Posted in My Dakwah Adventure, My Lifetime History

My Dakwah Adventure: They Treat Me Like A Prince (Part Three)

Bismillah. Ash shalatu wasalamu ‘ala Rasulillah.

Perjalanan Kota Bandung ke Kabupaten Bandung memakan waktu kurang lebih satu jam. Di Bandung ada banyak kabupaten, dan tujuanku adalah Kab. Bandung, bukan Bandung Barat, Timur, dst. Kami melewati beberapa daerah seperti Cileunyi dan Rancaekek.

Tiba di Kecamatan Cikancung, tetangga Kecamatan Paseh tujuanku, aku dan Pak  Haji singgah di sebuah pesantren karena waktu shalat Maghrib telah tiba (sebenarnya telah diceritakan di part sebelumnya). Pesantren Nurul Ilham namanya. Pesantrennya memiliki beberapa kesamaan dengan Kafila, seperti: program beasiswa full dan khusus laki-laki.

P_20160619_162405_EFF.jpg
Gedung Pesantren Nurul Ilham Cikancung, Kab. Bandung

Di sana, aku diberi kesempatan untuk memberikan motivasi dan pengalamanku nyantri dan berprestasi. Aku sangat bersemangat menceritakan pengalamanku di berbagai kompetisi. Tak lupa, aku ingin membangun kepercayaan diri mereka akan identitas santri. Akhir-akhir ini, aku selalu berlomba menggunakan peci, terutama ketika versus sekolah-sekolah umum, termasuk sekolah non-Islam. Aku ingin membuktikan bahwa santri sepertiku, dengan pakaian yang kukenakan, tidak menjadi hambatanku untuk berprestasi. Malah aku bisa unggul.

Aku sebenarnya tidak ingin menyinggung dunia spelling bee itu lagi karena aku ingin melupakannya. Namun, aku berharap semoga dengan pengalamanku dari tingkat district hingga international tersebut membuat mereka justru terpacu. Semoga Allah membebaskanku dari sifat riya’ dan sum’ah.

Di Nurul Ilham baru ada satu angkatan, makanya masih baru ada sekitar 40 santri (atau mungkin sudah terpangkas). Pesantren tersebut masih sangat butuh banyak masukan.

Nah, malam harinya aku ditempatkan Pak Haji di kobong di belakang rumahnya. Kobong adalah istilah Sunda untuk ‘asrama’. Alhamdulillah tempatnya nyaman. Sama sekali tidak perlu pendingin ruangan karena Desa Cigentur ini sangat dingin. Bisa sampai 16 derajat Celsius di pagi hari.

IMG-20160603-WA0009[1].jpeg
Kobong. Di depannya ada kolam ikan, di halaman samping kirinya ada sarang bebek.
Di beberapa hari pertama aku belum mendapat tugas apa-apa. Pak Haji juga menyarankanku untuk refreshing sejenak, atau jalan-jalan sekitar. Oya, aku juga diperkenalkan oleh Kang Tatang, lulusan SMK setempat tahun 2015 lalu. Ialah yang menjadi guide-ku selama beberapa hari tersebut. Bahkan ia juga mengantarkan sarapan untukku, dan makanan cemilan seperti bala-bala. Bukan laba-laba, ya. Coba tebak apa itu bala-bala?

IMG-20160703-WA0002[1].jpg
Kang Tatang
Aku banyak mengobrol dengannya. Teman-temannya lulusan SMK rata-rata sudah bekerja. Ada yang menjadi polisi (kok?), kerja di pabrik, atau magang di suatu tempat kerja. Aku hanya dapat berdoa agar Allah memberikannya jalan terbaik untuk menyambung hidup soalnya kesehariannya benar-benar kosong. Tapi semoga Allah juga membuka hatinya untuk menjadi pengurus tetap Masjid Al-Muttaqien karena masjid membutuhkannya….

Karena Bulan Ramadhan belum mulai, aku menyempatkan diri untuk ikut lari-lari siang. Ya, hobi yang unik para generasi muda Desa Cigentur. Mereka biasa melakukannya setiap setelah shalat Jumat. Saat itu aku pun mengenal Kang Adi, seorang asli Cigentur yang telah bertahun-tahun merantau ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan untuk bekerja. Kami bertiga, bersepatu, lari menyusuri jalanan Cigentur. Kukira sepi. Ternyata, setelah agak jauh, mulai banyak pemuda dan pemudi berlarian. Bahkan bukan hanya muda-mudi. Ada anak PAUD juga yang tingginya paling se-pinggang orang dewasa. Dengan lincah mereka berlari. Sayang sekali aku tidak mendokumentasikan apa-apa di sana karena takut handphone-ku jatuh jika dibawa berlari.

Siang di Desa Cigentur sangat sejuk, tidak membakar seperti Jakarta. Pepohonan dan tetumbuhan menyelimuti desa yang permai ini. Persawahan dan perbukitan menyempurnakan pemandangan yang indah nan hijau ini. Diam-diam aku beryukur memilih Pertanian di ITB, karena aku akan banyak sekali berkecimpung dengan dunia pedesaan, Insya Allah. Sungguh indah, subhanallah.

P_20160624_081058_HDR.jpg

Awalnya kami berniat untuk berlari menuju mata air namun niat tersebut urung karena kami kelelahan. Jadi, kami pun pulang. Kami sempat juga singgah di lapangan voli yang sedang ramai karena ada turnamen. Rakyat sini banyak yang menggemari olahraga tersebut.

Kami pun pulang dan beristirahat di tempat masing-masing. Di kobong, aku hanya bisa berharap Daru cepat tiba karena ia belum datang hingga keesokan harinya, Sabtu malam.

Makan siangku tidak perlu repot-repot karena sudah disediakan. Bahkan diantarkan. Makan malam aku dipersilahkan di meja makan bersama Pak Haji padahal anggota keluarga yang lain tidak makan di ruang makan. Masya Allah, betapa hormat mereka pada tamu. Betapa hormat mereka pada hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”

Hari-hari menjelang Ramadhan kulewati tanpa banyak beraktivitas. Paling, hanya sesekali aku diminta menjadi muadzin dan imam shalat.

Di kobong, aku hanya bisa berharap Daru cepat tiba karena ia belum datang hingga keesokan harinya, Sabtu malam. Ini ada cuplikan obrolanku dengan Daru:

Screenshot_2016-06-19-13-47-56[1]

 

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s