surga-neraka dan pengetahuan agama. Ada hal terkait yang ingin sekali kusampaikan, di atas segala kebahagiaan diterima di ITB ini.

Ini tentang orangtua. Ayah dan Ibu kita. Alhamdulillah, punyaku masih lengkap. Masih diberi kesempatan untuk beramal, bertaubat, dan membesarkan serta melihat perkembanganku. Untukkulah mereka berjuang. Mungkin dahulu nenek dan kakek tidak memperhatikan mereka sebagaimana yang mereka butuh. Sekarang aku menjadi ‘akibat’ kasih sayangnya. All the way mereka usahakan agar aku bisa menjadi orang besar yang bermanfaat bagi banyak orang. Alhamdulillah, pengumuman diterimanya aku di ITB kurasa dapat sedikit mengobati luka di hati-hati mereka tentang riwayat-riwayat burukku sebelumnya. Aku tidak ingin merepotkan mereka meskipun pada akhirnya aku selalu merepotkan mereka.

ITB Jatinangor, Sumedang

ITB, dan sepertinya semua PTN, menjadwalkan daftar ulang para calon mahasiswa baru (camaba) pada hari yang bertepatan dengan SBMPTN agar tidak ada yang mencoba kedua jalur tersebut bersamaan. Maka pada 30 Mei, aku ditemani Ayah menuju kampus ITB Jatinangor di Sumedang untuk menunaikan proses pendaftaran ulang pada keesokan harinya.

Sebelumnya, aku mohon maaf sekali karena tidak mengambil gambar apapun saat berada di sana. Kuharap cerita ini mewakili.

Saat sampai di Jatinangor, aku dan Ayah mencoba mencari tempat di beberapa penginapan. Mungkin sekitar 5 tempat yang telah kami datangi dan semuanya PENUH. Alhamdulillah ada seorang kenalan kami yang berkuliah di UNPAD dan membantu kami menemukan rumah yang menyediakan kos-kosan harian. Kami pun bermalam di sana setelah sedikit menikmati Janitangor di malam hari.

Pertama kali aku masuk kampus ITB Jatinangor aku langsung terpukau. Masya Allah. Seperti berada di dunia impian. Tanah hijau terhampar luas dengan gedung-gedung elegan, mengingatkanku pada NTU yang pernah kukunjungi dua tahun silam.

Kampus ITB Jatinangor ternyata sangat dekat dengan kampus UNPAD Jatinangor. Hanya sepelemparan batu, bahasa puitisnya. Lingkungannya sangat asri dan rapi, sederhana namun megah, bagaikan laboratorium alam raksasa. Alagkah bahagia aku mengetahui bahwa kampus inilah yang akan menjadi peraduanku menuntut ilmu pada tahun kedua hingga selesai, Insya Allah. Hanya beberapa jurusan pada fakultas-fakultas tertentu yang ditempatkan di kampus Jatinangor, termasuk SITH Rekayasa Pertanian karena orang-orang Rekayasa Pertanian membutuhkan lahan yang luas untuk bereksperimen dan berkarya.

Pada hari itu, sejarah mencatat pertama kali Kampus Jatinangor didatangi 2000-an anak-anak berseragam putih abu-abu yang sangat energik dan bersemangat. Merekalah anak-anak SMA baru-lulus yang diterima di ITB jalur SNMPTN. Biasanya, agenda daftar ulang diselenggarakan di Kampus ITB Ganesha di Bandung. Kampus ITB Jatinangor ini baru berdiri 6 tahun. Diselenggarakannya agenda daftar ulang di sini mungkin bertujuan untuk memperkenalkan kampus baru tersebut.

Untuk kedua kalinya aku menjadi bagian dari institusi negeri, setelah empat tahun awal di sekolah dasar. Aku kembali mencicipi berbaur dengan lawan jenis yang sebagian tidak menutup aurat, anak-anak yang menganut agama-agama yang berbeda, bahkan sekarang lintas daerah. Fitnah, ujian kehidupan yang sebenarnya, baru saja akan dimulai.

Aku tetap menjadi seseorang yang berusaha menjaga ciri khas kesantrian dengan peci. Ya, penutup kepala itulah yang menjadikanku paling berbeda. Aku tidak menemukan seorang lain yang sepertiku kecuali satu orang dan ia bukan di jurusanku. Aku hanya dapat berdoa semoga Allah melindunginya dan menjaga prinsipnya, seandainya baik dan benar.

Menerobos lautan putih abu-abu itu, aku menemukan mereka berkelompok-kelompok. Mungkin dengen inisiatif sendiri. Aku melihat tulisan terpampang “FMIPA”
“FTMD” “FTSL”, dsb. yang mengelompokkan anak-anak dengan fakultas yang sama. Aku mencoba menemukan “SITH” meskipun tak kesampaian.

Di sisi lain, aku mendapati segerombol puluhan atau ratusan yang lain ber-wefie (selfie berjamaah) begitu sukacita. Laki-laki perempuan, Islam dan agama-agama lain, Chinese maupun ras pribumi, semua bercampur menyemarakkan Bhinneka Tunggal Ika. Seorang Muslim yang baik dan mengerti harusnya beristighfar melihat kondisi ini. Beginilah dunia sekarang, kenyataan yang kita saksikan. Teringat sejarah zaman Nabi di mana para perempuan menjaga kehormatan dengan rasa malu, laki-laki bersikap sopan dan menjaga pandangan.Ya Allah, berilah kami hidayah-Mu.

Kami pun pada akhirnya dibariskan dengan barisan yang sangat penjang, mengantri untuk bisa masuk pintu awal proses mendaftar ulang. Aku jadi terbayang suasana di Padang Mahsyar ketika semua manusia, dari zaman awal hingga akhir, dikumpulkan jadi satu untuk menunggu ketetapan Allah. Matahari hanya sejengkal di atas kepala dan hanya 7 golongan yang selamat ternaungi. Salah satunya adalah pemuda yang hatinya terpaut pada masjid.

Beberapa menit kemudian, aku pun berhasil masuk, lalu melanjutkan proses yang ada. Kami kembali dikelompokkan dan diarahkan ke ruang masing-masing untuk memvalidasi dokumen-dokumen yang telah kami persiapkan untuk daftar ulang. Alhamdulillah, Allah memudahkan proses validasi-ku, hingga proses foto untuk kartu mahasiswa, lalu usai. Aku termasuk mereka yang paling awal menyelesaikan proses sekali-seumur-hidup ini. Sekitar pukul setengah sebelas, ketika anak-anak lain sibuk mengantri, aku dan Ayah ‘sibuk’ membeli merchandise. Aku sendiri membeli jaket tosca tebal dan kaos tangan panjang ITB karena Bandung dingin. Aku juga membeli stiker SITH yang kutempel di notebook. Setelah rampung, kami pun kembali ke penginapan.

Siang harinya aku dan Ayah bergegas menuju Kota Bandung karena Psikotes camaba ITB akan dilaksanakan di Kampus ITB di Ganesha, Bandung. Alhamdulillah ada omku yang siap membantu kami di sana, mulai dari penginapan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

(BERSAMBUNG KE PART TWO)

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s