Posted in My Lifetime History

Ketika Sekolah Tak Dirindukan

Bismillaah. Ashshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaah.

Semester baru dimulai. Ada anak-anak yang benar-benar pertama kali masuk sekolah, ada yang naik ke kelas berikutnya, ada yang mungkin pindah ke sekolah lain. Pak Anies Baswedan, Sang Menteri Pendidikan, sampai membuat slogan #HariPertamaSekolah untuk menyambut hari perdana bersekolah.

Di SDIT Cahaya Robbani Kepahiang, anak-anak menyambut hari Senin dengan sukacita. Mereka melepas rindu dengan teman-teman yang telah berpisah berminggu-minggu.

Tapi, Faz tidak kelihatan di ruang kelas 6. Teman-teman dekat Faz bertanya-tanya ke mana dia. Apa mungkin pindah? Tapi, namanya masih ada di absen. Pada hari kedua Faz belum hadir. Bahkan sampai hari ketiga.

Di hari keempat, Faz hadir. Katanya, ia baru pulang kampung. Pagi itu, pelajaran pertama adalah tahfidz. Sang Ustadz dengan bersemangat memimpin anak-anak membaca surat. Tapi, anak-anak kelas 6 terlalu berisik dengan suara lain. Sebagian malah enggan mengikuti. Sang Ustadz pun berinisiatif untuk membagi anak-anak pada kelompok-kelompok agar lebih teratur, sebab anak-anak harus menyetorkan hafalan mereka, dan tidak mungkin satu orang Ustadz dapat menyimak puluhan anak satu persatu pada waktu tahfidz yang sangat terbatas.

Setiap kelompok beranggotakan tiga sampai empat anak, dengan satu anak sebagai ketua kelompok. Sang ketua kelompok harus menyimak hafalan para anggotanya dan tentu saja membimbing teman-temannya yang membutuhkan bantuan.

Anak-anak perempuan, banaat, menjalani pengelompokan ini dengan amat teratur. Mereka sangat kompak. Namun, anak-anak laki-laki, aulaad, justru berkebalikan. Sistem pengelompokan menjadikan suasana kelas sangat kacau. Anak-anak sibuk dengan ‘keaktifan’ masing-masing. Memang tidak semua, namun sebagian anak yang sibuk sendiri itu justru merugikan teman-teman lain yang ingin fokus.

Faz sedang mencoba merampungkan hafalan surah Nuh sepuluh ayat pertama. Ia baru menghafal empat ayat. Tiba-tiba seseorang menyergap leher Faz dengan lengannya hingga Faz tercekik. Faz terpaksa mengeraskan suara dengan kalimat penolakan. Faz tidak suka diganggu. Lagipula, siapa yang suka diganggu?

Sang Ustadz terlalu sibuk dengan anak-anak lain dengan segenap ‘keliaran’ mereka. Urusan Faz pun hanya sempat dipandangnya dari jauh. Sang Ustadz hanya bisa mengelus dada. Kelas tahfidz menjadi kelas yang sangat ribut. Yang menghafal sepuluh ayat pun berhasil dan yang bermalas-malasan pun tidak mencapai target. Sang Ustadz mencoba menyadarkan dengan cara mengaitkan dengan usia mereka yang sudah sangat tua di SDIT bahwa mereka harus sadar diri dengan urusan sekolah dan tidak lagi bermain-main. Namun, tetap saja anak-anak itu tak ubahnya.

Faz pun menjalani sepanjang hari pertamanya di sekolah dengan raut wajah yang masam. Keesokannya, ketika senam pun, wajahnya tetap cemberut diantara gelak tawa teman-temannya. Padahal, Faz sebelumnya dikenal sebagai anak yang sangat supel, banyak tanya, dan bersemangat. Ia hanya tidak suka diganggu dan mengganggu. Ia hanya ingin sekolah, belajar, dan menjadi teman yang baik bagi teman-temannya. Itu saja. Sayang sekali, teman-temannya membuat Faz terlampau tidak nyaman. Faz hanya dapat berharap agar ia dapat bertahan.

