Posted in My Dakwah Adventure, My Lifetime History

My Dakwah Adventure: Do Not Call Me A Hafiz (Part Four)

Bismillaah, ash-shalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaah.

Alhamdulillah.

Bulan penuh keberkahan itu pun datang lagi. Bulan yang dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semarakkan di kala bulan itu hampir datang,

“Qad jaakum syahru mubarak!”

Teringat kisah para sahabat yang mempersiapkan penyambutan Ramadhan sejak bahkan 6 bulan sebelum ia tiba. Mereka menambah kuantitas dan kualitas ibadah, seperti shalat malam, puasa, membaca al-Quran, dan lainnya.

Usia kaum Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat pendek, 60 – 70, dan sedikit saja yang dapat melampauinya. Sangat berbeda dengan usia kaum-kaum terdahulu yang bisa mencapai sekian ratus tahun. Nabi Nuh saja berdakwah selama 950 tahun (QS. Al-Ankabut: 14), belum terhitung masa kecilnya.

Maha Adil Allah yang menganugerahkan bulan Ramadhan pada ummat Nabi kita. Dijadikan-Nya amalan-amalan ummat Muhammad berlipat ganda. Misalnya ada pada cerita berikut ini:

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang wanita,

مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّى مَعَنَا

“Apa alasanmu sehingga tidak ikut berhaji bersama kami?”

Wanita itu menjawab, “Aku punya tugas untuk memberi minum pada seekor unta di mana unta tersebut ditunggangi oleh ayah fulan dan anaknya –ditunggangi suami dan anaknya-. Ia meninggalkan unta tadi tanpa diberi minum, lantas kamilah yang bertugas membawakan air pada unta tersebut. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256).

Dalam lafazh Muslim disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim no. 1256)

Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” (HR. Bukhari no. 1863)

Al-Qari dalam Mirqah Al-Mafatih (8: 442) berkata, “Maksud senilai dengan haji adalah sama dan semisal dalam pahala.” Akan tetapi yang sebenarnya terjadi pahala haji lebih berlipat-lipat daripada pahala umrah. Karena haji adalah salah satu rukun Islam.

 

Selain itu, pada hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam juga dijelaskan:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلاَمَهُ ، فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ ، وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا

Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang memperbagus keislamannya, maka setiap kebaikan yang dilakukannya dituliskan 10 hingga 700 kali lipat, sedangkan setiap kejelekannya hanya ditulis sepertinya (satu saja)”

Semua ini Allah jadikan untuk kita agar kita tetap semangat beramal shalih. Amal shalih itu sangat abstrak. Seluruh 24 jam kita bisa bernilai ibadah, bahkan hal-hal yang ringan sekalipun. Tersenyum adalah shadaqah. Berjabat tangan dapat menggugurkan dosa antara kedua pihak. Ucapan subhanallah dan alhamdulillah dapat memenuhi timbangan di hari akhir.

Belum kalau kita membaca al-Quran, lebih-lebih menghafalnya. Atau kita mengumandangkan adzan, mendirikan shalat sunnah rawatib maupun layl dan dhuha. Sungguh besar pahala amalan-amalan tersebut apabila Allah berkenan menerimanya.

Itu semua adalah ganjaran di hari-hari biasa. Maka apa yang kaukatakan jika amalan-amalan tersebut dilakukan di bulan Ramadhan? Sungguh, ini adalah bulan combo, bulan bonus. Semua amalan dapat dilipatgandakan tak terhingga. (Silahkan buka link ini)

Sayang sekali, semoga Allah tidak menghinakanku, aku memasuki bulan Ramadhan ini dengan keadaan yang kurang siap. Aku belum menjadi seperti para salaf yang senantiasa memperbaiki diri dan membiasakan ibadah-ibadah sehingga bulan Ramadhan pun disambut dengan dan full energy untuk lebih meningkatkan kinerja.

