Posted in kafila

The Greatests

Bismillah, washshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaah

6 tahun di Kafila adalah masa yang sangat lama. Namun, ketika sorban wisuda itu telah dikalungkan, semua terasa terlalu cepat berlalu. Padahal, diri ini belum menjadi orang yang benar-benar menuntut ilmu. Menjadi bagian dari santri Kafila adalah sebuah amanah besar, di mana kami harus menyeimbangkan hafalan al-Quran, hadits, pelajaran-pelajaran IPA, serta kosakata bahasa Arab dan Inggris. Ada banyak penyesalan, meskipun ada pula kesyukuran serta kelegaan.

Di atas semua itu, salah satu kesedihanku meninggalkan Kafila adalah, berarti bahwa, aku juga meninggalkan orang-orang yang selama ini kuanggap penting dalam hidupku. Merekalah inspirasi. Dan berinteraksi dengan mereka adalah suatu hal yang berharga seumur hidup, karena mereka sangat tinggi daripada diriku dan orang-orang. Mereka para penghulu kami dalam hampir segala hal.

Pada tulisan ini, aku ingin membagi profil sebagian mereka yang telah Allah lebihkan kemampuannya di atas yang lain, salah satunya karena usia mereka yang lebih muda dariku namun pencapaian mereka jauh melampauiku. Semoga Allah memberi keberkahan pada mereka dan kita semua.

  • Muhammad Zaky Ashshiddieqi

Usianya sekitar 8 bulan di bawahku. Asalnya Malang, Jawa Timur. Ia memiliki banyak sekali kelebihan. Namun, namanya tidak sampai tertulis di posting ini karena ia juara ini dan itu, melainkan karena bagaimana ia menyikapi hal itu. Ia adalah orang yang sangat berorientasi akhirat. Ia tidak berharap dunia meskipun ia mendapatkannya. Sungguh banyak hal yang dapat kuceritakan tentangnya.

Zaky adalah sosok berjiwa saintis. Ia dibesarkan oleh pasangan ahli matematika dan life science. Ia masuk Kafila sebagai -apa yang biasa disebut dengan- ‘anak olimpiade’, bidang yang telah ia tekuni sejak SD. Ia pun memiliki keahlian di bidang seni dan menggambar. Menjadi siswa MTs Kafila, ia mengungguli temannya di hampir seluruh bidang, terutama sains, baik biologi, kimia, maupun fisika. Hanya saja, kemampuannya kurang dihargai, sehingga Zaky terpaksa hijrah ke tim oilmpiade matematika dan harus bersaing dengan anak-anak matematika yang sudah veteran. Namanya terangkat ketika ia meraih medali emas di Fakhruddin Ar-Razi Competition (FRC) 2013, sebuah olimpiade matematika dan studi islam nasional, pada partisipasi ke-2. Sejak saat itu, ia menjadi maskot matematika internal, namun sayang, karena kemampuannya lagi-lagi kurang dihargai, ketika perhelatan Kompetisi Sains Madrasah 2014 hendak dilaksanakan, ia diungguli oleh orang lain di bidang matematika, tanpa seleksi. Zaky bisa saja maju untuk biologi dan fisika, namun takdir berkata lain. Zaky tidak mengikuti seleksi biologi karena bertabrakan dengan urusan lain dan perwakilan fisika adalah khusus anak-anak yang mengikuti ekstrakulikuler pelajaran tersebut.

Namun Zaky tidak berhenti di situ. Di pertengahan masa-masa kelas 3 MTs-nya, ia kembali banting setir ke geografi. Bidang yang sama sekali berbeda dengan apa yang ia tekuni sebelumnya. Dengan kesungguhan, Allah menghadiahinya medali perunggu di Olimpiade Geografi Nasional (Olgenas) 2015 di UGM. Nama Zaky kembali meroket saat ia menjadi peraih nilai tertinggi Ujian Nasional (UN) 2015 se-DKI Jakarta dengan nilai Bahasa Indonesia (98), IPA (97,5), dan perfect scoreuntuk Matematika dan Bahasa Inggris.

