Posted in My Dakwah Adventure, My Lifetime History

My Dakwah Adventure: Ayeuna, Abdi Nyarios Sunda (Part Six)

Bismillaah. Ashshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah

Aku benar-benar mendapatkan shock therapy. Peralihan dari masa sebelum Ramadhan tiba menuju hari-hari pertama Ramadhan memaksaku untuk berubah dengan cepat.

Aku baru saja menjadi seorang anak-baru-lulus SMA yang menyelesaikan proses pendaftaran ulang di ITB, bersama anak-anak muda lain, dengan masih membawa sifat-sifat kejenakaan ABG. Meskipun aku tak mungkin disamakan dengan anak-anak yang berasal dari sekolah umum, namun aku masih merasa bahwa aku belumlah menjadi sosok yang dewasa kepribadiannya. Masih suka berkhayal, atau merasa sumringah sendiri ketika tiba di ITB pertama kali. Terkadang malah childish. Belum lagi HP dan notebook yang baru difasilitasi orangtua. Anak pesantren pasti akan sangat berbeda menyikapi ini karena ia tak terbiasa dengan dua teknologi tersebut ketika di pondok. Lantas bergidik dalam hati, akhirnya, bebas.

Terlepas dari bagaimana orang-orang menyikapiku, apakah terlalu melebih-lebihkan, atau yang lainnya, aku masih tetap seorang anak 17 tahun (tua sekali, ya) biasa yang… begitulah, anak-anak bukan, orang dewasa bukan. Namun, aku tidak sudi dijuluki remaja labil. Akan lebih baik kalau disebut ‘seseorang yang berusaha mencari jalan hidup terbaik.’ Tentu saja yang bermanfaat bagi sesama dan diridhai Allah.

Jadi, ketika aku harus memasuki Ramadhan sebagai da’i dadakan, ya aku mengalami keterkejutan dalam diri. Jiwa-jiwa kepesantrenan itu harus direstrukturisasi lagi secara utuh dalam diriku. Karena, mau tidak mau, aku harus menyeru orang lain pada kebaikan, maka aku pun harus baik duluan.

Aku harus kembali menjadi orang yang perhatian yang berbaur dengan orang-orang, sekalipun pada dasarnya aku adalah seorang yang suka menyendiri dan tidak mau ribet berurusan dengan orang lain yang tidak penting. Seorang da’i harus melihat kondisi masyarakat dan pandai menyesuaikan diri. Ia bahkan harus menjadi penengah, bukan pembuat rusuh yang justru dibenci kemudian diusir. Ya, jadi aku merasa sangat tidak siap untuk menjadi orang yang seperti itu.

Tapi apa boleh buat.

Sudah beberapa hari Ramadhan aku berada di Desa Cigentur yang suhunya menggigit saraf-saraf Krausse-ku, merangsang produksi cairan lendir dari sinus-ku. (asal selemo dari mana NYA?) aku tidak boleh menjadi Daffa yang eksklusif… hmm. Ya, sebenarnya aku tidak separah itu, hanya saja aku membuat banyak batasan dalam diriku untuk sangat selektif dalam memilih teman bergaul.

Jadi, karena aku mengetahui posisiku sekarang, aku harus belajar menjadi pribadi yang terbuka, melebarkan sedikit kriteria orang-orang yang aku bisa berbaur dengan mereka. Karena, seseorang menjadi buruk belum tentu karena ia tidak mau, tapi karena tidak tahu. Ia miskin ilmu karena tidak ada sumbernya. Ini kampung dan masyarakat kampung mana yang lebih peduli dengan membaca dan mengkaji ilmu dibanding apa-apa yang dapat mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari saja?

Sehingga muncullah frase, “Yang penting bisa makan.”

Ya, aku juga menyadari bahwa mereka berbeda dengan kalangan atas yang dapat sepuasnya berselancar di internet atau membeli puluhan buku untuk mengenyangkan kelaparan mereka akan ilmu. Mereka hanya orang-orang kampung yang di masa kecilnya bermain, lalu tamat sekolah menikah, atau mulai bekerja, atau keduanya sekaligus, lalu puas dengan gaji seadanya, punya anak satu, dua, sampai tujuh, terus banting tulang untuk keluarga, lalu seumur hidup begitu. Hmm, sebenarnya entahlah bagaimana penduduk desa ini, yang jelas, pada beberapa kasus yang kutemui sepanjang perjalanan hidupku, orang-orang desa biasanya begitu-begitu saja. Impiannya hanya untuk dapat hidup tenang. Tidak berpikiran apa-apa untuk mengubah dunia. Ya, memang positif, sih, namun aku saja yang tidak terbiasa dengan hal-hal yang terlampau sederhana… karena di keluargaku aku terdidik begitu.

