Posted in My Dakwah Adventure, My Lifetime History

My Dakwah Adventure: The First AUBA Generation (Part Twelve, end)

Bismillaah, ash shalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah.

Alhamdulillah, bagian ke-12 ini kuputuskan untuk menjadi bagian terakhir, kuharap aku dapat menjadikan bagian ini yang terbaik dari sekuel Petualangan Dakwah.

Hari itu Hari Ahad, 26 Juni 2016. Sore hari. Persis ketika mentari sore sudah mulai mengantuk. Tapi kami, para penghafal al-Quran Masjid al-Muttaqien tetap bersemangat. Ini adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu––siapakah para pemenang ‘Hafiz Cigentur’.

Akhirnya, di level reguler, Lisna berhasil menjadi juara pertama, disusul oleh Livia, lalu Putri. Livia bagiku adalah yang terbaik, namun sayang hafalannya kurang lancar.

Dan tentu saja, khalayak telah menunggu-nunggu siapa yang menjadi juara di level takhassus, para Sabiqun. Aku tulis kembali, para finalis adalah Eri, Amel, Arif, dan Nadia. Juaranya, tentu saja, seperti yang para penonton sudah jelas saksikan, adalah Eri. Ia menang telak di babak final. Soal-soal rebutan sebagian besar ia lahap sendiri.

Maka khalayak menebak-nebak siapa yang meraih juara setelahnya. Juara terakhir pun sudah jelas, Nadia, karena ia tidak berkutik di babak rebutan.

Tinggal Amel dan Arif.

Aku tidak begitu tahu perkembangan Amel, yang jelas, bagi Daru, ialah pemilik bacaan dan hafalan terbaik di halaqah istri, perempuan.

Arif, bagiku adalah anak yang sangat bersemangat, meskipun sebelum kompetisi ia sempat hendak mengundurkan diri karena takut kalah.

“Aku mundur kak, yang menang pasti Eri.”

“Kalau kamu mundur dari kompetisi hanya karena takut kalah, berarti tujuan utamamu berkompetisi hanya untuk menang, dapat hadiah,” kataku. “kompetisi itu ajang bagi kita untuk mengukur sejauh mana kemampuan kita, dan tentu saja, tujuan utamanya adalah ridha Allah. Semoga dengan kompetisi ini hafalanmu jadi lebih lancar dan kamu lebih percaya diri, serta lebih banyak berinteraksi dengan al-Quran.”

Pada akhirnya, Arif malah mengungguli Amel. Entahlah apa yang ia rasakan setelah perjuangannya. Sesederhana apapun sebuah kompetisi pasti menyisakan kepuasan tersendiri ketika dapat mengungguli seorang saingan yang selama ini terkenal high-classed, bukan begitu?

Setelahnya, ada penghargaan khusus untuk anak-anak Sabiqun yang berhasil tilawah al-Quran terjauh. Penghargaan pertama jatuh pada Regina yang sudah sampai surah Muhammad, juz 26. Disusul oleh Amel (lagi) sebagai peraih penghargaan kedua atas pencapaiannya di surah Yunus, juz 11. Sangat jauh jaraknya, ya? Para pameugeut kebanggaanku bahkan belum ada yang sejauh itu.

Lalu, tibalah saat yang paling menegangkan; siapa yang dinobatkan sebagai Sabiqun terbaik.

Sebagaimana yang telah kuberitahu di tulisan yang lalu, Saiful Khaliq adalah santri yang kemudian kupilih sebagai pameugeut terbaik di halaqah-ku. Sebenarnya, kualitasnya sebelas-dua belas dibandingkan Eri, dan yang dua belas milik Eri. Hanya saja, Saiful Khaliq kuunggulkan karena akhlaqnya yang sopan dan ramah. Eri… hmm, ia memang easy-going, hanya saja, ia harus dapat mengendalikan lisan dan gerak-geriknya agar tidak sampai keterlaluan.

BEST[1].jpg
Terbaik Pameugeut: Saiful Khaliq
Di halaqah istri, Daru sangat bingung untuk memutuskan Amel atau Regina. Ibarat Saif dan Eri, mereka sebelas-dua belas, dan dua belas lima belas milik Amel. Hanya saja, sekali lagi, akhlaq. Ingat, akhlaq termasuk cara berpakaian. Lagipula, Regina, selain lebih santun, ia juga telah mengungguli semua anak di tilawah dengan pencapaian yang sangat jauh. Maka dari itu, Daru pun memilih Regina sebagai Sabiqun terbaik dari istri. Regina pun menjadi sosok yang fenomenal, karena ia juga anggota Sabiqun termuda, masih kelas 5 SD.

Acara pembagian hadiah berlangsung cukup tenang karena aku tidak membolehkan mereka bertepuk tangan dan apalagi bersorak. Soalnya, ini masjid, bukan stadion, alasanku. Jadi, tepuk tangan diganti dengan takbir.

