Posted in My Lifetime History

The ‘Three Spellers Remaining’ Moments

Bismillah. Ashshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillah

Onomatopoeia.

Aku teringat kata pertama yang kudapatkan pada babak final National Spelling Bee 2015 di Universitas Indonesia (UI) tingkat mahasiswa. Kata yang terdengar susah, mungkin. Tapi, karena aku telah mempelajarinya sejak persiapan NSB 2012 di English First, aku pun mengejanya dengan mulus. It’s just a word derived from Greek. Hanya sebuah kata serapan bahasa Yunani.

Dua rivalku saat itu adalah seorang mahasiswa dari Binus University dan tuan rumah, Universitas Indonesia. Aku tidak ingat kata apa saja yang mereka dapatkan. Yang jelas, pada ronde pertama, semua kami berhasil mengeja satu kata dengan benar.

Peraturan di Spelling Bee UI, ketika seorang peserta salah mengeja, maka kata tersebut diberikan pada peserta setelahnya. Pada ronde kedua final, aku berhasil mengeja ‘paraphernalia’, begitu pula dengan peserta asal UI dengan kata lain. Tapi sayang, peserta dari Binus gagal mengeja kata yang diberikan padanya. Akhirnya, kata tersebut diberikan padaku dan aku berhasil mengejanya. (Meskipun sebenarnya tidak berpengaruh pada eliminasi).

Ketika aku dan mahasiswa UI yang tersisa, hanya satu ronde yang berjalan, soalnya anak UI tersebut salah mengeja katanya, yang kemudian diberikan padaku, dan jika aku mengeja kata tersebut dengan benar, maka akulah juaranya.

Androgynous.”

Ia mengejanya dengan “androgenous”. Kalau saja ia tahu akar katanya. Setelah menanyakan definisinya, yakni ‘partly male and partly female in appearance; of indeterminate sex’,.aku paham bahwa androgynous itu terdiri dari andro, yang menunjukkan sifat kelaki-lakian dan gyne yang menunjukkan sifat kewanitaan. Jadi, kind of suatu individu yang memiliki sifat/penampilan dengan kedua jenis kelamin tersebut. Dan ya, aku pun berhasil mengeja androgynous.

Hal yang unik adalah, waktu itu masih duduk di kelas XI. Aku menyamar menjadi mahasiswa. Meskipun pada akhirnya aku pun sadar bahwa hal itu tidak seharusnya kulakukan karena, bagaimanapun, kompetisi tersebut bukan untuk siswa SMA. Ini jadi pelajaran untuk para pembaca agar lebih mementingkan sportifitas. Sebelum mengambil hadiah, aku berkata jujur dengan panitia bahwa aku masih SMA, dan meminta izin apakah aku boleh mengambil hadiahnya. Alhamdulillah, mereka pun mengizinkanku.

Itu adalah salah satu momen ‘three spellers remaining’ dalam hidupku, ketika hanya tiga peserta yang tersisa di atas panggung National Spelling Bee. Tahun sebelumnya, aku telah mengalami hal yang sama di Binus International University. Dan alhamdulillah aku berhasil menaklukkan kata terakhir dengan mengeja Ursprache.

Ronde demi ronde itu kulalui dengan harap-harap cemas. Soalnya, kata-kata yang diberikan pada peserta lain terkadang aku tidak bisa mengejanya. Namun, ketika tiba giliranku, Allah memberiku kemudahan… hingga aku sampai ke ronde terakhir.

Aku menjadi Daffa yang sangat ambisius sejak aku sadar bahwa aku dalah seorang pecinta kata-kata. Verbomania, istilahnya. Sejak akhir 2011, aku mulai menekuni kamus-kamus bahasa Inggris sampai ensiklopedia Britannica.

Takdir membawaku maju ke EF National Spelling Bee untuk pertama kali pada 2012. Entah berapa ribu kata yang sudah kupelajari. Memenangkan kompetisi regional ibarat sebuah keajaiban. Allah ingin aku bersabar dengan memberiku peringkat 66 (tie) dan gagal tembus ke semifinal. Waktu itu aku benar-benar hancur. Habislah semua ambisiku. Waktu itu tersiar berita bahwa EF Spelling Bee akan diadakan dua tahun sekali, dan tentu saja aku sudah terlalu tua pada 2014.

Allah menghendakiku untuk kembali berkompetisi di regional pada 2013, meskipun berita diadakannya kompetisi tersebut sangat terlambat sampai padaku. Aku sudah mulai longgar dalam mempelajari kamus dan berita itu sampai padaku beberapa hari sebelum kompetisi diadakan. Akhirnya, aku pun kembali membuka lembaran-lembaran perjuangan itu dengan sangat kelabakan. Aku jarang menggunakan Webster’s Unabridged karena EF menggunakan Oxford Advanced sebagai kamus resminya.