Beberapa saat setelah lulus MTs, saat duduk di kelas X MA, ia diminta untuk berkompetisi di CSSMora Health and Medical Olympiad (CHEMO) 2015 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan membawa pulang medali perak. Tak puas di situ, ia pun mencoba berpastispasi di Senior Spelling Bee yang diadakan Binus International University beberapa bulan kemudian dan meraih peringkat 3.

Baru-baru ini, ia juga telah mewakili Indonesia di Musabaqah Prince Sulthan 2016 cabang hafalan 500 Hadits se-Asia Pasifik, meskipun belum berhasil tembus ke 3 besar. Saat ini, ia sedang fokus mempelajari kimia sebagai bidang baru yang ia senangi. Ia akan mengikuti perhelatan KSM 2016 insya Allah. Aku yakin ia berhasil, insya Allah.

Di atas segala prestasi duniawi, Zaky tetap menjadi sosok yang rendah hati. Ia tidak suka mengoleksi sertifikat-sertifikat, foto-foto, atau hal-hal lainnya. Yang ia inginkan hanyalah ilmu. Ia juga ingin memberikan yang terbaik untuk Kafila yang telah membiayainya. Aku belum cerita kalau ia telah menyelesaikan hafalan al-Qurannya pada kelas 3 MTs dan sederet prestasi tahun-demi-tahun di bidang bahasa Arab. Aku belum cerita ketika di Kafila ada belasan kompetisi keilmuan dan orang lain hanya menang di satu-dua bidang, ia memenangkan tujuh. Belum bahwa ia menguasai banyak aksara termasuk Thai. Belum kemampuannya menggubah syair dan cerita yang sangat memukau. Zaky memang tidak ada tandingannya di dunia ini, untuk anak seusianya. Dengan segala keterbatasan dukungan yang Kafila berikan, ia tetap maju dan menjadi inspirasi sekaligus cemoohan bagi orang-orang yang dengki.

Bagiku secara pribadi, Zaky lebih dari seorang peraih prestasi. Ia banyak sekali menasehatiku tentang arti dunia ini. Bahwa bersandar diri pada Allah adalah kunci, dan bahwa surga adalah tujuan utama selalu. Zaky tidak suka mengingat-ingin pencapaiannya karena memang telah berlalu dan tak berguna apa-apa. Ia tak peduli berapa juta uang yang ia dapatkan, sebanyak apa piala dan medalinya. Ia hanya ingin maju, terus maju, dan meraih ilmu. Zaky adalah sahabat terbaik dalam hidupku, karena sejatinya seorang sahabat adalah yang membuat kita sukses, bukan nyaman. Zaky selalu menjadi teman diskusi yang baik. Di saat orang-orang sibuk membicarakan sepak bola, film ini, novel itu, kami berhibur dengan buku-buku dan ensiklopedia. Lelucon kami adalah ketika menemukan kata ‘kadjang’ pada Webster’s Third New International Dictionary, Unabridged, sebuah kata serapan Malay. Perdebatan kami adalah soal pisang itu buah atau bukan, pohon pisang itu batang atau bukan, dalam istilah biologi. Petualangan kami adalah dari satu kejuaraan ke kejuaraan lain dan mimpi kami adalah mengubah dunia menjadi lebih baik.

Ia adalah seorang yang (sebenarnya) perhatian, terngantung bagaimana orang menyikapinya. Bagiku, ia adalah sosok yang sangat perhatian. Allah telah memberinya kenikmatan ilmu yang amat luas serta kepedulian akan sesama. Ketika teman-temannya membutuhkan, ia tidak segan menolong. Bahkan banyak waktunya ia relakan untuk itu. Terkadang, aku merasa kasihan dengannya karena tidak berada di wadah yang sesuai untuk menampung orang-orang sepertinya. Aku yakin, seandainya ia bersekolah di tempat lain pasti ia sudah menjadi sosok yang lebih hebat lagi. Tapi, aku tiba-tiba ingat prinsip sebaik-baik manusia dalam Islam. Ya, dialah yang bermanfaat bagi orang lain, bukan yang paling banyak medali dan pialanya.