Setelah pembagian hadiah untuk para santri Pesantren Ramadhan terbaik, aku dan Daru dibuat terkesima oleh mereka, para anak didik kami, juga memiliki bingkisan khusus untuk kami. Regina bahkan memberikan kami al-Quran saku. Tas-tas dan kantong-kantong plastik kami terima. Kami dapat menebak isinya: pakaian dan makanan. Sandang dan pangan. Dan sebenarnya, apresiasinya tidak sampai di situ saja. Nanti, ya, diceritakan.

Aku dan Daru pun tak lupa menyampaikan kalimat-kalimat terakhir kami di Masjid Al-Muttaqien.

Aku secara pribadi meminta maaf dan mengucapkan terimakasih kepada siapapun yang telah menjadi bagian dari perjalananku di Cigentur ini, khususnya pada program tahfidzul Quran Masjid Al-Muttaqien ini. Terakhir, aku menekankan pada anak-anak agar terus mengingat orangtua. Karena, ketika kita ingin melanggar aturan di sekolah, misalnya, orangtualah yang pertama kali bersedih. Dan sebaliknya, ketika kita berprestasi, orangtualah yang akan menjadi paling bangga dan bahagia. Alhamdulillah, speech singkatku itu sampai membuat hati seseorang tersentuh. Ia menangis. Mungkin ada yang lain, entahlah. Yang jelas, itu membuktikan bahwa hatinya, atau mereka, masih jernih, masih menyimpan potensi kebaikan.

Sebelum acara penutupan itu diakhiri secara resmi, tim panitia dari Remaja Masjid Al-Muttaqien masih memiliki acara bagi-bagi hadiah. Kesempatan ini kumanfaatkan untuk berkumpul terakhir bersama Assaabiquunal Awwaluun, pameugeut maupun istri, di lantai dua.

Aku menyampaikan apresiasiku kepada mereka semua serta permohonan maaf. Serta aku tetap menekankan satu poin: kaderisasi. Bahwa mereka menjalani program khusus, dipisahkan dari yang lain, bukan untuk kesombongan, bangga-banggaan. melainkan, ada beban yang harus mereka pikul. Merekalah kelak yang akan menjadi ahli waris Masjid Al-Muttaqien, terutama mereka yang tidak meneruskan pendidikan di pondok pesantren.

“Yang perlu kalian tanamkan dalam diri-diri kalian adalah bahwa kalian adalah pembawa al-Quran. Kita memiliki musuh di luar sana yang baru akan kalian sadari ketika kalian beranjak dewasa, lepas dari sekolah. Orang-orang Kafir dan siapapun yang membenci Islam, merekalah musuh-musuh kita yang nyata. Senjata apa yang paling ampuh untuk melawan mereka kalau bukan kitab suci kita?”

“Berpacaran, lagu-lagu yang para remaja sekarang senandungkan, merokok, dan semacamnya, adalah hal-hal yang terlalu rendah bagi para penghafal al-Quran karena mereka adalah bagian dari keluarga Allah dan orang-orang yang dikhususkan-Nya.”

“Terakhir, kakak tegaskan bahwa kalian bukan hanya harapan Masjid Al-Muttaqien, bukan pula hanya harapan keluarga, orangtua, Desa Cigentur. Tapi, di atas semua itu, kalian adalah harapan umat ini. Masa depan umat Islam ada di tangan-tangan kalian. Kalau kalian malas, maka bagaimana masa depan umat Islam kelak, di masa mendatang?”

Aku menunjuk Saiful Khaliq dan Regina sebagai ketua mereka, karena komunitas ini harus terus berlanjut. Dan juga karena aku Insya Allah akan berdomisili di Bandung, aku berjanji untuk tetap mengontrol mereka, apabila ada kesempatan, Insya Allah. Mereka, bagaimanapun, adalah bagian dari umat ini yang harus diperjuangkan. Aku sendiri belum pernah menemukan anak-anak sebrilian mereka, masya Allah. Aku menaruh harapan yang besar agar mereka dapat menjadi para penghulu penghafal al-Quran di daerah mereka.

Aku pun mengganti nama Assaabiquunal Awwaluun menjadi AUBA, nama yang bagi para pembaca sudah tidak asing dan sangat membuat penasaran. AUBA adalah singkatan dari ‘Amalul Ummah Ba’da Allah’, harapan umat setelah Allah. Dengan nama itu, kuharap anak-anak hebat (masya Allah) itu dapat terus bersemangat dengan motivasi harapan umat, bukan hanya harapan biasa.

Dengan penamaan itu, aku pun ikut termotivasi untuk terus berusaha mencapai cita-citaku mendirikan sekolah AUBA. Sekolah yang tidak hanya mengkader profesor dan cendekiawan, melainkan mereka yang mengambil bagian untuk menyongsong masa depan cerah umat ini.

