Posted in My Dakwah Adventure, My Lifetime History

My Dakwah Adventure: Assaabiquunal Awwaluun (Part Seven)

Bismillaah, ash-shalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaah.

Memasuki minggu kedua.

Aku mendengar banyak cerita dari Pak Haji maupun Kang Epul, setelah shalat tarawih dan witr biasanya, tentang kehidupan neighborhood di Desa Cigentur ini. Ada banyak sekali aliran agama, maksudku organisasi/perkumpulan, yang mendirikan pondok pesantren, baik di desa ini maupun desa-desa sekitar. Masjid Al-Muttaqien adalah satu-satunya masjid yang tetap kokoh netral. Namun, sayangnya, masjid ini kian lama kian tak terurus.

Alumni-alumni Nurul Huda sebagian besar telah melanglang buana berbisnis. Mereka enggan kembali mengabdi di pondok mereka dulu. Akibatnya, masjid yang seharusnya ramai karena berpegang teguh dengan Al-Quran dan Assunnah tanpa ikatan persatuan/organisasi ini tetap krisis jamaah.

Sudah merupakan rahasia umum bahwa masjid-masjid biasanya terisi oleh orang-orang tua yang katanya ‘sudah bau tanah’. Menunggu malaikat maut. Mengapa orang-orang tersebut baru ingat mati setelat itu? Ke mana saja mereka di masa muda? Masa muda habis dengan bersenang-senang karena Allah memberikan mereka kekuatan yang sangat kuat.

Itulah remaja. Kondisi di mana seseorang mendapati dirinya secara fisik sangat mumpuni, serta belum berkewajiban untuk mengurusi keluarga. Jadi, boleh dibilang, remaja adalah masa yang sangat emas untuk berinovasi, berkreasi menghasilkan sesuatu, membuat hal baru.

Namun remaja-remaja kota yang berpendidikan memadai sungguh tak dapat disamakan dengan remaja-remaja desa yang serba kekurangan. Daripada berpanjang lebar, aku langsung mengerucut ke masalah agama. Seharusya, mereka yang aktif shalat di masjid itu adalah para remaja. Mereka yang mengadakan perkumpulan, halaqah, mengaji bersama secara aktif, adalah para remaja. Karena mereka kuat dan tidak memiliki banyak tanggungan.

Singkat cerita, aku ingin mewujudkan keharusan itu agar diterapkan di Masjid Al-Muttaqien. Aku mengusulkan pada Kang Epul untuk membentuk kelompok al-Quran khusus. Anggotanya adalah mereka yang memiliki kelebihan di atas teman-teman mereka yang lain. Harapannya, karena mereka adalah para penghulu di bidang al-Quran, mereka pulalah yang akan menjadi penggerak utama Masjid Al-Mutaqien. Harusnya.

Kang Epul pun dengan cepat menyetujui usulanku. Dan dengan sigap pula kami membentuk siapa saja yang akan dikader untuk masuk ke halaqah takhassus ini. Awalnya aku mengusulkan beberapa nama saja, namun ia menambahnya hingga total anak-anak takhassus pun menjadi 16 orang, meskipun kemudian yang konsisten hadir tidak semuanya.

Sesuai kesepakatan, aku akan full membina anak-anak laki-laki, pameugeut, sedangkan Daru full membina anak-anak perempuan, istri. Aku memiliki harapan besar pada anak-anak ini, karena kalau bukan mereka yang akan menjadi tonggak utama Masjid Al-Muttaqien bersama Kang Epul siapa lagi? Tidak mungkin Kang Epul bekerja sendiri. Ia memiliki keluarga yang harus dibina. Anak beliau dua, masih kecil-kecil.

Bersamaku ada delapan orang pameugeut. Nanti akan kuperkenalkan satu persatu, Insya Allah.

Jadi, program-program utama kelompok takhassus ini sebenanrnya hanya:

  • Menambah hafalan baru 5 ayat setiap hari
  • Tilawah minimal 5 halaman setiap hari

Dan mereka diberi waktu khusus untuk itu. Jadi, ketika teman-teman mereka hanya hadir di sesi sore, anak-anak takhassus harus hadir di siang hari juga untuk menambah hafalan baru. Karena jumlah mereka delapan, aku pun membagi mereka ke dalam dua sesi, masing-masing satu jam, sejak setelah Zuhur hingga menjelang Ashar, begitu pula dengan kelompok Daru. Kesimpulannya, aku dan Daru pun menjadi super sibuk karena kami juga harus mempersiapkan kultum malam dan subuh 5––6 kali serta mengejar pembuatan laporan untuk dikumpulkan ke ustadz-ustadz pembina PDPU.

Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda bahwa al-Quran adalah sesuatu yang paling baik untuk bersibuk-sibuk dengannya. Aku pun tenang, senang.

Nah, ini dia delapan pameugeut kebanggaanku:

  1. Saiful Khaliq, usia 14, kelas 8
  2. Ihsan Ramadhan, usia 13, kelas 8
  3. Eri Ari Sandi, usia 13, kelas 7
  4. Arif Nur Setiawan, usia 12, kelas 7
  5. Akmal Riansyah, usia 13, kelas 6
  6. Mochammad Akmal Jaelani, usia 12, kelas 6
  7. Muhammad Thoriq Assidiq, usia 12, kelas 6
  8. Muhammad Ali Jihad, usia 12, kelas 6

Kami semua menyepakati nama Assaabiquunal Awwaluun sebagai nama kelompok khusus ini, karena merekalah pioneer halaqah eksekutif tahfidzul Quran Masjid Al-Muttaqien yang pernah ada.

Anak-anak berbakat itu memiliki karakter yang amat bervariasi, terkadang ada yang membuat tersenyum namun ada juga yang membuat gurunya mengelus dada. Aku pun sudah tak sabar untuk menceritakan perjalananku bersama para Sabiqun.

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s