Posted in My Dakwah Adventure, My Lifetime History

My Dakwah Adventure: Unity Beyond Diversity (Part Two)

Bismillah. Ash-shalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah

Sekarang aku ingin memulai kisah PDPU-ku di bulan Ramadhan 1437.

Jadi, aku dan seorang rekan, Daru dari Cirebon, fortunately kebagian tempat di Bandung. Tepatnya di Kampung Bojong, Desa Cigentur, Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung. Sebelumnya, aku sempat hendak ditempatkan di Medan namun karena satu dan lain hal (yang tak bisa kujelaskan di sini), aku pun dipindahtugaskan. Aku sendiri yang memilih Bandung agar selepas daftar ulang di ITB pada akhir Mei – awal Juni lalu aku bisa langsung ke sana.

Aku dan Daru tidak berangkat bersama. Aku, ditemani Ayah, pergi menuju Kemenag Kota Bandung untuk menemui Pak H. Usep yang merupakan penyambungku dengan daerah yang akan ku-dakwahi tersebut. Pak H. Usep adalah pengawas (entahlah pengawas apa) yang aktif berkantor di Kemenag Kota Bandung. Aku diantar beliau dengan mobil pribadi menuju Kampung Bojong itu.

Sepanjang perjalanan, beliau bercerita banyak sekali. Dan amat inspiratif. Kali ini aku akan menceritakan kisah hidup beliau di dunia dakwah dan pendidikan (semoga aku tidak salah paham ketika beliau ceritakan).

Beliau adalah salah satu revolusioner di Desa Cigentur.

Pada mulanya, Desa Cigentur terkenal sebagai desa yang ‘kriminal’ diantara desa-desa di sekitarnya. Berbagai kekejian orang-orang di sana biasa lakukan. Tidak perlu kujelaskan. Kalian tahu, kan, dosa-dosa besar dalam agama Islam?

Singkat cerita, Pak H. Usep, yang akrab dipanggil ‘Pak Haji’ ini, terketuk hatinya untuk mengubah keadaan. Beliau adalah lulusan sebuah pondok pesantren di Jawa Barat. Namun, beliau bingung cara apa yang harus beliau gunakan. Akhirnya, muncullah sebuah ide.

Waktu itu, pada tahun 80-an, masih jarang sekali ada grup-grup band yang menyanyi religi. Jadi, beliau, bersama rekan-rekannya se-angkatan, berniat untuk membentuk sebuah grup band yang berdakwah lewat musik. Nada dan dakwah, katanya. Ia terinspirasi dari H. Roma Irama, the so-called ‘Radja Dangdut’, pencetus pertama istilah tersebut (sepertinya).

Jadi, setelah terbentuk grup band itu, aku tidak mengerti bagaimana pada akhirnya mereka berdakwah. Apakah mengadakan konser lapangan di antara para preman? Atau menyanyi di jalanan kepada ABG yang keluyuran? Wallahu a’lam.

Yang jelas, aku mengetahui dari cerita beliau bahwa beliau tidak seperti para da’i yang berdakwah hanya di masjid. Berdakwah kok kepada orang-orang yang sudah lurus? Titahnya. Maka beliau pun memutuskan untuk berdakwah langsung kepada orang-orang fajir yang memang butuh didakwahi. Sungguh sebuah tantangan berat. Ancamannya nyawa, bahkan. Bayangkan saja orang-orang terminal, mereka yang suka mabuk-mabukkan, diajak taubat oleh seorang lulusan pesantren?

Tapi tentu saja Pak Haji memikirkan cara terbaik.

Oleh gurunya, ia diajarkan konsep ‘zayyin nafsaka bil ma’shiyah’ : ‘Hiasi dirimu dengan kemaksiatan’ ketika ingin mendakwahi orang-orang ahli maksiat. Maka, beliau pun ‘menyamar’ menjadi seperti ahli maksiat. Berpakaian seperti mereka, berlagak seperti mereka, dengan tetap mempertahankan pendirian beliau untuk mengajak mereka shalat, beramal shalih.

Aku tidak tahu berapa lama dan apa saja perlakuan keras, mungkin, yang tertimpakan kepada beliau. Yang jelas, usaha beliau membuahkan hasil. Singkat cerita, setelah pengalaman bertahun-tahun merasakan asam-garam kehidupan, baik sebagai penyamar, atau ketika menjadi mahasiswa di universitas, dan di manapun itu, beliau pun memprakarsai sebuah yayasan. Nurul Huda namanya. Sekarang, Yayasan Nurul Huda sudah punya MI, MTs, dan Pesantren Ath-Thohariyyah. Entahlah, mungkin masih ada lagi yang lain. Setahuku, di daerah sini hanya ada sekolah-sekolah tersebut plus satu sekolah lagi yakni SMK Cendekia, namun berbeda yayasan.