Begitulah. Kisah yang cukup menyedihkan untuk realita SD Islam zaman sekarang. Anak-anak sekolah islam yang menghafal al-Quran tak ubahnya mereka yang sekolah di sekolah-sekolah umum. Kata-kata kotor, perusakan barang-barang, dan bullying telah menjadi prototype (rahasia umum) untuk anak-anak laki-laki khususnya. Bahkan, sampai taraf smack down!

Tentu saja, saya tidak berbicara semua anak. Hanya ada segelintir anak saja yang menjadi pioneer aktifitas-aktifitas ini. Namun, mereka dapat memengaruhi teman-teman lain yang ingin menjadi siswa baik untuk menjadi seperti mereka. Karena resiko menjadi anak pendiam yang menjauh dari keadaan pada akhirnya akan menjadi bulan-bulanan teman-temannya yang jagoan, lantas terpojokkan, tersudutkan.

Apakah memang ini yang telah menjadi kekhasan sekolah-sekolah di zaman modern ini, atau kebetulan hanya sekolah-sekolah yang pernah kuinjakkan kaki-kakiku di sana saja? Anak-anak SDIT, dan tentu saja sekolah islam manapun, seharusnya menjadi anak dengan budi pekerti yang patut dicontoh, soalnya, dari mana lagi mereka mendapatkan asupan akhlaq yang jelek? Mereka umumnya menjalani aktifitas dari pagi hingga pukul empat sore dengan kegiatan islami yang dirancang sedemikian rupa. Pengaruh teman-teman di rumah, kah? Ke mana para orangtua, sampai membiarkan anak-anak mereka berkeliaran di atas pukul empat sedangkan mereka dalam keadaan lelah?

And, yeah, that’s just what’s happening.

Aku dulu bersekolah di sekolah negeri selama 4 tahun pertama di sekolah dasar. Aku kenyang hidup diantara teman-teman laki-lakiku dengan kata-kata kotor mereka, permainan-permainan mereka yang terlalu ‘kriminal’ untuk anak-anak seusia mereka, atau ada yang sampai menyentuh daerah-daerah tubuh yang tidak seharusnya disentuh. Syukurnya, menjadi juara bertahan di SDN kampung cukup menjadi pertahanan sebab menjadi murid kesayangan guru. Namun, tetap saja sekolah menjadi tempat yang sangat tidak nyaman. Aku bahkan pernah minta mogok sekolah hanya karena takut bertemu seseorang yang postur tubuhnya lebih besar dariku, sebab ia notorious dengan kesangarannya.

Akhirnya, orangtuaku pun menguatkan diri untuk memindahkanku ke SDIT Iqra’ di ibukota provinsi yang jaraknya sekitar satu setengah jam dari rumahku. Tentu saja, aku tidak mungkin tetap tinggal di kampung. Aku dititipkan di rumah seorang ustadz yang sangat dekat dengan SDIT tersebut. Ya, aku pisah rumah dengan keluargaku––ibu, ayah, dan adik perempuanku. Pada akhirnya, aku sangat bersyukur memiliki orangtua yang sekuat karang meskipun tertepis ombak cemoohan orang-orang.

Aku masih berusia sembilan tahun waktu itu, kelas 5 SD. Kalau diukur dengan anak-anak sembilan tahun sekarang, masih sangat… menggemaskan J. Apakah aku sudah mandiri? Boro-boro. Merapikan tempat tidur saja masih kesusahan. Tapi begitulah, demi pembentukan karakterku, orangtuaku pun merelakanku. Meskipun pada akhirnya, diantara anak-anak di SDIT Iqra Bengkulu pun tetap ada anak-anak dengan karakter yang kurang baik.