Alhamdulillah, pada akhirnya aku kembali tembus ke nasional dan aku menjadi sangat sangat ambisius. Aku hampir tidak pernah lepas dari kamus saat ada waktu sesenggang apapun itu––ketika mengantri makan, mengantri mandi, istirahat kelas, atau saat menunggu guru yang belum datang. Ketika teman-teman berolahraga, mengobrol, aku tetap bersama kamus. Tidak ada kunci keberhasilan dalam spelling bee selain luck dari Yang Di Atas dan practice.

Practice, practice, practice.

Practice when you walk, practice when you sit, practice when you play. Practice all the time!

Aku sering membaca kisah-kisah sukses mereka yang bertanding di Scripps National Spelling Bee di USA yang sangat masyhur itu. Diantara mereka ada Snigdha Nandipati (2012 Champion) yang belajar 6 jam sehari. Ada Sriram Hathwar (2014 Champion) dan Vanya Shivashankar (2015 Champion) yang bolak-balik ke nasional selama 5 tahun untuk menang. Dan ada banyak sekali kisah-kisah mereka yang jauh lebih ambisius daripadaku untuk memenangkan the so called National Bee yang amat prestisius itu. Bedanya, mereka menjalani belajar dengan rileks dan bahagia sedangkan aku terkadang dengan keterpaksaan, meskipun aku juga senang dengan kamus. Tapi tetap saja ada rasa bosan.

Mereka memvariasikan cara belajar, seperti menggunakan flashcards, belajar dengan bergerak-gerak atau melompat-lompat, dan menyanyi. Ada juga cara unik para pengeja (speller) untuk berkonsentrasi ketika sedang mengeja di atas panggung. Caraku sendiri seragam dengan banyak speller di Scripps yang menggunakan visualisasi di telapak tangan agar tidak lupa huruf apa saja yang telah dieja.

Atau ada juga speller lain yang mengeja dengan menulis di atas speller placard-nya.

Bahkan ada yang memvisualisasikan kata seakan ia sedang mengetik di keyboard, ada yang menulis di atas lengan, dan sebagainya. Cara-cara ini demi menjadikan mereka fokus dan berkonsentrasi saat sedang tegang.

Masa-masa indah di EF Spelling Bee berakhir di babak semifinal. Aku seri (tie) di peringkat 11 pada EF National Spelling Bee 2013.

Ambisiku habis sudah untuk menjadi juara nasional. Lembar-lembar kamus dan buku-buku tulis sisa perjuanganku menyisakan penyesalan yang mendalam.

P_20160630_075824P_20160630_075809

Sampai aku mendengar berita tentang Senior Spelling Bee yang ternyata ada di Indonesia. Senior Spelling Bee adalah kompetisi mengeja untuk anak-anak SMA dan mahasiswa. Ya, dua level tersebut ditandingkan satu sama lain, kecuali di UI yang memisahkan level siswa SMA dan mahasiswa.

Sebenarnya, Senior Spelling Bee  pertamaku adalah di Universitas Tarumanagara (UnTar). Sudah sekitar satu tahun sejak aku meraih peringkat 11 di EF. Momen three spellers remaining pertamaku ada di sini pula. Saat itu aku meraih juara ke-2, diungguli oleh seorang siswi SMAN 1 Tangerang dan di bawahku ada seorang mahasiswa Binus University. Di UnTar, sistem final spelling bee menggunakan poin, jadi speller harus dapat mengeja sebanyak mungkin kata yang diberikan dengan benar. Waktu itu selisih poinku dengan si champion hanya satu poin dan salahs atu kata yang salah kueja adalah daguerreotype‘.

Pada tahun yang sama, setelah kekalahan di UnTar, aku vanquish di Binus International University (sudah kusebutkan di atas), mengungguli dua siswi, masing-masing asal SMAK Sang Timur Jakarta dan Binus International School. Level kompetisi di Binus Int. ini lebih sulit dibandingkan UnTar. Yang menarik, waktu itu aku disematkan selempangan.

Selepas menang di Binus, aku sudah memutuskan untuk fokus di tim olimpiade biologi. Sebab, ada banyak olimpiade yang menunggu. Sebenarnya juga, sekolahku sudah melarangku untuk ikut spelling bee lagi dengan alasan ‘sudah terlalu banyak menang’ dan itulah yang kupertanyakan. Anak-anak di tim olimpiade dapat berkompetisi berulang-ulang, bahkan meskipun mereka sering kalah. Anak-anak di tim bahasa Arab juga seperti itu.

