Posted in My Dakwah Adventure, My Lifetime History

My Dakwah Adventure: Kids, There’s Always a Hope (Part One)

Bismillahirrahmanirrahim. Ash shalatu was salamu ‘ala Rasulil kariim.

Alhamdulillah. Salah satu kesyukuranku menjadi santri Kafila International Islamic School adalah kegiatan-kegiatannya. Kami, para santri angkatan V, meskipun telah diwisuda, tetap memiliki kewajiban lain guna mendapatkan ijazah resmi. Kewajiban tersebut adalah menjalankan “Praktek Dakwah dan Pengembangan Ummat” (PDPU). Sudah merupakan budaya sejak angkatan pertama kami, para santri yang akan segera menjadi alumni diwajibkan untuk mengikuti program ini selama satu bulan, khususnya pada bulan Ramadhan. Karena kami, angkatan V, sudah menjalankan satu minggu awal PDPU pada saat liburan semester 1, maka pada Ramadhan 1437 kali ini kami hanya wajib menjalaninya selama 3 minggu.

Para santri calon alumni disebar ke daerah-daerah yang ditentukan oleh ma’had. Meskipun terkadang ada rekomendasi-rekomendasi dari para santri atau walisantri sendiri, keputusan penempatan PDPU ditetapkan oleh ma’had. Kegiatan-kegiatan dakwah selama PDPU, bagi kami yang tentunya masih pemula, biasanya hanya menjadi imam shalat, pengisi kultum, dan pengajar TPA, khususnya anak-anak. Intinya, memakmurkan masjid. Kami juga disarankan untuk berbaur dengan masyarakat setempat, seperti pada kegiatan-kegiatan kemanusiaan misal kerja bakti.

Pada satu minggu pertama, kami ditugaskan di daerah masing-masing. Aku magang di sekolah kedua adik perempuanku yakni SDIT Cahaya Robbani Kepahiang, Bengkulu. Di sana, aku menjadi pembimbing tahsin tahfidz selama kurang lebih dua minggu. Kelas yang kuampu adalah kelas 5 SD, ada dua lokal. Adik pertamaku, Syifa, termasuk para siswa yang masuk ke kelas yang kuampu.

Pengalamanku di sekolah Syifa hanya akan kuceritakan secara umum pada tulisan kali ini, sebab tulisan ini sekalian kujadikan bahan laporanku untuk PDPU pada bulan Ramadhan saja.

Jadi, menjadi seorang guru itu tidak mudah. Apalagi harus menghadapi anak-anak SD. Aku beberapa kali menulis status di FB dan meminta pendapat orang-orang tentang banyak hal, terutama tentang mengatasi anak-anak yang “sangat aktif” ini.

Selain tahsin tahfidz, aku juga diminta untuk megajar Pendidikan Agama Islam (PAI), meskipun terkadang mendadak dan aku belum persiapan. Bahkan aku juga diminta mengajar pelajaran umum seperti IPA, meskipun tawaran tersebut kutolak karena jam mengajarku sudah terlalu banyak.

Jadi, metode yang selalu kugunakan pada pelajaran tahsin tahfidz ini adalah ‘talqin’. Aku membacakan satu ayat yang kemudian diikuti oleh semua anak di kelas. Kebanyakan anak kecil yang berhasil menghafal al-Quran di usia dini juga karena diterapkannya metode ini kepada mereka, tentu saja setelah kemurahan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang Ia pilih untuk menjaga kitab-Nya sejak kecil.

Aku bukan tipe orang yang kuat berbicara, tenggorokanku mudah lelah. Jadi, menjadi guru tahsin tahfidz ini buatku benar-benar menguras energi. Kadang, kalau sudah terlampau lelah, aku menumpang tidur di loker anak-anak. Secara fisik, aku dituntut untuk berteriak-teriak, menerangkan ini-itu, mobilisasi menertibkan anak-anak yang “sangat aktif”.

Baru beberapa hari menjadi ustadz di sekolah itu, aku hampir menyerah. Namun karena hanya dua minggu pengabdian, aku mencoba menjalani hari-hari yang melelahkan tersebut sebagaimana mestinya. Beberapa anak dapat mencapai target yang dicanangkan, Alhamdulillah. Sebenarnya, mengajar anak-anak adalah passion-ku, karena aku senang anak-anak (bukan pedofilik, oke! Itu terlalu berlebihan dan berbeda orientasi). Anak-anak itu, bagiku, putih. Sangat mudah untuk mewarnainya dengan warna-warna kebaikan, karena memang mereka sebenarnya terlahir dalam keadaan fitrah.

Anak-anak itu polos, betapapun “aktif”-nya dia hingga membuat guru-gurunya jengkel, aku dapat melihat binar yang tak biasa dari mata-mata mereka. Di sana ada mimpi, masa depan. Merekalah yang akan berjaya setelah masa orang-orang kelahiran abad 20. Aku sangat bersemangat untuk membagi apa yang kutahu kepada anak-anak, terutama bagi mereka yang memang haus ilmu pengetahuan, khususnya tentang al-Quran dan Islam. Aku sangat termotivasi oleh hadits

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.”