Zaky bercita-cita tinggal dan menuntut ilmu di Madinah. Semoga Allah mengabulkan cita-citanya dan semoga aku cepat menyusulnya.

  • Muhammad Gozy Basayev

Usia Gozy sekitar satu tahun dua bulan di bawahku. Asalnya Makassar, Sulawesi Selatan. Orangtuanya bukan ustadz atau semacamnya, hanya orang biasa, namun Gozy telah hafal al-Quran secara lengkap sejak usia 8. Ia menempuh pendidikan sekolah dasar dalam 5 tahun saja. Sama seperti Zaky, ia masuk Kafila sebagai ‘anak olimpiade’ dan Gozy benar-benar menunjukkan keemasannya dengan menjuarai banyak kompetisi, termasuk meraih medali perunggu pada ajang Fakhruddin Ar-Razi Competition (FRC) 2013 dan Kompetisi Matematika Nalaria Realistik 2015 se-Nasional. Gozy pun sangat sering menjadi partner ataupun saingan Zaky pada berbagai kompetisi cerdas cermat eksternal, dan tentu saja: juara. Selalu.

Gozy bukanlah seorang pengejar prestasi yang ambisius. Ia tidak suka memaksakan diri. Aku sangat mengasihaninya ketika ia harus mundur dari banyak olimpiade saat tangan kanannya patah. Gozy banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat dan berobat. Beberapa waktu kemudian ia bahkan patah tangan lagi untuk ke-2 kalinya dan terpaksa urung lagi dari berbagai kompetisi. Namun aku tahu bahwa Gozy tidak selemah itu.

Di masa MA, ia kembali aktif di kompetisi cerdas cermat. Salah satunya adalah Cerdas Cermat Timur Tengah di Universitas Negeri Jakarta yang ia menangkan 2 kali berturut-turut. Gozy juga terkenal baru-baru ini dengan prestasinya menjadi Juara 2 Musabaqah Prince Sulthan cabang 15 Juz se-Indonesia dan menjadi perwakilan negeri ini di kancah Asia Pasifik (lagi-lagi bersama Zaky!) meskipun belum mnejadi jawara. Gozy yang juga menjabat sebagai ketua Organisasi Pelajar Kafila IIS (OPKIIS) masa 2015-2016 itu tetap menjadi sosok yang supel dan merendah (khas orang-orang yang terlalu hebat).

Alhamdulillah, aku diberi kesempatan untuk menjadi teman sekamarnya selama kurang lebih satu tahun dan aku benar-benar mengamati kebiasaannya dengan buku-buku yang beragam jenis, dari Siyar ‘Alaam an-Nubalaa’ (kalau tidak salah, pokoknya buku tentang agama/sejarah level berat) sampai ilmu pengetahuan komputer moderen. Ia juga menghafal matan-matan syar’iyyah serta kitab hadits Umdatul Ahkaam dan akan menghadapi sebuah final kompetisi hadits, Insya Allah. Aku mendoakannya agar berhasil.

Gozy luar biasa dalam mengatur waktu, tentu saja seperti Zaky. Berapa banyak bidang yang mereka dapat kuasai dengan waktu yang terbatas? Apalagi Gozy ketua OPKIIS. Herannya, Gozy masih menjadi juara bertahan di kelasnya dan ya, seperti Zaky.  Gozy bahkan pernah menjadi siswa terbaik di 3 bidang sekaligus: akademik, tahfidz, dan keasramaan, sebuah rekor-sepanjang-masa pada acara penganugerahaan santri terbaik. Gozy juga sedang menekuni bahasa Rusia dan ingin melanjutkan kuliah di Inggris (atau mungkin Turki), mengambil jurusan fisika murni atau teknik. Di masa depan, ia berharap dapat mendirikan sebuah yayasan di bidang pendidikan (kalau ini sama denganku).