Akhirnya, aku pun menyimpulkan bahwa di setiap sekolah, ibarat hukum alam, mesti ada anak-anak jagoan, ada si pendiam, ada si jenius, ada yang baik tapi hiperaktif, ada yang sopan, ada juga si cuek. Itu berdasarkan pengalamanku.

Aku mungkin termasuk kategori pendiam, meskipun lebih tepatnya adalah anak yang hanya ingin bersekolah dengan baik dan menjauhi teman-teman jagoan itu. Aku seperti Faz, meskipun Faz tidak sependiam diriku, soalnya Faz sebenarnya supel. Aku sama dengan Faz yang berusaha menjadi anak baik yang tidak ingin ikut campur dengan anak-anak jagoan (aku benci menggunakan kata ‘nakal’) itu. Aku sendiri menjadi anak yang sering dipojokkan dan diejek dengan bermacam-macam sebutan (termasuk ‘sok alim’). Sehingga, bagiku, terkadang sekolah menjadi tempat yang tidak dirindukan.

Ini sangat berbahaya, karena sangat berkaitan degan karakter seorang anak. Aku pun tumbuh sebagai Daffa yang kuper, pemalu, dan pasif. Aku pun masuk ke sekolah menengah dengan karakter itu, sehingga kadang aku divonis ‘individualis’. Padahal, kalau ada yang perlu disalahkan, sebenarnya siapa?

Meskipun seiring berjalannya waktu, aku kembali belajar membuka diri, karena sebenarnya aku bukan anak yang tidak suka berbaur. Sungguh, aku lebih suka bersama teman-teman daripada bersama buku dan kamus (untuk level seorang yang keranjingan membaca sepertiku). Hanya saja, tidak semua teman bisa aku temani. Bersama waktu, aku belajar bagaimana menjadi anak yang terbuka tapi tetap selektif dalam memilih teman. Aku juga belajar mengubah mind set bahwa sekolah selalu tempat menuntut ilmu, bukan sebagai penjara.

Allah menganugerahiku pesantren Kafila Jakarta sebagai peraduanku di usia remaja. Aku tidak dapat membayangkan kalau aku kembali ke sekolah negeri, betapa sorrow masa dewasaku nanti. Di Kafila, anak-anak terseleksi sedemikian rupa sehingga para jagoan tidak mungkin lulus saringan. Kalaupun ada, setidaknya mereka hanya terlalu aktif, bukan berandalan. Aku terus mencoba memperbaiki diri dan menggali potensi diri bahwa sebenarnya di dalam diriku bahkan ada jiwa kepemimpinan, terbukti dengan keberanianku mendirikan Spelling Bee Camp di pesantren untuk mebimbing adik-adik kelas mempersiapkan kompetisi. Alhamdulillah.

Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa ada banyak sekali anak sepertiku dan Faz, baik di sekolah umum maupun islam, aku berharap mereka tetap berusaha mengubah paradigma bahwa sekolah adalah hanya dan selalu tempat menimba ilmu, menghormati guru, dan agar mereka tetap pandai meyikapi teman-teman jagoan atau bahkan dapat menginspirasi mereka menuju kebaikan.

Karena  kita tidak bisa memaksakan lingkungan agar sesuai dengan kita, melankan kitalah yang harus pandai beradaptasi dengan lingkungan di mana kita berada.

Wallaahu a’lam bish shawaab.

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

2 thoughts on “Ketika Sekolah Tak Dirindukan

    1. Alhamdulillah untuk soal makanan 3 kali sehari memang berbeda dengan pesantren pada umumhya bu. DI Kafila Insya Allah makanan 4 sehat 5 sempurna. Teman2nya juga kondusif karena memang sudah hasil seleksi yang cukup ketat. Seleksi terkahirnya adalah karantina di mana di sana dilihat akhlak para calon santri, jadi yang lolos hanya yang berperilaku baik. Wallahu a’lam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s