Posted in ITB, My Lifetime History

My First ITB Story: It’s A Fate (1)

Bismillah. Ashshalaatu wassalaamu alaa Rasuulillaah.

Waktu cepat sekali bergulir. Masa-masa berat di SMA terobati dengan usainya Ujian Nasional pada pertengahan April. Serasa bebas sekali. Aku telah berusaha semampuku, meskipun belum maksimal, mempersiapkan UNBK 2016. Meskipun di satu sisi, aku agak asing dengan ujian berbasis komputer soalnya aku tidak bisa corat-coret di lembar soal. Enam hari ujian nasional terasa begitu cepat dan tenang. Tidak ada kekhawatiran untuk tidak mendapatkan perfect score sebagaimana ketika di SD dan SMP. Setiap anak SMA mungkin berpikiran, I just want to finish it very soon.

Beban untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi tampak masih begitu jauh dari pelupuk mata. Padahal, perjuangannya tentu lebih berat. Soal-soal yang diujikan di SBMPTN bisa dibilang tiga kali lipat UN, secara umum. Dan aku heran saja mengapa kami, para fresh-graduate SMA harus tetap bisa semuanya. Kasihan yang memilih kedokteran harus juga belajar fisika. Kasihan yang memilih teknik harus kembali membagi waktu untuk biologi. Ilmu-ilmu yang bahkan takkan mereka sentuh selama perkuliahan nanti. Aku punya adik kelas yang pernah sekolah di Australia dan ketika kutanya pelajaran favoritnya, ia jawab ‘berkayu’. Jadi ya kerjaannya semacam membuat furniture atau apapun itu, sesuai kreativitas, dari kayu. Ketika anak-anak di Indonesia harus terbebani dengan belasan mata pelajaran, mereka di sana hanya dibebani sekitar 5-6 pelajaran saja. Adik kelasku itu bahkan tidak mencicipi biologi kala itu karena ia memang tidak memilihnya. Sayang sekali, ketika pindah ke Jakarta, biologi menjadi mimpi buruk baginya, mungkin.

Terbebas dari ruang kelas formal, peraturan ini-itu di sekolah, membuatku dapat bernapas lebih leluasa. Masa-masa di bimbel kujalani dengan relaks sekali. Tempo belajar di bimbel membuatku mengelus dada bahwa satu-satunya gambaran terjelas yang ada di benakku adalah: gap year. Ya, mengambil waktu jeda. Aku masih 16 tahun sekian waktu itu, masih ada kesempatan di tahun berikutnya untuk fight menuju universitas. Semua ini terasa terlalu berat, terlalu cepat. Aku bukan seorang yang brilian di SMA. Aku cenderung lebih sibuk di organisasi dan kompetisi ketimbang akademik. Habis, kondisinya begitu rumit. Sudahlah, itu semua telah terjadi dan takkan kembali.

Aku hanya bisa berdoa dan meminta keputusan dari yang kepasa-Nya dikembalikan segala urusan.

Berbulan-bulan, khususnya setelah aku mendaftar SNMPTN di SITH Rekayasa ITB, aku melatenkan shalat istikharah. Setiap hari. Aku minta sama Allah apabila diterima di SITH-R jalur undangan ini adalah yang terbaik maka berikanlah dan mudahkanlah. Apabila yang sebaliknya, maka jauhkanlah dan persusahlah.

Aku juga mencoba untuk memperbanyak amal shalih, terutama berinfaq. Namun, di atas segala ambisi untuk masuk ke top universitas itu, aku lebih berharap agar Allah dapat membersihkan jiwa dan amal-amalku. Betapa hebat pengaruh infaq ini kawan. Aku pernah memberikan Rp. 50K  secara diam-diam dengan menyembunyikannya dibalik uang kecil. Setelah memberikannya, aku langsung berlari kencang. Boleh jadi ia yang mendoakanku agar aku mendapatkan kemudahan menjalani segala urusan. Aku juga berusaha untuk konsisten memberikan lauk pada pagi hari pada teman-temanku yang sedang sarapan di pesantren. Juga pada anak kecil dan ibu-ibu yang mengemis di dekat masjid pada hari Jum’at, meskipun tidak selalu. Aku tidak bermaksud untuk riya tapi percayalah, infaq ini adalah jalan yang harus ditempuh orang-orang yang ingin sukses dunia dan akhirat. Berinfaq dalam keadaan lapang maupun sempit adalah salah satu ciri orang bertaqwa yang bisa kita usahakan dengan maksimal. Allah berfirman di surah Ali Imran:

Surat Ali Imran Ayat 133

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Surat Ali Imran Ayat 134

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

…dan orang bertaqwa itu diberikan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka dan diberi kemudahan (lihat QS: Ath-Thalaaq: 2-4).

Well, Allah kemudian mengujiku dengan hasil UN yang pas-pasan. Aku mencoba tersenyum mengetahui hasil UN-ku yang sangat jatuh. Saat menelepon orangtua di Bengkulu, aku meminta maaf dan merasa bersalah sekali. Meskipun pada akhirnya orangtua dapat menerima dan justru menyemangatiku. UN memang hanya berguna untuk mendapatkan ijazah, dan ijazah SMA hanya digunakan bagi orang-orang yang tidak kuliah.

“Yang penting saat kuliah nanti lebih serius diperbaiki nilainya,” ujar ibuku.

Aku menyadari bahwa inilah kenyataan pahit yang harus kuterima. Aku tidak mungkin masuk ITB jalur undangan. Setelah itu, aku mulai aktif mencari jurusan di universitas-universitas lain yang grade-nya lebih rendah sebagai alternatif di SBMPTN tertulis karena di tryout SBMPTN pun skorku belum cukup untuk tembus ke SITH Rekayasa ITB.

Namun aku masih tetap beristikharah dan mengandalkan infaq. Hitung-hitung jadi bekal di akhirat. Namun, aku sangat menghindari nadzar karena orang yang bernadzar hanya akan melakukan suatu amalan shalih tertentu jika Allah Ta’ala memberikan SESUAI apa yang ia kehendaki, maka ketika hal itu tidak terwujud SESUAI apa yang ia kehendaki, ia tidak jadi beramal shalih (Terkait masalah ini teman-teman bisa searching dalil di internet atau silahkan cek di sini bahwa nadzar itu sebenarnya makruh. Wallahu a’lam). Padahal, sebagai seorang mu’min, seyogyanya kita beramal shalih pada kondisi apapun, bukan?

Sampai tiba suatu siang, saat aku benar-benar jenuh tentang urusan perkuliahan ini. Aku pun merogoh notebook pinjaman pesantren untuk menulis sebuah artikel, yakni artikel ini. Aku ingin mencurahkan perasaanku bahwa aku benar-benar bingung karena aku juga menaruh hati untuk mendalami ilmu agama di Saudi.

Namun siang itu, sebelum aku sempat menyelesaikan artikel tersebut, tiba-tiba aku diberi ucapan selamat dari seorang ustadz yang telah mengecek hasil SNMPTN yang dipercepat dan di sana ada namaku.

“Selamat ya, SITH ITB.”

“Apa?”

Aku pun terkejut tidak percaya setelah melihat namaku terpampang sebagai calon mahasiswa baru yang diterima di ITB tanpa tes. (Sayang sekali aku tidak menyimpan screenshot-nya di sini). Allah ingin aku kembali merengek pada-Nya. Bukan untuk berdoa lagi, tapi untuk sujud syukur, mengakui keagungan-Nya. Sangat mudah Allah mengabulkan permintaan seorang hamba.

Aku pun segera menyelesaikan artikel tersebut dengan hasil yang beru saja kuterima.

“…Namun Allah memilihku untuk berlanjut ke ITB terlebih dahulu. Bahkan dengan mudah, Ia memberiku jalur tanpa tes.”

(Bersambung, Insya Allah)

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

2 thoughts on “My First ITB Story: It’s A Fate (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s