Posted in My Dakwah Adventure, My Lifetime History

My Dakwah Adventure: Unstoppable, Indefatigable (Part Eight)

Bismillah, wash shalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillah…

Sebenarnya, aku juga memiliki aktivitas lain disamping mengajar tahfidz anak-anak di masjid, baik itu program khusus maupun reguler. Aktivitas tersebut adalah memperkenalkan Kafila ke MI Nurul Huda. Bisa dibilang ‘promosi dadakan’. Aku dan Daru tidak mempersiapkan apa-apa. Kami hanya bermodalkan cuap-cuap cerita masing-masing serta tulisanku di blog ini.

Pernah juga diadakan demo. Maksudnya, kami di tes hafalan Qurannya untuk memotivasi mereka dan agar mereka percaya kalau Quran itu mukjizat, gampang dihafal.

Tekadang, aku juga suka beraktivitas dengan notebook-ku di lingkungan MI, atau bahkan di dalam kantornya. Aku mendapati suasana yang… bagaimana ya, kind of nostalgic (entahlah kata nostalgic itu ada atau tidak ada di kamus). Suasana Sekolah Dasar yang penuh kesederhanaan, diisi oleh anak-anak polos yang tak kenal lelah. Aku dulu tak merasa belajar di sekolah padahal full day. Karena dulu aku menjalani masa-masa SD dengan sangat santai, bahagia, tanpa beban. Sekolah adalah suatu tempat yang dirindukan––banyak kawan, banyak cerita, seru-seruan. Sedangkan Hari Minggu adalah hari yang mungkin ditunggu-tunggu namun sebenarnya tidak disukai.

MI Nurul Huda sudah established sejak 1983. Lembaga yang perkembangannya cukup baik. Beberapa siswanya diterima di banyak sekolah/pesantren ternama di daerah setempat. Akibatnya, sedikit dari mereka yang berkualitas ingin melanjutkan straight way ke MTs Nurul Huda.

P_20160617_093551_EFF.jpg
MI Nurul Huda Paseh, Kab. Bandung

Ya, itu sekadar informasi saja 🙂 Semoga suatu saat nanti aku bisa mendirikan lembaga pendidikan juga di daerahku yang orientasinya kesuksesan dunia dan akherat.

Jadi, anak-anak pameugeut yang tergabung di halaqahku semuanya adalah siswa atau alumni MI Nurul Huda. Ada 4 orang yang sudah SMP dan none of them yang sekolah di MTs Nurul Huda. Bagiku, mereka semua adalah anak-anak yang amat spesial. Meskipun kegiatan kami tidak begitu spesial.

Jadi, aku sebagai pembina mereka setiap siang, ketika mereka sudah hadir, aku akan meminta mereka untuk membaca doa, lalu biasanya menanyakan, sudah siap belum? Kalau sudah siap, maka agar segera setor dan kalau belum siap ya disiapkan. Setelah itu merea persiapan masing-masing hingga sekitar satu jam dan semuanya sudah selesai setoran, kami berkumpul kembali untuk membaca doa kafaratul majlis. Ya, hanya begitu-begitu saja. 🙂

Tapi tentu saja TIDAK SELALU begitu.

Terkadang aku menyelipkan nasehat-nasehat singkat. Atau aku tampilkan kepada mereka video-video penyemangat, seperti penampilan para peserta Hafiz Indonesia di TV. Kegiatan di halaqah memang terkesa flat, namun anak-anak itu terkadang mewarnainya dengan candaan pendek penghilang kejenuhan, karena somehow, ini bukanlah kegiatan yang biasa mereka lakukan. Aku sangat salut karena mereka tampak antusias menjalaninya.

Nah, yang menarik justru adalah kisah-kisah di luar halaqah. Kesempatan-kesempatan di mana kami bercengkerama, atau mendiskusikan sesuatu. Dan, yang khas dari anak-anak adalah, pertanyaan bercabang.

Pertama-tama, ceritanya, kami sedang membahas sunnah-sunnah di hari Jumat, seperti datang ke masjid ke awal waktu, mandi dan potong kuku, lalu membaca surah al-Kahf.

“Jadi, Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjamin barang siapa yang hafal 10 ayat dari surah al-Kahfi maka akan diselamatkan dari fitnah Dajjal.”

…..

“Kak, Dajjal itu di mana, ya?” Jadi cerita Dajjal.

“Dajjal itu…. blablabla, ada seorang sahabat Nabi yang mengaku pernah melihat Dajjal… blablabla… jadi, nanti Nabi Isa ‘alaihissalam akan turun ke dunia dan Dajjal langsung meleleh ketika melihatnya.”

“Kak, Nabi Isa itu masih hidup, ya?”

“…” Jadi cerita Nabi Isa, bahkan ringkasan kejadian-kejadian di hari Kiamat.

“Kak… Kak… Kak…”

“…” sampai aku secara tidak cantik memutuskan untuk menutup dengan kaffaratul majlis. Entah sudah sampai mana akar pembicaraan kami menembus bumi ceritera itu.

Dan, sebenarnya, jadi narasumber itu sangat menyenangkan. Apalagi kalau obrolan panjang itu bisa menjadi semangat baru untuk mereka yang mendengarkan.

Anak-anak sarat keingintahuan. Ingin sekali aku mebelikan mereka buku-buku yang dapat memuaskan curiosity mereka.

Karena aku sempat sakit hati ketika mereka mendapati hiatus, waktu kosong yang benar-benar kosong, mereka isi dengan hal-hal yang kurang (bahkan sangat sangat tidak) bermanfaat. Keluar dari mulut-mulut mereka lantunan syair-syair (maaf) bodoh karya musisi pecinta hawa nafsu dunia. Untaian nada cinta yang semu disenandungkan oleh tenggorokan yang sama dengan tenggorokan yang siang harinya membaca al-Quran.