Hidup di zaman penuh fitnah adalah sebuah tantangan. Para salaf terbiasa bertaubat dan berlepas diri dari dosa-dosa agar masuk ke bulan Ramadhan dalam keadaan bersih. Namun zaman ini? Renungkanlah. Baru beberapa meter melangkah dari pintu rumah, kita telah dihidangkan dengan penampilan-penampilan mengumbar aurat. Para wanita dengan rambut digerai, pakaian ketat atau tembus pandang. Bahkan yang berjilbab pun belum tentu benar. Kebanyakan mereka hanya ‘membungkus’ diri alih-alih ‘menghijabi’ diri. Rambut-rambut mereka yang dikuncir/dikonde terbentuk jelas dari balik kerudung mereka. Baju-baju yang mereka kenakan tetap memperlihatkan lekukan tubuh. Belum pakaian yang mengikuti mode, bertulisan ini-itu yang tidak sesuai ajaran agama. Belum make up mereka yang menor, parfum yang super semerbak, sepatu heel yang menjulang, dan perhiasan mentereng yang dipamerkan.

Apa tujuan mereka keluar rumah dengan busana-busana seperti itu? Perhatian orang, bukan? Padahal Rasulullah SH telah bersabda

Malah Allah juga telah berfirman

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

”Hendaklah kalian (para wanita) tetap di rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dan seperti tabarruj orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” (QS. Al-Ahzab: 33)

Dalam kitab tafsir, tabarruj al-jahiliyyah ini adalah kebiasaan para wanita yang menampakkan beberapa helai rambut mereka untuk bergaya, padahal mereka menggunakan baju sangat tertutup dan bahkan bercadar. Ya, hanya beberapa helai rambut. Itu adalah tabarruj yang di dalam dalam Islam sejak lama. Maka apa yang kaukatakan tentang para wanita zaman ini? Sungguh, mereka berdosa dan membuat orang lain yang nonmahram juga berdosa, sehingga mereka pun menanggung dosa mereka sendiri dan dosa banyak orang tersebut tanpa mengurangi dosa banyak orang itu sedikitpun.

Bahkan Allah tidak sudi mengizinkan mereka mencium bau surga dari jarak yang sangat sangat jauh, apalagi memasukinya.

Itu baru fitnah wanita.

Kita belum berbicara fenomena lain, seperti dalam jual beli yang rusak karena riba, moral masyarakat (khususnya pemuda) yang hancur dengan pornografi, asap rokok yang menyesakkan, serta jalanan yang bising dengan musik-musik yang melenakan. Sungguh berat tantangan menjadi orang bertaqwa, yakni orang yang senantiasa menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya. Padahal taqwa adalah syarat masuk surga dengan aman….

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ١٣٣

“Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS Ali Imran: 133)

Aku mengharapkan hidayah Allah pada kita semua. Semoga kita semua diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah dan dimudahkan masuk ke surga yakni tanpa hisab dan adzab.

Jadi, menjadi da’i mendadak di daerah yang baru bagiku adalah sebuah urusan yang berat. Sebab, aku sendiri masih butuh untuk membenahi diri dan menuntut lebih banyak ilmu. Aku masih tidak pantas untuk menasehati orang lain dengan berjuta kekurangan yang kumiliki, dengan dosa menggunung yang kupikul. Semoga Allah memaafkanku, karena aku belum sanggup untuk menjadi hamba-Nya yang sepenuhnya menjalani apa yang Ia suruh.

Sejenak, aku merasa tenang ketika mendapati bahwa tugas utamaku pada PDPU kali ini adalah: mengajarkan al-Quran pada anak-anak. It’s been a frequently repeated deed of me, fortunately. Alhamdulillah. Aku sudah cukup sering menangani anak-anak mengaji. Meskipun pada beberapa kasus aku merasa belum berhasil. Yang jelas, aku merasa takkan terkejut menghadapi situasi ini.

Hanya saja, aku tak menyangka bahwa ada sangat banyak anak yang harus kuampu.

