Posted in ITB, My Lifetime History

My First ITB Story: It Doesn’t Change Me (2 – part two)

ITB Ganesha, Bandung

Pada 1 Juni, aku pun diantar om-ku menggunakan motor ke ITB. Kami pun bergegas menuju Gedung Kemahasiswaan Umum (GKU) Timur karena ruangan psikotesku ada di lantai tiga gedung itu. Kami harus sudah tiba saat pukul setengah tujuh pagi dan itu terlalu pagi hingga aku tak sempat sarapan. Padahal, kata Pak Pengawas psikotes di ruanganku, kuci sukses menjalani psikotes adalah bukan dengan latihan soal namun dengan tidur malam yang cukup dan sarapan, dan aku justru melanggar salah satu anjuran tersebut.

Aku dan sebagian anak-anak SITH Rekayasa yang lain ‘dikurung’ di ruang no. 9221. Kami tidak bisa keluar dari ruangan tersebut sejak psikotes dimulai pada sekitar pukul tujuh pagi dan usai pada sekitar pukul setengah satu siang kecuali beberapa menit saja. Mengapa ‘dikurung’? Istilah yang cocok menurutku karena psikotes camaba ITB cukup membuat otak keriting, bahasa formalnya: ‘terasah’. Mungkin di postingan lain aku akan menceritakan apa saja secara umum yang diujikan di psikotes camaba ITB, namun tidak sekarang.

Setelah psikotes usai, aku shalat Zuhur di Masjid Salman yang sangat fenomenal. Salman ternyata berada di luar lingkungan kampus. Suasananya cukup nyaman dengan lantai terbuat dari kayu (apa, teh, namanya). Dan, ya, nyaman saja, menurutku. Usai shalat aku pun makan soto di dekat Salman.

Hanya itu sebenarnya kisahku di hari-hari pertamaku di ITB yang menarik untuk diceritakan.

Mungkin ada satu hal lagi, yakni teman-teman baru. Aku cukup senang karena bertemu teman-teman yang pernah kutemui di beberapa olimpiade/lomba. Ada bahkan yang sudah mengenalku dan aku belum mengenalnya atau lupa. Ada juga anak-anak lain (terutama anak-anak SITH) yang mengajak berkenalan. Entahlah, aku merasa banyak sekali orang Minang di sini, atau mungkin hanya kebetulan aku mendengar orang berbahasa Minang di banyak tempat? Ada juga momen lucu ketika aku mendengar orang bermuka Cina yang berbahasa Sunda. Unik, tidak biasa. Dan dengar-dengar, sekolah yang para siswanya mendominasi camaba ITB jalur SNMPTN adalah BPK Penabur Bandung. Semoga Allah memberikan pertolongan-Nya pada kaum Muslimin, khususnya yang berada di sekolah Islam.

Lepas dari ITB, aku dan om-ku menyurvei asrama Kidang Pananjung-nya ITB. Aku berencana untuk tinggal di sana. Selain dekat dengan Masjid dan banyak sarana kebutuhan lainnya yang affordable, aku juga mengincar sisi sosial. Aku ingin merasakan atmosfer belajar bersama, kerja bakti bersama, senang bersama, dan susah bersama. Di asrama ITB dahulu hanya diperuntukkan bagi anak-anak Bidik Misi (penerima beasiswa 100%), namun sekarang yang non-BM juga bisa mendaftar. Asramanya memang tidak berstandar ISO dan berfasilitas wow. Lagipula aku tidak butuh kemewahan. Hingar-bingar asrama merupakan kemewahan tersendiri bagiku, seorang perindu suasana pesantren.

Hmmm.

Lalu, apa hubungannya dengan apa yang kutulis di awal artikel ini?

Mari sejenak kita renungkan,

Orangtua kita, sudah berapakah usianya? Masih kepala tiga, kepala empat, atau sudah kepala lima ke atas? Tidak ada yang tahu kapan batas akhirnya selain Allah. Bahkan diriku sendiri yang masih U-20, apakah patut merasa ‘masih muda?’

Kita terlahir ke dunia, lalu tumbuh besar begitu saja. Masuk sekolah dasar, bermimpi menjadi dokter, polisi, tentara.

Masuk sekolah menengah, mulai mengenal tugas-tugas yang memberatkan, mulai berharap dapat nilai bagus di rapor, berharap masuk sekolah/universitas favorit. Ikut organisasi ini, kompetisi itu, berharap sertifikatnya dapat membantu.

Masuk kuliah, jalur apapun itu. Tugas-tugas, laporan-laporan, mendapatkan IP tak sesuai keinginan, begadang hingga subuh, semua dilewati demi sebuah gelar. Tiga, empat, lima tahun, jadilah sarjana. Ada yang bekerja, ada yang menikah, ada yang melanjutkan S2.

Tak terasa sudah kepala tiga. Mulai menjalani rutinitas bekerja. Tanpa sadar melakukan hal-hal yang sama; shalat subuh, ke kantor, mengetik ini, mengatur itu, makan siang, rapat, pulang sore, istirahat. Begitu terus, hingga menua.

Padahal diri berharap surga.

Lantas baru tersadar ketika masa sudah senja. Berkata, demi Allah seandainya aku kembali muda aku akan lebih banyak berpuasa sunnah, menambah rakaat shalat malam, mengkaji lebih banyak buku.

