Posted in My Dakwah Adventure, My Lifetime History

My Dakwah Adventure: “Pa Ja Sa” (Part Five)

Bismillaah. Ash shalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaah.

Alhamdulillah.

Menerima kenyataan bahwa aku harus mengampu tiga puluhan (atau bahkan empat puluhan) anak, aku pun mengatur strategi.

Perbandingan anak-anak pamegeut (laki-laki) sekitar 1:3 dengan anak-anak istri (perempuan). Karena itu, aku pun mensyaratkan bahwa pamegeut harus setoran hafalan satu-satu, beda dengan istri yang langsung maju tiga orang.

Oh iya, aku belum memperkenalkan Kang Epul. Orang-orang memanggilnya seperti itu meskipun nama lengkapnya adalah Saiful Malik. Beliau seorang ustadz di sini, meskipun anak-anak memanggilnya kakak/aa’. Beliaulah yang me-monitoring kami di lapangan, soalnya Pak Haji orang yang super sibuk. Kalau Pak Haji adalah manajer, maka Kang Epul ibarat asisten manajer. Pak Haji lebih fokus ke urusan manajemen dan ‘hubungan luar negeri’ sedangkan Kang Epul lebih terlibat ke pengurusan anak-anak dan masjid atau ‘hubungan dalam negeri’.

P_20160608_172451
Kang Epul

Jadi, Kang Epul cenderung memberikan kebebasan bagiku dan Daru tentang bagaimana sebaiknya kegiatan tahfidz sore ini berjalan.

Sebelumnya, mungkin aku paparkan dulu kegiatan-kegiatan di Masjid Al-Muttaqien ini. Secara umum, setiap siang pukul dua adalah kegiatan untuk anak-anak yang masih mengaji iqra’. Mereka notabene-nya anak-anak kelas empat ke bawah, sampai TK. Kalau sesi sore, pukul empat, adalah untuk kelas 4 ke atas yang sudah memiliki hafalan juz 30. Aku dan Daru hanya diminta untuk mengurus anak-anak di sesi sore. Mereka terdiri dari anak-anak kelas 4 – 8. Sesi siang diampu oleh para panitia yang merupakan anggota Remaja Masjid Al-Muttaqien (RMA).

Jadi, anak-anak sesi sore tersebut, oleh Kang Epul, guru besar mereka, diminta untuk menghafal dari Surah An-Naba, pangkal juz 30. Maka, ketika aku dan Daru mengampu mereka, kami meminta mereka untuk menyetorkan hafalan surah An-Naba 5 ayat setiap hari. Mungkin mereka bisa lebih baik dari itu namun jumlah mereka memang terlalu banyak.

Mereka semua, menurutku, Masya Allah adalah anak-anak yang hebat dengan kemampuan menghafal di atas rata-rata. Namun, karena delapan puluh siswa (atau santri pada momen pesantren Ramadhan) ini semuanya diasuh oleh Kang Epul saja. Memang sekali-sekali ada bantuan mengajar namun tetap saja Kang Epul adalah guru gaji sentral mereka. Untuk seorang guru, mengajar delapan puluh anak sekaligus tentu takkan maksimal. Atau setidaknya, butuh waktu. Mereka ini baru saja menyemarakkan tahfidz (menghafal) sebagai tema baru, karena sebelumnya mereka berfokus pada lagam/nada dalam membaca al-Quran. And it seemed did not work for them.

Maka dari itu, kali ini, aku dan Daru lebih berfokus pada perbaikan bacaan, tahsin. Serta tajwid.

“Amma yatasaa aluun!”

Aku sendiri, karena sangat perhatian dengan yang namanya pronunciation atau pelafalan alias fashohah, tentu akan sangat kritis, bahkan hanya dengan satu huruf yang keliru dibaca.

“ع” kataku. Huruf ‘a memang membutuhkan kemampuan khusus untuk memasukkan suara ke tenggorokan sehingga menghasilkan bunyi yang tak biasa. Bagaimanapun, ‘a berbeda dengan a biasa.

Ammmma. Ditahan agak lama, ghunnah.

Yatasaaaa… enam harakat!” ujarku, sambil menghitung dengan jari untuk mengira-ngira jumlah harakat yang enam. “Ini namanya mad wajib, harus dipanjang enam harakat.”

Rata-rata mereka kurang perhatian dengan yang namanya ghunnah, ikhfa, serta idgham maupun iqlab, yang harusnya ditahan sejenak ketika membacanya. Sebenarnya, ada banyak sekali pembaca dan penghafal al-Quran (tak kupingkiri bahkan di Kafila sekalipun, para fast readers) yang terburu-buru dalam membaca ghunnah, ikhfa, idgham (bighunnah), dan iqlab. Aku tidak perlu menjelaskan repot-repot apa semua itu ya, silahkan para pembaca buka lagi buku pedoman tajwid-nya.

Ya, bahkan kuakui selama dua minggu kedepannya aku masih terus menemukan kekeliruan di bacaan-bacaan yang perlu-ditahan-sejenak itu. Itu bahkan yang menjadi fokusku, karena bacaan al-Quran akan terdengar indah apabila hukum-hukum tersebut ditahan. Para qari biasa memanfaatkan kondisi ketika mereka menemukan ghunnah, ikhfa, idgham (bighunnah), dan iqlab, untuk memaksimalkan nada/cengkok, bahkan untuk nge-reff, istilah perlaguannya.

Dan satu hal lagi yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa mereka orang Sunda. Tahu sendiri kan orang Sunda. Mereka memiliki keterbatasan dalam pelafalan huruf fa, lalu huruf zay dan jiim sering terbalik, serta banyak huruf lainnya.

“Alladzii hum piihi muhtalipuun…”

“FIIHI MUKHTALIFUUN… Fa! Kho! Bukan ‘pa’ atau ‘ho’,”

“Jajaaa aww wiipaakoo…”

“JAZAAA… enam harakat, AWW WI, ditahan, WIFAAQOO, Fa, fa! Qo, qo!”

Begitulah keseharianku. Entahlah, sepertinya Daru pun begitu.

“Sebenarnya, cara membaca fa itu mudah, kamu hanya butuh menempelkan ujung gigi deri atas dengan bibir bagian bawah… coba, FA!”

“PA!”

“FA!”

“Pppff… PA!”

Belum huruf-huruf hijaiyyah lain yang lebih membutuhkan kefasihan lidah, seperti:

ض ص غ ظ ط

Termasuk huruf syiin, beberapa masih susah untuk mencekungkan lidah, sehingga bacaan mereka menjadi ‘sa’. Bahkan cara membaca tsa, syiin, dan siin dipukul rata, sama semua.

“Kaya ngusir ayam gitu, lho, SYU SYU SYU!”

“su, su, su…”

Memang, untuk menjadi seorang yang fasih dalam membaca al-Quran dibutuhkan pembiasaan. Aku sendiri, dulu, kekuranganku ada pada huruf ‘ain. Tapi seiring berjalannya waktu, aku pun sanggup mengucapkannya dengan fasih.

Memang tahsin dan tajwid itu butuh banyak waktu dan perjuangan. Sekalipun seorang pembaca al-Quran dapat mengucapkannya hari ini, belum tentu ia dapat egucapkannya lagi bulan depan jika ia tak lagi pernah, atau sangat jarang, membaca al-Quran dalam rentang waktu tersebut.

Namun yakinlah bahwa seorang pembaca al-Quran yang terbata-bata pahalnya justru dua kali lipat daripada yang sudah lancar dan fasih. Tahu haditsnya, kan?

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ ».

“Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

Sumber: https://muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html

Wallahu a’lam bish shawaab.

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s