Merekalah generasi AUBA yang pertama dalam hidupku. Generasi yang harus kupegang hingga mereka benar-benar menjadi harapan umat ini setelah Allah Sang pengabul doa. Anak-anak AUBA-lah yang menjadi wasilah akan pertolongan Allah kepada ummat ini, insya Allah.

***

Kereta api kami melewati perjalanan yang sangat panjang, tiga pekan lamanya. Kami melewati berbagai macam tempat, menembus musim-musim, diterpa angin kencang, diapanaskan sinar matahari yang menyengat, dihujani awan hitam yang menangis deras. Kereta kami amat kuat namun mulai rapuh. Para penumpang bertanya-tanya kapan sampai, padahal telah tahu tandanya bahwa kereta akan sampai di pemberhentian terkahir.

Para penumpang, dengan seribu satu karakter, mulai berbaur satu sama lain, menyadari bahwa mereka berada dalam kereta yang sama dalam waktu yang sangat lama. Mereka berusaha saling memahami, menghargai. Meskipun ada kaca yang pecah karena ulah tangan-tangan jahil, namun pak separasi yang berada bersama penumpang cepat memperbaiki. Lantai kereta pun sempat kotor karena kejatuhan air minum seorang penumpang, tapi dengan cepat ibu-ibu yang baik menanggapinya dengan merelakan sapu tangannya.

Alangkah indahnya kebersamaan di kereta tersebut, meskipun sang masinis sangat kelelahan. Mereka hanya berdua, bergantian.

Aku membayangkan petualangan dakwahku di Cigentur ini ibarat kereta api kuat itu. Dari cerobongnya mengepul asap kenangan sepanjang perjalanan panjang kami. Sang masinis, aku dan Daru, akhirnya menyadari bahwa petualangan ini akan segera usai. Kami merasa sangat lega, meskipun di sisi lain kami merindukan untuk mengemudikan kereta api ini lagi dalam perjalanan yang lain, mungkin bersama para penumpang, adik-adik kecil kami, yang sama atau berbeda. Menghadapi berbagai macam tantangan yang mendewasakan sang masinis. Belajar untuk saling melengkapi alih-alih menjatuhkan.

Alhamdulillah. Tibalah saatnya bagi para masinis untuk kembali. Hadiah-hadiah terakhir datang dari para penumpang senior kami, bapak-bapak dan ibu-ibu Desa Cigentur, yang memberikan kami banyak sekali apresiasi, baik materiil maupun moril. Termasuk uang tunai yang terlalu banyak bagi kami.

Dan yang sangat berkesan, para penumpang VIP kami, barudak AUBA, terus menyertai kami hingga kami benar-benar pergi. Kami dan anak-anak pameugeut pun menyempatkan berfoto-foto. Tidak lupa, tentu saja, kami bersalam-salaman. Lebih tepatnya, sungkem panjang. Anak-anak itu berharap dengan cium tangan yang lama, ilmu kami dapat tertransfer ke mereka. Memang tidak masuk akal tapi begitulah cara mereka menghormati kami.

FOTBAR[1].jpg
Kiri ke kanan: Thoriq, Daru, Kang Epul, Aku, Saiful Khaliq, Eri, Arif (di depan sendiri)
Aku dan Daru diantar Pak Haji dengan mobil pribadinya menuju stasiun Cicalengka agar kemudian kami dapat langsung menuju Stasiun Bandung. Setelahnya, Daru langsung ke Cirebon sedangkan aku menginap, lebih tepatnya i’tikaf, terlebih dahulu satu malam di Masjid At-Tiin Jakarta Timur. Keesokan harinya baru lepas landas ke Bengkulu.

Selepas kepergianku dan Daru, aku menerima banyak sekali SMS. Entahlah apakah Daru juga. Isi SMS-nya? Bermacam-macam. Tahu sendiri, kan, bagaimanana rasanya rindu berat? Hmm… Aku tidak peduli seberapa rindu mereka dengan guru-guru muda mereka. Aku hanya berharap, kedatanganku dan Daru dapat membekas di hati-hati mereka, sehingga menjadi penggerak mereka untuk menjadi penghafal Quran sejati, bukan justru memudarkan semangat mereka.

Aku sungguh tak sabar memulai lembaran baruku bersama para AUBA di masa pendatang, melihat mereka tumbuh besar dan menjadi unggulan umat ini.

Subhanaka Allahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illa Allah, astaghfiruka wa atuubu ilayh.

Wallahu a’lam bishshawaab.                                                                                                       

Home Sweet Home

at Kepahiang, 2 Juli 2016

 

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

3 thoughts on “My Dakwah Adventure: The First AUBA Generation (Part Twelve, end)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s