Di hari-hari pertama penugasan, waktu itu sudah masuk Ramadhan, aku dan Daru memulai dengan perkenalan. Kami juga menceritakan pengalaman masing-masing di pesantren, khususnya dalam perjalanan panjang menghafal al-Quran. Mungkin kalian tertarik membaca kisah pribadiku bersama al-Quran? Tunggu tulisan mendatang, ya, Insya Allah.

Delapan puluhan anak-anak SD dan SMP dibagi dalam dua kelompok besar. Aku kebagian anak-anak yang dianggap memiliki kemampuan yang lebih unggul dibanding sebagian yang lain. Kami menempati ruangan di lantai 2 Masjid Jami Al-Muttaqien. Pelajaran tajwid yang pertama kali aku dan Daru berikan adalah huruf hijaiyyah dengan nada yang sangat populer di Kafila.

“AA II UU BA’, UU AN A NI A’ NA MINAL MU’NI MA II AN ANI AA”

Entahlah, aku hanya menikmatinya. Mengajarkan anak-anak ibarat sebuah segmen DNA yang telah tersusun di salah satu dari ke-23 pasang kromosomku. Ibarat bagian dari tetes eritrosit yang mengalir di pembuluh darahku. Ya, secara natural, aku menyukainya. Aku merasakan apa itu yang disebut kehidupan, bersama anak-anak. Meskipun tak dapat kupungkiri bahwa aku orang yang mudah sekali merasa lelah dan tak sabaran. It’s just different. Anak-anak itu mengingatkanku pada memori diri ini yang tidak sempat menjadi seorang anak kecil yang bahagia. Bahagia dengan ilmu maksudnya. Aku ingin sekali anak-anak yang aku diberi kesempatan untuk mengampu mereka agar mereka dapat bersenang-senang sambil berselancar di lautan ilmu yang tak bertepi. Dan ingat, bukan pedofilia, oke!

Sungguh indah mendapati seorang anak tumbuh besar sebagai seorang yang berkualitas dan berguna bagi sesama. Sungguh bahagia apabila anak itu adalah hasil didikan kita. Berharap pahala amal jariyah terus mengalir selama kebaikan itu diteruskan. Dan aku sangat yakin dengan hadits:
عَن عُثَمانَ رَضِىَ اللٌهُ عَنهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صٌلَى اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلٌمَ خَيُركُم مَن تَعلٌمَ القُرانَ وَعَلٌمَهَ 

(رواه البخاري وابو داود والترمذي والنسائ وابي ماجه).

Dari Utsman r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda, “sebaik-baiknya kamu adalah orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya.” (Hr. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah)

Maka dari itu, aku tak sepatutnya berasalan untuk berkata tidak demi belajar dan mengajarkan al-Quran. Hadits itulah yang terus menjadi peganganku untuk tetap menikmati mendengarkan bacaan al-Quran anak-anak dan membenarkannya. Memberikan selingan nasehat dari sabda Nabi maupun pesan-pesan kehidupan. Indah sekali apabila setiap anak ummat ini terdidik dengan baik dengan al-Quran dan as-Sunnah.

Mengajar anak-anak menurutku itu hanya butuh: perhatian kita, pengajar.

Karena aku punya pengalaman pribadi terkait perhatian guru-guruku terhadapku.

Betapa senang seorang anak ketika ia diapresiasi meskipun hanya sedikit sekali kemajuan yang ia berhasil capai. Bahkan saat ia tidak mengalami kemajuan apapun. Anak-anak senang diperhatikan. Mereka nyaman apabila kita berkomunikasi dengan penuh kelembutan. Guru-guru yang mengayomi anak-anak didik mereka ibarat piring mungil yang rentan pecah––amat lemah lembut, penuh perhatian. Anak-anak suka diberi hadiah sekecil apapun prestasi mereka. Mereka senang dipuji.

“Kamu anak yang sangat berbakat.”

“Kakak belum pernah menemukan anak yang lebih bagus bacaannya melebihimu.”

“Luar biasa, kamu hebat.”

