Posted in My Dakwah Adventure, My Lifetime History

My Dakwah Adventure: Wear Your Socks, Please! (Part Eleven)

Bismillaah. Ash shalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah.

Alhamdulillah, pembaca masih setia di serial Petualangan Dakwahku hingga bagian ke-sebelas, semoga, alih-alih membosankan, tulisan ini dapat menginspirasi teman-teman pembaca.

Jadi, bagian ke-sebelas ini masih bagian selingan, sebagaimana bagian ke-sepuluh.

Aku sangat menekankan kepada para santriku agar mengutamakan akhlaq di atas kemampuan membaca maupun menghafal al-Quran. Karena percuma seseorang mahir dengan al-Quran tapi akhlaqnya tidak mencerminkan kitab yang ia hafal. Justru, al-Quran pun dikambinghitamkan.

‘Alah, yang menghafal Quran saja begitu. Lebih baik tidak usah hafal Quran tapi berbudipekerti baik.’

Salah satu bagian dari akhlaq adalah hubungan sesama teman.

Tentu saja aku tidak melarang mereka untuk bercanda. Tapi, terkadang mereka terlalu berlebihan. Apalagi kalau sudah menyentuh daerah kepala yang sangat urgent pada manusia. Ingat acara smack down?

Termasuk bagian dari akhlaq juga adalah menjaga lisan. Aku sangat tidak suka kalau ada yang berkata kotor dan/atau mengumpat di depanku. Karena, kalau di depan gurunya saja begitu, bagaimana di belakang?

Namun, aku tetap tidak bisa menafikan faktor lingkungan yang mengasuh mereka. Tugasku, sebagai seorang da’i, adalah menyeru dan memberi contoh. Adapun kesadaran timbul dari di masing-masing dan hidayah datang dari Allah.

Tentu saja, menyikapi hal ini, aku harus sangat bersyukur. Karena aku yakin adalah pahala yang lebih besar untuk tantangan yang lebih sulit. Allah, kan, ingin melihat usaha kita. Dikasih ujian apa, bagaimana kita menyikapinya. Apakah bersyukur dan terus maju, adu kufur dan justru menyerah.

Tentu saja, di setiap tempat, ada orang-orang yang cenderung pada kebaikan dan ada pula yang sebaliknya. Kurasa sudah merupakan hukum alam alias sunnatullah. Tapi, di lingkungan Desa Cigentur ini, anak-anak sebenarnya tidak seburuk yang mungkin pembaca bayangkan. Mereka bersedia mengaji di masjid saja sudah menunjukkan bahwa mereka sebenarnya anak-anak baik atau anak-anak yang ingin menjadi baik, setidaknya mereka menaati perintah orangtua untuk mengaji. Masya Allah.

Hanya saja, satu-dua kali nasehat cenderung belum membekas. Mereka masih akan terus melakukan hal-hal buruk yang mereka anggap biasa saja. Nah, ini sebenarnya menyisakan tanda tanya besar dalam benakku, karena selama ini aku belum pernah berhasil mengobati anak-anak semacam ini kecuali dengan satu hal: BERPISAH. Ya, berpisah. Maksudku, dengan kepergianku, banyak anak-anak yang merasa bersalah lantas memperbaiki diri. Ibarat orang yang menyesal kemudian ketika kenikmatan itu hilang ia baru mencoba bersyukur. Rasa rindu kadang berbuah motivasi, dan itulah yang biasanya terjadi pada anak-anak yang pernah kuampu sebelum ini.

Berbicara akhlaq, tentu saja penampilan termasuk bagian yang penting. Karena image seseorang akan terlihat dari bagaimana caranya berpakaian. Kepada anak-anak yang beranjak remaja ini, aku sangat menekankan untuk menutup aurat. Di hari pertama kedatanganku dan Daru, semua anak-anak perempuan tidak ada yang berkaos kaki. Alhamdulillah, setelah peringatan, banyak yang sadar. Aku  membacakan kepada mereka kisah Asma binti Abu Bakar ketika menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha, beliau berkata,

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, “wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”,beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud 4140, dalam Al Irwa [6/203] Al Albani berkata: “hasan dengan keseluruhan jalannya”)

Sumber: https://muslimah.or.id/6422-saudariku-kaki-juga-aurat-yang-wajib-ditutup.html

Ke depannya, aku justru menekankan; barang siapa yang tidak menggunakan kaos kaki maka aku tidak menerima setorannya. Sehingga, satu-dua anak yang lupa menggunakan kaos kaki harus meminjam sementara ke temannya. Alhamdulillah, semakin hari, mereka semakin terbiasa dan sebenarnya memang hal itulah yang harus mereka lazimkan.

Kakak tidak ingin menyusahkan kalian, tapi kakak berharap bagi kalian surga.

Satu hal lagi yang membuatku sangat bersyukur adalah kebiasaan merapatkan shaf shalat. Tentu saja, merapatkan shaf shalat berjamaah termasuk bagian dari kesempurnaan shalat.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,

سوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَفِّ مِنْ تَماَمِ الصَّلَاةِ

”Luruskan shaf kalian, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat.” (HR. Muslim 433).

Sumber: https://konsultasisyariah.com/22323-imam-memerintahkahkan-makmum-untuk-merapatkan-shaf.html

Alhamdulillah, semakin berganti hari, masyarakat pada akhirnya saling mengingatkan satu sama lain ketika shaf mereka tidak rapat. Kuharap budaya ini diteruskan dan semoga menjadi amal jariyah.

Wallaahu a’lam bisshawaab

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s