Meskipun kadang persoalan fisik dan kepenatan terkadang membatasi semangatku itu, hati kecilku belum berubah. Aku masih menyukai anak-anak dan mengajari mereka kebaikan.

Anak-anak mengingatkanku pada masa lalu yang takkan kembali. Masa lalu yang sangat indah, tanpa masalah. Aku yang sudah tua ini mereka ingatkan bahwa sebuah masalah itu tidak harus menjadi sebuah beban hidup. Begitulah.

Ada beberapa anak di SDIT Cahaya Robbani yang tidak bisa kulupakan karena kelebihan mereka.

Pertama, Fambaul Fadhilah. Panggilannya Uul. Ia berasal dari keluarga tidak mampu. Ayahnya menggarap kebun (atau mungkin sawah) dengan penghasilan yang tidak tetap. Ibunya setahuku hanya seorang ibu rumah tangga. Atau mungkin saja ia membantu-bantu di rumah orang berpunya. Nah, karena tidak banyak beraktivitas, ibu Uul lantas mendidik anaknya di rumah. Entahlah, aku tidak mengerti pendidikan akademis ibunya, namun hari-hari Uul di rumahnya sangat terkontrol oleh sang Ibu. Di kelasnya, Uul tak pernah absen menjadi juara kelas. Hafalan al-Qurannya jauh dia atas teman-temannya. Beberapa kakak kelasnya di kelas 6 telah hafal juz 29 dan 30. Adikku saja belum sampai satu setengah juz. Rata-rata anak kelas lima seperti adikku. Tapi Uul, ia telah menuntaskan 3 juz belakang, 28-30, tersertifikasi. Masya Allah tabarakallah.

Orangtuanya sempat meminta bantuan padaku agar mencarikan informasi tentang pesantren yang dapat membantu Uul untuk terus berkembang (sayang sekali Kafila saat ini hanya untuk laki-laki). Aku menyadari kalau ia terus menerus di Kepahiang, potensinya akan stuck padahal ia bisa menjadi jauh lebih hebat dari itu, Insya Allah. Uul bercita-cita menjadi Ustadzah. Doakan saja semoga Allah menakdirkan yang terbaik untuknya. Semoga Uul juga menjadi penggerak ummat ini agar kembali pada al-Quran dan as-Sunnah dan tetap berkembang di ilmu pengetahuan.

Ada juga seorang anak laki-laki bernama Ayesh. Lengkapnya: Ayesha Fazli Aiman Al Siddiq (maaf kalau ejaannya kurang tepat). Orangtuanya bukan orang asli Bengkulu. Setahuku mereka dinas di Kepahiang sejak Ayesh masih sangat kecil. Orangtua Uul juga sebenarnya berasal dari Jawa, terdeteksi dari logat bicara mereka.

Secara akademis, Ayesh memang unggulan diantara teman laki-lakinya. Tahu sendiri, kan, di sekolah dasar, biasanya anak-anak perempuan yang mendominasi peringkat 10 besar. Namun, ia tidak sampai kusebutkan di tulisanku ini karena prestasi akademisnya itu, melainkan karakternya. Ayesh bisa dibilang adalah anak yang paling akrab denganku. Ia sering sekali melontarkan pertanyaan ini-itu ketika teman-temannya yang lain sibuk dengan dunia “keaktifan” mereka masing-masing. Pertanyaannya juga terkadang membuatku kaget, seperti,

“Kak, methanol itu apa?”

Aku pun mencoba menjelaskan apa-yang-disebut methanol itu secara kimia, setahuku.

“Kamu dengar istilah itu dari mana?”

Ternyata, orangtuanya memiliki usaha dibidang pengolahan kebutuhan rumah tangga secara kimiawi. Dan ia banyak sekali mendengar istilah methanol dari orang-orang yang memesan hal tersebut ke orangtuanya. Aku dengar dari Ayesh bahwa methanol dapat menjadi bahan dasar pembuatan sabun. Wallahu a’lam.

Yaa intinya si Ayesh ini adalah seorang anak yang sangat supel. Aku merasa dihargai olehnya. Ia sangat curious terhadap banyak hal. Sayang sekali aku bukan ensiklopedia.

Ketiga… aku tidak betul-betul yakin bahwa anak-anak setelah Uul dan Ayesh tidak kulupakan karena kelebihan mereka, tapi ya, daripada membicarakan yang tidak baik, sebaiknya tak usah kusebutkan. Ya, cukup Uul dan Ayesh. Well, aku sangat berharap Ayesh menjadi perwakilan kedua Kepahiang di Kafila (Ya Allah kumohon kumohon…). Waiting for you in 2017!

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s