Kalimat-kalimat itu mendorong mereka untuk terus meningkatkan potensi diri. Sebagai seorang Muslim, seyogyanya kita mengucapkan masya Allah ketika memuji, karena semua itu terjadi karena kehendak Allah.

Hari-hari pertama memulai kelas al-Quran bersama tiga puluhan anak memang mengeringkan tenggorokan. Di sisi lain aku harus menjaga senyum karena anak-anak tidak mudah menerima guru yang jutek. Belum menghadapi para siswi yang kami, para da’i PDPU alumni pesantren khusus laki-laki, tidak terbiasa dengan kondisi tersebut. Namun, inilah tantangan. Bagaimana kami dapat terus membentengi diri dari hal-hal yang di luar keperluan pada para perempuan. Karena kondisinya memang seperti ini––tidak terdapat ustadzah yang mumpuni. Semoga perjuangan kami semua, 15 laskar PDPU di semua daerah, dapat juga mengader para Muslimah sehingga para siswi dapat belajar dengan para ustadzah, tidak perlu ke ustadz, agar nilai-nilai luhur pribadi masing-masing lebih terjaga. Agar sama-sama dapat menjaga kesucian hati.

Aku juga menekankan pada anak-anak ini untuk memperbaiki niat-niat menghafalkan al-Quran. Aku pun memberikan dalil-dalil masyhur yang biasa diberikan pada setiap permulaan halaqah al-Quran, seperti:

عَن عَائِشَةَ رَضي اللٌهُ عَنهاَ قَالَتُ:قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلٌي اللٌهُ عَلَيهِ وَ سَلٌم الَماهر باِلقُرانِ مَعَ السَفَرَةَ الكِرَامِ الَبَرَرَةِ وَاٌلَذِي يَقُراٌ القُرانَ وَيَتَتَعتَعُ فِيه وَهُوَ عَلَيهِ شَاقٌ لَه اَجَران (رواه البخارى ومسلم وابو داوود والترمذى وابن ماجه).
Dari Aisyah r.h.a berkata bahwa Rasulullah saw.bersabda , “Orang yang ahli dalam al Qur’an akan berada bersama malaikat pencatat yang mulia lagi benar, dan orang terbata-bata membaca al Qur’an sedang ia bersusah payah (mempelajarinya), maka baginya pahala dua kali.” (Hr. Bukhari, Nasa’I, Muslim, Abu Daud, Tarmidzi, dan ibnu Majah)

Dan aku tidak membolehkan mereka memanggilku sebagai ‘hafiz’, karena syarat menjadi hafiz itu sebenarnya sangat berat. Ia harus hafal 30 juz al-Quran dan beribu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mutqin serta memiliki ilmu agama setara syaikh. Mereka yang pantas disebut hafiz misalnya:

Dan aku masih sangat jauh untuk level itu. Meskipun di Indonesia, istilah hafidz terlanjur populer untuk seseorang yang telah selesai menghafal/setoran 30 juz al-Quran. Yang hafalannya belum tentu lancar. Yang belum tentu paham makna-makna seluruh kalimat al-Quran. Yang akhlaqnya masih butuh banyak perbaikan. Yang masih memiliki banyak sekali kekurangan sana-sini.

Sebagai gantinya, aku memeperkenalkan istilah haamil al-Quran, atau ‘pembawa al-Quran’. Merekalah yang Allah beri kesempatan untuk menjaga kitab-Nya, sedikit apapun, seberapa ayat/surat pun. Kalau ini, anak-anak SD yang baru hafal juz 30 pun bisa termasuk… jadi kalau ada dalil-dalil yang menyinggung ‘sohibul Quran’ maka istilah ini tidak hanya untuk yang sudah hafal 30 juz, melainkan mereka, siapa saja, yang senantiasa membaca, menadabburi, dan mengamalkan al-Quran, meskipun ia hanya hafal al-Fatihah.

Wallaahu a’lam bishshawaab.

 

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s