Menurutku, beliau adalah sosok yang amat inspiratif. Ahsibuhu wallahu hasibuhu wa laa uzakki ‘alallahi ahadan. Beliau juga termasuk tokoh yang mengubah paradigma beragama pada masyarakat. Misalnya, bahwa dalam Islam itu tidak harus mengikuti madzhab tertentu, melainkan, jika terdapat dalil yang shahih maka sah diikuti.

P_20160606_164225_1.jpg
Pak Haji Usep

Di Desa Cigentur ini ada Masjid Al-Muttaqien. Masjid ini adalah satu-satunya masjid di daerah sini yang tidak terikat golongan maupun organisasi tertentu. Jadi, oleh beliau, para masyarakat dididik untuk saling bertoleransi terhadap cara ibadah yang berbeda-beda dalam Islam, karena semua itu hanyalah masalah furu’iyyah (percabangan, bukan yang inti seperti aqidah) dalam pemahaman fiqh yang tidak perlu dipermasalahkan. Asal ada dalilnya, maka kerjakan. Dalil yang bisa dipercaya tentunya. Kalau teman-teman pembaca masih tidak paham apa itu shahih, hasan, dha’if, dll, silahkan belajar ilmu musthalah al-hadits terlebih dahulu :). Atau searching di google saja.

Pak Haji ini memiliki misi besar untuk ummat Islam. Ia ingin mempersatukan mereka yang bergolong-golongan. Ummat Islam itu satu. Semuanya bersatu di bawah satu panji: Laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah (Shallallahu alaihi wasallam). Dan alhamdulillah, Allah menambah kenikmatan beliau untuk meraih posisi di Kemenag sehingga usaha-usaha beliau bisa terbantukan.

Nah, itulah cerita yang kupahami dari Pak Haji. Aku sangat tertarik dengan perjuangan beliau untuk memperbaiki generasi ini dengan membangun sekolah-sekolah. Aku juga memiliki mimpi yang sama, yakni untuk memperbaiki ummat dari generasi mudanya. Aku juga ingin mendirikan institusi pendidikan yang berkualitas. Institusi itu akan kunamakan AUBA. Insya Allah, pada tulisan yang akan datang, aku akan bercerita lebih banyak tentang mimpi-mimpi itu dan menjawab pertanyaan besar yang selama ini para pembaca pertanyakan: apa itu ‘AUBA’.

Jadi, sebelum kegiatan PDPU-ku dan Daru, ada lima orang adik kelasku di angkatan VI yang pernah magang di daerah sana. Bukan PDPU atau menjadi da’i melainkan magang di pabrik. Salah satu kegiatan unggulan Kafila adalah belajar entrepreneurship bagi santri-santri kelas XI. Wirausaha kok kerja di tempat orang, ya? Entahlah. Mungkin sementara ini mereka baru dituntun untuk merasakan bagaimana rasanya bekerja.

Salah satu dari lima orang tersebut adalah Farros. Teammate-ku di tim biologi sekolah :). Farros adalah cucu dari kakak Pak Haji. Jadi bisa dibilang bahwa Farros juga cucunya. Nah, Pak Haji ingin sekali Farros melanjutkan cita-citanya di bidang pendidikan. Baru-baru ini, Pak Haji berpikiran bagaimana menjadikan anak-anak didik beliau menjadi pribadi yang hidup berlandaskan al-Quran. Jadi, meskipun anak band, misalnya, hafalan Quran-nya juga jago, sehingga hidupnya tak mudah goyah. Aku yakin beliau terinspirasi dari Farros, sebab, Farros sudah hafal 30 juz (Masya Allah…). Alhamdulillah, selain Pak Haji, di zaman sekarang, di Indonesia khususnya, banyak orang tua yang ingin generasi penerus mereka kembali pada al-Quran dan as-Sunnah, menyadari kesemrawutan zaman globalisasi yang penuh fitnah ini.

Aku sangat menghargai usaha Pak Haji tersebut. Meskipun… (nanti saja, lah)

Baiklah.