Basayev and Ashshiddieqi
Syaikh Abdurrahman, Gozy, dan Zaky

Kurasa, dua orang ini sudah cukup. Karena aku tidak mendapati seorang lain yang dapat disejajarkan dengan mereka berdua. Sungguh berharga untuk menjadi bagian dari sejarah hidup mereka, dan sungguh tak rendahnya diri ini apabila hendak bersanding dengan mereka. Kalaupun ada seorang lagi yang patut kutulis di bawah ini, ia memang tidak bisa disamakan dengan Zaky dan Gozy. Namun, anak ini cukup menginspirasi, terutama dilihat dari latar belakang keluarganya.

Namanya Abdullah Azzam. Usianya sekitar 1 tahun 5 bulan di bawahku. Azzam meraih bronze medal di International Mathematics Contest (IMC) 2013 di Burgas, Bulgaria, bertepatan dengan tahun wafat Ayahandanya. Azzam adalah seorang genius dengan akhlak yang sangat mulia. Ia berteman dengan semua orang, tersenyum kepada siapapun, dan menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya. Azzam masuk Kafila sebagai seorang bintang namun ia menjadikan dirinya bintang yang jatuh ke bumi dengan membawa kebahagiaan (maksudnya sangat humble).

Azzam sering menjadi teman belajarku di masa lalu, karena kami sama-sama pejuang tim olimpiade meskipun berbeda bidang. Kami pun merangkai mimpi bersama untuk meraih medali ini itu, meskipun Allah belum menghendaki kami mencapainya. Hmm… aku menyematkan nama Azzam karena tingkah lakunya tidak terlihat seperti kebanyakan anak-anak olim yang terkesan kaku, egois, dan segala macamnya. Azzam adalah orang yang sangaat rendah hati. Ia terkenal dengan sifat pengalahnya dalam segala urusan, sehingga terkadang menjadi sasaran bercandaan temannya. Namun ia selalu sabar.

Azzam pun menjadi santri berprestasi di bidang bahasa Arab dan berkali-kali meraih penghargaan khusus untuk itu, seperti Gozy dan Zaky. Kuakui mereka adalah satu paket: Gozy untuk angkatan 6, Zaky untuk angkatan 7, dan Azzam untuk angkatan 8. Mereka maskotnya di bidang bahasa Arab. Dan satu kesamaan lagi yang kutemukan pada ketiga genius itu adalah kepiawaian dalam seni, pewarnaan, dan kaligrafi, dan tentu saja: juara kelas.

Mengamati kehidupan sehari-hari Azzam dan segala keterbatasan Kafila yang harus ia terima (Kafila bukan sekolah khusus olimpiade), membuatku mengelus dada akan kesabaran Azzam menempuh pendidikannya di Kafila. Azzam juga salah satu anak yang paling rajin mengikuti majelis bersama Syaikh kami, Syaikh Abdurrahman Al-Merghny, bahkan terkadang ia memintanya secara pribadi. Ia banyak sekali bertanya tentang agama dan kurasa Syaikh itulah faktor terkuatnya untuk bertahan di Kafila, setelah tuntuan keluarga, mungkin, karena bagaimanapun, Kafila adalah sekolah berbeasiswa dan ekonomi keluarga Azzam pasca kepergian Ayahnya mungkin kurang baik. Wallahu a’lam. Yang jelas, seandainya Azzam hanya memimpikan medali, mungkin ia lekas memilih sekolah PASIAD atau semacamnya, namun aku yakin ia lebih menginginkan akherat di atas segala kilauan emas, perak , perunggu itu.

Azzam Zaky Gozy
Perhatikan yang mengalungi medali saja. Yang paling kiri adalah Azzam, sebelahnya Zaky, sebelahnya lagi Gozy.

 

 

Maasyaa Allaah, Tabaarakarrahmaan..!

Merekalah orang-orang yang tidak mengejar dunia tapi dunia yang mengejar mereka!

Merekalah orang-orang yang menguasai dunia meskipun mereka membencinya!

Mereka tidak mengejar ketenaran meskpiun orang-orang telah membicarakan kehebatan mereka.

Semoga Allah selalu menjaga mereka dari fitnah dan terus memudahkan urusan kebaikan mereka.

Semoga mereka menjadi harapan ummat terbaik di masa kini dan mendatang, setelah Allah.

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

4 thoughts on “The Greatests

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s