Oleh orangtua, aku terus didoktrin.

“Abang harus jadi orang. Ada harapan besar yang tertumpu pada Abang.”

“Abang tidak boleh jadi PNS, apalagi karyawan.”

“Abang harus jadi orang kaya biar bisa membantu banyak orang.”

Dan begitulah. Perlahan aku mulai menepis cita-citaku untuk mengabdi menjadi guru anak-anak atau berkecukupan sebagai pegawai pemerintah di kementerian pertanian. Orangtua ingin aku menjadi dokter setelah mengetahui bahwa aku telah memilih biologi sebagai takdirku, namun aku bersikeras untuk ingin mendalami tumbuhan. Mungkin orangtuaku takut kalau aku memilih pertanian, di ITB sekalipun, masa depanku tidak cemerlang karena sudah terlalu banyak sarjana pertanian di negeri ini. Tapi, setelah kuyakinkan bahwa ‘petani’ juga bisa berwirausaha dengan keuntungan berlimpah, dengan data-data yang kuraih dari majalah Trubus, orangtuaku justru mendukung pilihanku itu. Pada akhirnya, mereka kembali pada prinsip awal bahwa jadi apapun aku, aku harus bermanfaat bagi banyak orang, dan itulah yang sangat kusukai dari pendidikan rumahku.

Ya, kembali ke topik kita.

Aku menjelaskan ini panjang lebar karena aku iba dengan anak-anak di desa yang asri ini.

Pertama, aku mencoba berbaur dengan anak-anak Remaja Masjid. Mereka semua, setahuku, anak-anak SMP sederajat. Aku tahu dari penampilan dan kelakuan mereka, mereka bukan orang-orang yang memiliki basis agama yang mumpuni. Namun bagaimanapun, merekalah yang diamanahi untuk mengurus kegiatan-kegiatan Ramadhan di Masjid Al-Muttaqien ini. Sebelumnya, kuberitahu dulu pada para pembaca bahwa I’m talking about male teens, not female.

Tentu saja, pengurus harus menjadi contoh bagi yang diurus. Namun, kenyataannya, suatu ketika aku pernah adzan, iqamah, sampai shalat Zuhur sendiri. Alhamdulillah ada seseorang yang datang masbuq. Dia pun (namanya Jujun, semoga Allah memberkahinya) sebenarnya remaja masjid lain yang menyempatkan diri shalat Zuhur di Al-Muttaqien ini. Begitu berat meminta mereka untuk mengumandangkan adzan, padahal jika mereka tahu keutamaannya…

Anak-anak (atau remaja-remaja) ini memang miskin pengetahuan agama, karena memang lingkungan yang membentuk mereka. Konsep keimanan tentang dosa dan pahala masih terlalu abstrak bagi mereka. Aku hanya bisa ber-husnudzhan bahwa mungkin mereka masih malu. Na’udzubillah kalau mereka bahkan tidak hafal lafaz adzan. Meskipun alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, beberapa mulai memberanikan diri––mulanya hanya iqamah, lalu berangsur ke adzan. Semoga Allah memberi hidayah pada mereka semua, serta aku juga, untuk lebih tergerak dalam beramal shalih, sekecil apapun itu.

On the other hand, mereka sebenarnya sangat bersahabat. Inilah yang kusuka dari karakter anak-anak desa. Persahabatan itu terasa hangat. Tidak seperti lingkungan di kota yang anak-anaknya terkesan lebih individualis dan terlalu kompetitif.

Mereka, remaja-remaja masjid itu, sangat menghormatiku dan Daru. Masya Allah. Mereka juga ingin diajak untuk mengaji bersama, satu orang satu ayat, hanya saja selama ini tidak ada penggerak. Kami beberapa kali berkumpul untuk tilawah namun tugas demi tugas bertubi-tubi aku dan Daru terima, sehingga waktu untuk berkumpul bersama mereka semakin terkurangi lalu malah hanya sekedar mengobrol ringan menjelang buka puasa. Sayang sekali.

Selama ini memang Daru yang lebih dekat dengan mereka. Namun, aku mencoba tetap berkomunikasi dengan mereka, hingga aku tahu bahwa mereka menjadi remaja masjid ini bukan karena mereka alumni MI Nurul Huda. Yayasan Nurul Huda (yang terdiri dari MI, MTs, dan pesantren sore) adalah yayasan milik Pak Haji Usep yang para siswanya bahkan alumninya (jika memungkinkan) diwajibkan untuk mengikuti program pesantren kilat Ramadhan di Masjid al-Muttaqien. Remaja-remaja masjid itu pada mulanya adalah mereka yang hobi merental studio musik milik Pak Haji. Mereka, entahlah sudah atau nyaris, membentuk grup band. Nah, oleh (semacam) pelatih mereka, mereka diajak untuk mengabdi di masjid. Ini mungkin efek dari “nada dan dakwah” itu (Silahkan baca part two). Mereka pun memenuhi panggilan tersebut, bahkan mengajak beberapa teman lain di luar grup band.

