Posted in My Dakwah Adventure, My Lifetime History

My Dakwah Adventure: Life of a Da’i (Part Ten)

Bismillaah, ash shalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah.

Mungkin ceritaku yang bagian ke-10 ini dan ke-11 nanti bisa disebut interlude, atau selingan. Aku sengaja agar para pembaca tidak terlalu terburu-buru untuk menyudahi petualangan dakwahku ini.

Sekarang, aku akan lebih banyak bercerita tentang tugasku di luar mengajarkan anak-anak mengaji. Lebih tepatnya, sebagai seorang imam shalat maupun orator kultum sebelum tarawih.

Perspektif pribadiku, menjadi imam itu memang tidak mudah. Butuh pembiasaan berulang kali. Salah satu hal yang paling kusyukuri untuk menjadi alumni Kafila adalah kami sudah pasti terbiasa dengan hal ini. Kami, para alumni, telah dilatih sejak MTs untuk maju memimpin shalat, meskipun itu shalat yang silent seperti Ashar. Ketika masih menjadi santri, kami digilir berjadwal. Seiring dengan kenaikan kelas, shalat yang dipimpin pun menjadi shalat jahr atau bersuara, seperti Maghrib. Beberapa santri yang dianggap paling berkualitas dari segi bacaan dan hafalan diberi kesempatan untuk memimpin tarawih berjamaah di pesantren, bahkan di masjid-masjid sekitar pesantren.

Jadi, menjadi imam shalat bagi kami ibarat makan nasi bagi kami––sudah biasa.

Hanya saja, terkadang makan nasi tidak selalu mengenakkan, apalagi kalau nasinya belum matang. Maksudku, terkadang, menjadi imam kalau tanpa persiapan juga sangat mengganggu, terutama kekhusyuan. Apalagi kalau si imam keliru dan di belakangnya tidak ada yang membenarkan, bahkan tidak ada yang hafal. Ini adalah problem terbesar bagi seorang imam.

Nah, di Masjid Al-Muttaqien ini, Pak Haji Usep, Kang Epul, Daru, dan aku digilir memimpin shalat isya, tarawih, witr, dan kultum. Jadi, dalam tiga minggu, aku dan Daru mendapatkan banyak sekali jadwal. Masing-masing enam kali imam dan enam kali kultum. Ini belum termasuk shalat-shalat fardhu yang lain, kultum Subuh, dan adzan. Jadi, salah satu kemampuan yang harus dimiliki alumni Kafila juga adalah: spontanitas.

Kami sering maju menjadi imam maupun penceramah tanpa persiapan yang matang. Memang, ketika maju terkadang terasa kurang maksimal. Tapi mau bagaimana lagi? Aku dan Daru hanya kosong di pagi hari hingga beberapa saat setelah Zuhur. Jadwal kami full dari jam 1 siang hingga shalat witr. Setelahnya, sering sekali kami diajak berdiskusi dengan Kang Epul atau Pak Haji. Sehingga setelah itu pun kurang efektif untuk beraktivitas kecuali ibadah (misal: tilawah) dan aktivitas-aktivitas ringan.

Tapi, alhamdulillah, aku dan Daru sangat menikmatinya. Kami justru lebih senang sibuk daripada menganggur. Kami juga cukup pandai berimprovisasi tanpa persiapan pada kegiatan-kegiatan, karena kami sudah cukup terlatih sebagai satu tim ketika di organisasi dulu, khususnya pada Department of Foreign Language. Meskipun seringkali melelahkan. Namun, tetap saja menyenangkan.

Kultum yang biasa kuberikan pada masyarakat adalah kultum yang bertemakan keimanan. Aku berusaha menghindari permasalahan fiqh yang tidak selalu pasti. Aku lebih suka berbicara tentang peringatan-peringatan, surga-neraka, muhasabah diri, dan semacamnya. Aku ingin masyarakat tergerak dulu untuk beramal. Jadi, mereka tidak hanya beramal buta tapi memang ingin mengharap ridha Allah dan surga-Nya. Agar keimanan mereka akan kehidupan yang nyata di akherat itu memang pasti terjadi. Dan tentu saja aku juga menasehat idiriku sendiri. Aku biasanya memulai kultumku dengan pernyataan bahwa aku sebenarnya bukanlah siapa-siapa.