Sebelum aku benar-benar tiba di Yayasan Nurul Huda, aku terlebih dahulu diajak Pak Haji mengunjungi sebuah pesantren di desa sebelah. Namanya Nurul Ilham. Baru berdiri tahun kemarin. Pendirinya adalah seorang dermawan yang baru masuk Islam pada Ramadhan 1436 lalu. Beliau, Masya Allah, adalah seorang saudagar tekstil keturunan Tiong Hoa. Pak Eko namanya.

 

Makanya, di Nurul Ilham baru ada satu angkatan, yakni kelas 7 MTs. Di sana, kami shalat maghrib berjamaah dan tak terkira, aku diminta untuk memberikan motivasi serta pengalamanku menuntut ilmu, khususnya sebagai seorang santri.

Waktu diberi kesempatan emas tersebut, aku sangat menekankan bahwa menjadi santri adalah sebuah kebanggaan yang diwujudkan dengan kesyukuran. Santri itu tidak kolot, tidak jorok, bukan anak-anak buangan yang tidak diterima di sekolah umum. Justru, para orangtua harus berpikiran untuk memasukkan anak-anak terbaiknya ke pesantren, karena di pesantren-lah generasi Islam masa depan dicetak. Memang masalahnya, sekarang banyak sekali pesantren yang mencemarkan nama baik Islam sehingga everything related to santri dan pesantren diidentikkan dengan banyak hal yang negatif. Belum lagi ketika pesantren dilecehkan dengan film Wanita Berkalung Sorban.

Tidak! Pesantren tidak seperti itu! Para santri, para kiyai, ustadz, pendidik, semua keluarga besar pesantren adalah pejuang. Mereka dididik untuk dapat menjadi tonggak-tonggak utama ummat ini. Ummat Islam yang kerap dibela-bela Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dalam untaian do’a-doanya, yang beliau sebut-sebut menjelang wafatnya. Ummat yang berusaha dipertahankan para pendahulu: sahabat, tabi’un, tabiut tabiin, dan para salaf. Ummat yang diperjuangkan para mujahid, ummat yang pernah menjadi garda depan dunia ini di segala bidang kemajuan. Ummat yang sempat memimpin kejayaan di atas seluruh negeri selama 8 abad!

Kisah sejarah ummat ini selalu menuai emosi ahlul iman. Islam dulu pernah jaya, bersatu. Namun kejayaan itu hilang ditelan zaman. Ini memang merupakan sunnatullah. Namun, Allah juga telah menjanjikan bahwa ummat ini akan kembali jaya. Siapa lagi yang dapat memperjuangkan kejayaan ummat ke depannya kalau bukan para santri dan anak-anak yang mempelajari ilmu syar’i secara khusus?

Ya, mungkin aku belum terlalu berilmu tentang itu. Tapi aku cukup sering mendengar kisah-kisah kemunduran ummat yang amat memilukan. Aku teringat kisah sungai Dajlah/Tigris yang menghitam karena kebanjiran tinta kitab-kitab para ulama kita yang dibuang oleh pasukan Hulaghu Khan. Bahkan kitab-kitab yang bersusunan itu dapat menjadi jembatan bagi mereka untuk menyeberang! Betapa banyak ilmu dari ummat ini yang telah terbuang tanpa bekas!

Belum kisah kerajaan Islam di Spanyol yang perlahan terpecah belah. Karena terbuai harta, para penguasa pun lengah. Akhirnya, dengan mudah orang-orang Kristen Eropa menyerbu mereka lalu mengusir Islam dari Spanyol. Sekarang, apa dari Islam yang tersisa di Spanyol selain bangunan-bangunan yang hanya menjadi tontonan para wisatawan?

Dari banyak sumber juga, salah satu penyebab kemunduran Islam adalah karena kemunculan Ziryab, sang pencetus mode dalam dunia Islam. Beliau yang mengenalkan gitar dan alat-alat musik lainnya. Beliau yang mengajarkan fashion. Budaya makanan pembuka, hidangan utama, dan makanan penutup juga dari beliau. Ummat ini pun perlahan mulai jauh dari al-Quran yang mengajarkan kesederhanaan dan berkecukupan di dunia.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam ada seorang utusan Tuhan. Namun beliau tidak seperti para Kisra dan Kaisar yang duduk dengan pongah di singgasana empuk. Tidak memakai baju kebesaran dari sutra yang berjuntai-juntai. Tidak pula makan enak sampai terlalu kenyang.

Pernahkah kalian mendengar sebuah kisah ketika sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu datang menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sedangkan beliau mendapatinya sedang tertidur. Lantas, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pun bangun dan pada wajahnya terdapat bekas yang terbentuk dari tikar yang beliau jadikan alas. Umar Radhiyallahu ‘anhu pun menangis dan mempertanyakan. Sekasihan inikah seorang utusan Tuhan?