Namun, tetap saja, dengan mereka menjadi remaja masjid, tidak menjamin kualitas ibadah dan keimanan mereka meningkat. Mereka malah jadi tersibukkan mengurusi anak-anak peserta pesantren kilat yang main-main, atau mengurusi ta’jil buka puasa, dsb. Sempat dicanangkan satu jam khusus untuk tahsin al-Quran panitia namun tidak konsisten. Sudah berhenti malah. Justru, ketika aku dan Daru sibuk menyimak hafalan anak-anak peserta pesantren kilat, mereka cenderung menganggur. Aku ingin sekali merangkul mereka namun sudah terlalu banyak tugas. Barangkali bukan pada momen Ramadhan ini. Semoga saja di masa mendatang aku dapat menyempatkan diri untuk singgah ke sini lagi guna membenarkan bacaan al-Quran mereka yang masih sangat butuh pembenahan. Karena, somehow, mereka adalah bagian dari pemuda ummat ini, masa depan Islam. Mereka tidak boleh buta akan buku panduan hidup-mati mereka.

Satu hal, sebenarnya mereka juga telah mengajarkanku bagaimana menjadi hamba yang bersyukur. Mungkin kalau aku tinggal di tempat yang sama dengan mereka, dengan kondisi yang sama, aku takkan pernah menjadi Daffa seperti yang sekarang ini. Inilah takdir Allah. Dengan kuasa-Nya, Allah melebihkan sebagian orang di atas sebagian yang lain. Buat apa? Agar yang lebih dapat membantu yang kurang. Agar manusia saling menghargai, menyayangi, dan mengayomi.

Selain itu, aku juga berterimakasih pada mereka semua karena mereka telah meyisihkan waktu untuk sedikit mengajarkanku Bahasa Sunda, sehingga aku mencatat ilmu itu dari mereka… 🙂  Ayeuna, abdi nyarios Sunda… sekarang, saya berbicara Sunda!

nyarios.jpg

Jadi, Bahasa Sunda ini adalah bahasa ke-enam yang benar-benar kupelajari dan kuhafal kosakatanya, hehe. Hitung-hitung persiapan tinggal di Bandung dan Jatinangor kelak, Insya Allah. Orang-orang akan banyak menggunakan bahasa tersebut. Atau barangkali… jodohku nanti orang Sunda. Eh, kok senyam-senyum? Bisa jadi, kan?

Bahasa Sunda ini adalah bahasa yang, menurutku, lemah lembut. Dari logatnya terasa sekali. Meskipun, seperti Jawa, ada istilah Sunda halus dan Sunda kasar. Bahkan ada yang pertengahan, namanya loma. Aku sering diingatkan kalau menggunakan bahasa kasar yang kemudian membuatku paham bahwa dalam kondisi apapun, sebaiknya aku tetap menggunakan bahasa halus.

Ada beberapa kosakata yang terkesan unik, seperti:

  • Sampeyan. Dalam bahasa Sunda artinya ‘kaki’ (untuk berjalan) tapi dalam bahasa Jawa digunakan untuk sapaan ‘kamu’ yang sangat halus/menghormati.
  • Istri berarti ‘perempuan’ dalam bahasa Sunda.
  • Kata-kata yang ber-suffix ‘os’, seperti supados (supaya), sepertos (seperti), dan pribados (pribadi). Kata-kata yang diserap dari bahasa nasional namun digubah… ya, bagiku lucu saja.
  • Yang satu ini, entahlah apa istilahnya, tapi langsung aku kasih contoh, ya:
  • Maneh (kamu), kalau jamak menjadi maraneh (kalian)
  • Anjeun (kamu, halus), kalau jamak menjadi aranjeun (kalian, halus)
  • Terkadang kata apapun itu bisa ditambah-tambah rima-nya seperti nongkrong jadi norongkrong, ngaliweut jadi ngalaliweut. Entahlah, mungkin tambahan-tambahan tersebut berfungsi untuk penekanan.

Secara tata bahasa, grammatically, bahasa Sunda sama saja dengan bahasa Indonesia. Itu mengapa tidak sulit untuk merangkai kata dalam bahasa Sunda. Pemula sepertiku hanya butuh memperbanyak kosakata dan mempelajari istilah-istilah setempat (bisa dibilang idiom atau phrase) yang sering digunakan karena kamus Sunda-Indonesia tidak selalu membantu.

Wallahu a’lam bish shawaab.

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s