Nasi telah menjadi bubur. Susu telah tumpah ke tanah. Takkan kembali lagi.

Setelah itu, kita kembali ke tanah. Ya, tanah. Mungkin diingat orang banyak namun belum tentu mengingat diri sendiri. Kita menjadi tak ubahnya seonggok jasad tanpa roh. Tinggal di pekuburan hingga hari kebangkitan.

Mungkin orangtua kita yang akan merasakan kematian mendahului kita, seperti pada kebanyakan kasus. Ya, seseorang terlahir, hidup, sukses atau gagal, menua, lalu mati/ Ya, sudah. Lalu buat apa hidup kalau nanti toh kita akan mati?

Wahai teman-temanku, sudahkah kita membaca QS. Al-Mulk ayat 2?

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,

Allah melihat pada apa saja yang telah kita usahakan di dunia. Ia melihat amalan-amalan kita. Meskipun pada akhirnya kita masuk surga karena rahmat Allah, apakah kita bisa meyakinkan diri meraih rahmat itu tanpa bekal amal yang cukup?

Padahal shalat kita tidak khusyu, shalat sunnah ogah-ogahan. Infaq kita masih tawar-tawar. Dzikir menyebut Allah jarang. Lantas dosa malah lancar dikerjakan. Pintu surga mana yang mau menerima kita?

Hanya Hamba Allah yang beriman dan beramal shalih yang terjamin. Baiklah, amalan shalih kita sudah banyak, tapi apakah diterima? Apakah murni ikhlas? Apakah ingin dilihat, dipuji, atau dibicarakan? Astaghfirullah al-Adzhiim!

Sungguh aku sebenarnya menampar diriku sendiri.

Sungguh hina aku menghafal al-Quran bila hanya untuk dibilang hafiz.

Sungguh hina aku pergi haji bila hanya untuk dipanggil haji.

Sungguh hina aku menuntut ilmu tinggi-tinggi hanya untuk meremehkan yang tak berpedidikan, tidak hormat kepada guru.

Dimanakah derajatku, dan kita semua, di hadapan para sahabat Nabi? Bagaimana jadinya kita dihadapan Allah kelak untuk mempertanggungjawabkan semua kenikmatan ini? Baiklah, aku telah diterima di SITH Rekayasa, apakah pantas aku berbangga, tinggi hati? Untuk apa aku berkuliah? Allah akan mempertanyakannya.

Boleh jadi orangtua kita yang akan Allah jemput terlebih dahulu. Sesungguhnya amalan mereka akan terputus. Namun Allah menjamin doa anak shalih akan terus menambah kebaikan mereka meskipun mereka telah tiada.

3 Amal yang Pahalanya Tidak Terputus.jpg

Ya, doa anak shalih, bukan doa seorang insinyur.

Bukan doa seorang dokter spesialis.

Bukan doa seorang menteri.

Sesukses apapun kita di dunia, tak berarti apa-apa kita di akherat yang nyata. Tak berguna apa-apa kita bagi orangtua yang telah tiada. Justru ketidak shalihan  akan menambah beban pertanggungjawaban orangtua kita nun jauh di sana. Astaghfirullah al-Adzhiim…

Ya Allah, luruskanlah niatku, lindungilah aku dari fitnah dunia yang menyibukkanku dari mengingat-Mu dan menjaga kitab-Mu.

Kuharap gemerlap dunia ini tidak menyilaukanku. Kuharap kesemuan ini tidak menjerumuskanku. Betapa hina aku! Hanya karena ITB aku berubah menjadi pecinta dunia yang takut mati! A’udzu billah min dzalik! Sungguh aku berharap keistiqamahan. Semoga teman berkenan mendoakan. Ayo kita saling mendoakan. Semoga teman-teman seiman dan seperjuangan tetap dapat menempuh jalan yang lurus menuju surga Allah yang di dalamnya terdapat segala hal yang hawa nafsu kita inginkan.

Cukuplah ITB sebagai fitnah dunia yang harus kutempuh, aku tidak berharap banyak. Kalaupun harus mencintai dunia, kuharap semua itu mubah. Sungguh aku berharap berumur panjang dalam ketaatan dan mati dalam keadaan husnul khatimah. Semoga Allah menambah pahala bagi penulis dan pembaca artikel ini dan menjadi pengingat yang bijaksana untuk meniti masa sekarang, sebab…

Memikirkan masa lalu menghabiskan waktu,

Memikirkan masa depan menjadikan khawatir tan menentu

Semoga kita dapat memanfaatkan masa sekarang ini dengan sebaik-baiknya…

Bukanlah orang tercerdas yang berpredikat summa cum laude di perkuliahan, bukan pula yang paling banyak medali emasnya, namun ialah orang yang paling mengingat kematian. Kata Rasul Shallallahu alaihi Wasallam:

alkayyis

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal (bersiap) untuk menghadapi apa yang ada setelah kematian.”

SELESAI

 

 

 

 

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

2 thoughts on “My First ITB Story: It Doesn’t Change Me (2 – part two)

  1. Barakallahu fiik..
    Semoga kita semua tetap istiqomah di jalan Allah dan meraih ridha-Nya.
    Tulisan yg bermanfaat, Terima kasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s