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pun berujar,

“Tidakkah engkau ridha wahai Umar bahwa dunia milik mereka (para Kisra dan Kaisar) sedangkan akhirat milik kita?”

Betapa hina dunia ini bagi mereka yang hati-hatinya melambung tinggi ke langit. Keimanan mereka tiada tara. Dunia ini terlalu rendah bagi mereka para perindu surga. Tidaklah mereka perlu perhiasan yang amat berlebihan demi kepuasan dunia yang fana, apalagi berfoya-foya. Masya Allah.

Dimulai dengan Ziryab. Budaya-budaya yangketularan dari Barat’ pun perlahan menjadi sebuah kewajaran pada ummat ini. Bahkan, mereka yang suka menari berputar-putar dengan pakaian lebar kerap diiringi musik dan menganggap hal tersebut sebagai ritual ibadah. Ibadah. Untuk mendekatkan diri pada Allah. Sungguh miris.

Telah sampaikah pada para pembaca sebuah hadits:

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.” HR. Bukhari, no. 5590

Aku tidak bermaksud untuk memecah belah. Setiap orang memiliki pendapat masing-masing, dan setiap mereka tidak dapat disalahkan apabila memiliki sumber yang dapat dipercaya, dan aku telah menuliskan sumber hadits tersebut Insya Allah nanti.

Zaman sekarang, sangat disayangkan ummat ini terlanjur terpecah belah hanya karena perbedaan cara beribadah atau penafsiran sebuah ayat atau hadits. Semuanya memiliki ulama masing-masing dengan pendapat masing-masing.

Menurutku, ya sudah. Mungkin setiap orang akan merasa benar, namun yang terpenting, kita tidak perlu mencela orang lain. Tugas setiap Muslim adalah menyampaikan apa yang ia jadikan pegangan. Apabila saudaranya sesama Muslim tetap bersikukuh dengan pegangannya, maka ya sudah. Toh, ini hanya persoalan furu’ dalam Islam. Hanya persoalan yang dapat dikembalikan pada keyakinan diri masing-masing.

Kalau ada yang berkeyakinan bahwa suatu ibadah itu tidak ada asalnya ya tidak usah dilakukan. Yang melaksanakannya juga tidak usah mencela orang yang tidak melaksanakannya, karena masing-masing memiliki dasar untuk itu.  Asal bukan hanya taqlid (mengekor, ikut-ikutan) buta.

Daripada terpecah belah, lebih baik bersatu, kan? Daripada bermusuhan, lebih baik berteman, kan? Toh, tujuan kita sama, ridho Allah dan surga-Nya. Hanya mungkin jalan menuju ke sana berbeda-beda. Ya sudah.

Asal, aqidah dan rukun-rukun yang pokok dalam agama kita tetap sama.

Allah ya satu. Shalat fardhu ya lima waktu. Puasa Ramadhan ya harus. Zakat wajib. Kalau mampu haji ya berangkat.

Masalah qunut atau tidak qunut, penanggalan awal dan akhir puasa, perbedaan doa-doa, ya serahkan pada pribadi masing-masing. Asal ada sumbernya, ya sudah. Buat apa diperselisihkan? Seandainya suatu kelompok merasa kelompok lain agak keliru, mengambil hadits dhoif jiddan, ya kalau bisa dinasehati dengan hadits yang shahih atau hasan. Kalau tidak mau menerima, ya sudah. Setelah itu kita tetap saudara.

Sebagai seorang penghafal al-Quran, terlepas dari hukum musik yang diperdebatkan berkepanjangan, aku memilih untuk berkata tidak. Karena berdasarkan pengalaman, musik dapat mengganggu hafalan dan menjadikan hati gersang. Itu aku. Kalau pembaca, ya terserah. Mungkin kita berbeda, tapi bukan berarti kita harus saling membuang muka, lantas mencela satu sama lain, kan?

Ya sudah, ketika ada acara musik, silahkan kalian ikut serta dan hargai orang sepertiku untuk keluar ruangan. Simpel, kan?

***

Berdakwah dengan musik. Sungguh niat yang mulia, yang selama ini telah diterapkan oleh banyak pihak. Apabila mereka benar maka semoga Allah senantiasa menolong mereka, sedangkan apabila mereka kurang tepat maka semoga Allah memberi hidayah pada mereka dan kita semua.

Wallahu a’lam bish shawab.

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

One thought on “My Dakwah Adventure: Unity Beyond Diversity (Part Two)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s