Biasanya kalau sudah seperti ini, aku akan menyudahi ketidaksabaranku dengan menulis puisi, meskipun tak selalu berima. Mungkin kalian ingin membaca puisi spontanku ketika emosi?

Sering aku mengkritisi mereka lewat nasehat-nasehat, kadang secara halus maupun agak keras, namun tetap saja.

Karena aku sadar, tak mungkin langsung mengubah keadaan.

Mereka telah tumbuh dengan hal-hal itu. Mereka tumbuh di lingkungan seperti itu, menjadi seperti itu. Kalau saja aku jadi mereka aku tahu mungkin aku bisa lebih buruk. Karena lingkunganku sebelas-dua belas dengan mereka. Bahkan di keluargaku sekalipun. Hanya saja, Allah menakdirkanku dikurung di penjara suci, pesantren, sedangkan mereka terkurung di penjara rumah masing-masing, lingkungan masing-masing, dengan segenap pengaruhnya yang kelam. Namun, tetap, dibalik semua kesuraman itu, aku tetap dapat melihat binar itu dari mata-mata mereka. Masih ada secercah harapan. Aku berpikiran bahwa kalau bukan dengan Quran maka dengan apa lagi mendakwahi mereka. Perjalanan ini sangat panjang, butuh waktu dan pengorbanan. Betapa besar harapanku kepada mereka, karena mereka adalah para pemuda umat ini.

Saiful Khaliq dengan kemampuannya di atas rata-rata, sungguh disiplin dan penurut.

Eri Ari pemilik sebaik-baik bacaan, leluconnya mengundang tawa.

Arif si lincah yang selalu bersemangat dan antusias.

Ihsan si kalem yang diam-diam cerdas.

Duo Akmal pemilik mizmar dari mizmar-mizmarnya Nabi Dawud, amat merdu tilawahnya

Thoriq sang supel yang pintar dan bersahabat

Jihad yang sederhana dan baik hati

Senyum di bibir ini tersungging saat melihat tingkah laku mereka. Jungkir balik sana-sini, bercanda dengan riang gembira. Tak ada capeknya. Sangat aktif. Kusadari bahwa mereka memang masik anak-anak, meskipun mungkin fisik mereka lebih dewasa dari pada itu. Tapi mereka masih belum menjadi dewasa.

Aku sangat paham bagaimana rasanya menjadi seorang juvenescence, tidak anak-anak dan tidak dewasa, karena dulu aku pernah mengalaminya. Masa-masa peralihan yang sangat menentukan. Sungguh, kalau bukan al-Quran dan agama yang mengisi masa-masa peralihan tersebut, maka aku tidak rela hal apapun selain itu.

Demi segenggam iman mereka.

Dan… ini dia puisi spontanku.

Kakak tidak kuat melihat perilaku kalian.

Kakak tidak sanggup mendengarkan kalian menyanyikan syair-syair cinta semu itu

Kakak nggak mampu menyaksikan kenyataan bahwa kalian tumbuh seperti ini

Sore mengaji, pagi menyanyi

Sayang, lagu kalian jauh dari ridha Ilahi

Padahal kalian harapan umat ini

 

Bagaimanakah masa depan umat ini nanti?

Melihat muda-mudi yang terlalu jauh dari kalam Ilahi

Bisa mengaji, namun tanpa pacar hidup bak tak berarti

Tilawah merdu sekali, tapi lagu cinta tak absen setiap hari

Shalat mungkin lima kali, namun hanya sekadar rutinitas

Usai salam seakan iman terlepas

Bagian hati untuk mengingat Tuhan nyaris lenyap tanpa bekas

Lantas kembali ke dunia yang jahat ini,

Yang hanya mengungguli orang-orang bereputasi

Asal punya uang, jabatan, jadi mulialah diri

Kesuksesan diukur dengan prestasi duniawi

Padahal malaikat telah sejak lama siap menanti

Ada yang mencabut nyawa, ada yang menanyakan perkara itu-ini

 

Pahala dan dosa begitu abstrak,

Lantas aturan agama dilabrak

Asal nafsu senang, perkara haram pun ditabrak

 

Ya Allah, apa yang akan Nabi katakan kalau hari ini Engkau masih memberinya denyut nadi?

Kecewa? Betapa tidak, agama yang telah diperjuangkan hanya menjadi pelengkap kartu identitas belaka

Murka? Asal dalam agama, ia pasti murka

Tapi Nabi tidak seperti itu

Ia sangat penyayang. Ia senantiasa mendoakan

Melihat umat ini sekarang,

Apakah pantas menerima syafaat beliau yang mahal

Padahal surga Allah tidak bisa dibeli dengan apapun kecuali dengan ridha-Nya

Sejauh apakah umat ini sekarang dari menggapai ridha itu?

Di mana para pejuang umat ini?

Mana Usamah bin Zaid yang merengek karena tidak diterima ikut perang Badar sebab usia belia?

Mana Muhammad Al-Fatih, penakluk Kostantinopel di usia 21 yang tidak pernah bolos tahajud?

Mana Imam Syafii yang hafal Quran di usia 7 tahun dan kemudian menjadi ulama besar?

Mana umat yang dahulu disebut-sebut Nabi, “ummati, umamati, ummati,” menjelang wafatnya?

 

Allahumma inni as alukal huda wat tuqo wal ‘afafa wal ghina

Wallahu a’lam bishshawab.

 

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s