“Saya berdiri di sini bukan berarti saya yang paling fasih lisannya, bukan pula yang paling banyak ilmunya. Saya hanya bermaksud untuk meneladani hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘addiin ann naashiihah’, agama adalah nasehat.”

Mungkin banyak orang, terutama yang pemula sepertiku, akan takut menyampaikan nasehat sebab khawatir diri sendiri belum mampu melaksanakan apa yang disampaikan. Masih butuh pembenahan, kurang ilmunya. Masih harus ngaca dulu. Terus terang, aku pun begitu. Tapi, kalau bukan aku yang menyampaikannya maka siapa lagi? Jadi, justru dengan menjadi da’i, kita lebih tergerak untuk memperbaiki dan memotivasi diri sendiri untuk mengamalkan apa yang telah kita sampaikan.

Baru, setelah itu, aku sedikit memasukkan permasalahan yang fiqhiyyah namun tanpa perdebatan, dan aku sangat menekankan persoalan hijab. Aku yakin, siapapun itu yang tidak berpikiran liberal pasti berkeyakinan bahwa hijab bagi wanita adalah sebuah keharusan. Bukannya menghijabi hati dulu, karena akhlaq orang takkan ada yang sempurna.

Namun, bukan berarti apa yang kusampaikan lantas segera dilaksanakan. Dakwah di zaman ini butuh kesabaran. Pelan-pelan. Sejenak aku pun merindukan zaman ketika jalanan Madinah dibanjiri khamr karena minuman arak tersebut baru saja diharamkan. Teringat para wanita di zaman Rasul yang bersegera bahkan meminjam kain ke saudarinya, karena tidak punya, ketika menghijabi seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan baru saja diwajibkan. Merekalah orang yang bersegera dalam kebaikan. Semoga kita semua bisa meneladani mereka, para sahabat. Amin 🙂

Nah, bercerita tentang menjadi imam shalat, bagiku tarawih adalah yang paling menantang. Di satu sisi aku ingin sekali shalat dengan khusyu, namun di sisi lain hafalan yang belum mutqin cukup menyibukkan pikiran dan membagi fokus. Belum persoalan mic yang tidak pas ke mulut sehingga tangan pun sibuk menyesuaikan posisi mic.  Dan tentu saja, menggunakan nada/lagam yang merdu termasuk bagian yang penting agar masyarakat lebih betah berdiri untuk shalat. Bagaimana seorang imam dapat menyesuaikan agar nada seirama dengan ayat yang dibaca. Tapi yang terpenting tentu saja, tajwid. Nada tidak boleh menyebabkan tajwid menjadi belepotan karena mengikuti irama. Justru irama yang harus mengikuti tajwid.

Menjadi imam juga harus melihat keadaan makmum yang diantara mereka terdapat orang-orang tua dan anak-anak yang tak bisa berdiri, rukuk, atau sujud terlalu lama. Suaranya harus lantang agar yang shalat di belakang tidak kebingungan. Dan tentu saja, harus benar-bebar siap secara fisik. Bayangkan kalau sang imam tiba-tiba batal wudhunya ketika sedang sujud, padahal ia mengimami orang-orang awam. Ya, begitulah tantangannya. Seorang imam, atau pemimpin, pula yang akan dipertanggungjawabkan atas makmumnya, para anggotanya, di hari kiamat.

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّت) متفق عليه

“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)

Sumber: https://muslimah.or.id/248-jagalah-keluargamu-dari-neraka-1.html

Aku berdoa pada Allah agar memaafkanku, Daru, dan semua teman yang masih belum sempurna ketika menjadi pemimpin shalat, dan agar Allah memperbaiki diri kami semua sehingga patut menjadi pemimpin yang dicontoh kebaikannya. Aamiin.

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s