Perjalanan spelling bee ini kulalui tanpa ada pelatih seorangpun, melainkan orang-orang yang membantu melafalkan suatu kata untuk kueja. The whole things aku pelajari sendiri secara otodidak, mulai dari pronunciation, language of origin (asal bahasa), sampai root of words (akar kata). Aku berkenalan dengan bahasa-bahasa seperti Latin, Yunani, Swahili, dan Hawaii. Pastinya, tidak ketinggalan French, Spanish, Japanese, German dan bahasa-bahasa interasional yang masyhur lainnya. Tapi ingat, aku tidak mempelajari bahasanya secara utuh. Hanya akar kata dan cara melafalkannya saja. Ada banyak sekali aturan pada masing-masing bahasa, misal: huruf s, x, dan t pada suffix kata bahasa Perancis (French) tidak dilafalkan, lalu di German apabila suatu kata dilafalkan ‘sh’, maka kata tersebut kemungkinan mengandung ‘sch’, atau pada Spanish yang melafalkan ‘j’ seperti ‘kh’. Paham, kan? -_-

Menyenangkan sekali.

Saat kukira masa-masa indah itu akan berakhir, Allah kembali menakdirkanku untuk terjun ke dunia spelling bee  pada tahun berikutnya, 2015, saat aku tahu bahwa aku tidak tidakdirkan untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional tingkat kota yang diadakan bersamaan dengan Asian English Olympics.

Meskipun di setiap ronde aku merasa akan kalah, lima hari AEO yang amat melelahkan kulalui dengan pasti. Akhirnya aku berhasil sampai di final dan menjadi juaranya. Sebenarnya aku tidak sehebat itu, karena AEO bidang spelling bee baru perdana diadakan dan hanya Indonesia serta Filipina yang ikut serta pada bidang tersebut.

Jadi, waktu itu, yang menjadi juara 2 adalah siswa SMAK Kolese Santo Yusup Malang dan juara 3-nya adalah siswi Miriam College Filipina. Karena masih SMA dan kami ditandingkan dengan mahasiswa, aku pun juga diberi predikat ‘Best High School Participant’ karena menjadi siswa SMA yang berhasil menggondol peringkat tertinggi di spelling bee. Alhamdulillah. Aku senang meskipun tidak berkepanjangan. Syukurnya, sertifikat AEO ini juga ikut membantu penerimaanku di ITB lewat jalur undangan.

Aku sungguh beruntung di AEO karena dari ronde pertama aku tidak pernah menduduki peringkat 1. Aku benar-benar merasakan ada bantuan Allah yang tak terduga. Bukan hanya di AEO, bahkan di senior spelling bee yang lain. Soalnya, sekali lagi, aku tidak tahu kata yang diberikan pada peserta lain, namun ketika tiba giliranku, aku mengetahuinya, sehingga sampailah aku ke ronde terakhir. Kata favoritku di AEO adalah ichthyophagous, sebuah kata yang kudapatkan di semifinal, karena aku suka ikan 🙂

Pulang dari AEO, aku memutuskan untuk mendirikan Kafila School Champion’s Spelling Bee Camp. Pada komunitas tersebut, aku mengajak adik-adik kelas di Kafila untuk mencintai kata-kata bahasa Inggris dan membaca kamus. Entahlah, aku sungguh bersemangat saat itu, padahal aku tahu bahwa aku bukanlah orang yang pandai berinteraksi dengan orang lain.

Camp (yang secara tidak resmi dimulai pada 2014) tersebut berjalan selama tiga periode. Mereka terdiri dari anak-aak kelas 7-9 MTs. Di Camp juga mereka diseleksi untuk menentukan siapa yang berhak mewakili Kafila ke kompetisi regional yang diadakan EF. Alhamdulillah, anak-anak yang kubina berhasil menggondol 5 prestasi pada Regional Spelling Bees 2014-2015. Meskipun di tingkat nasional mereka belum bisa memperbaiki peringkatku. Aku salut dengan mereka yang telah menyisihkan sebagian waktu untuk bergelut dengan dunia yang telah kugeluti bertahun-tahun itu.

Zaky Ashshiddieqi (yang menggunakan placard warna biru, lihat foto ke-2 di atas) adalah sosok yang paling banyak membantuku mempersiapkan spelling bee. Soalnya, hanya dia, selainku tentunya, yang bisa membaca American phonetic symbol yang digunakan kamus Webster’s. Ia banyak sekali menyisihkan waktunya hanya untuk mengujiku atau menemaniku belajar. Semoga Allah mengganjarnya dengan kebaikan yang tak terhingga untuk kesabarannya…

Perjalanan spelling bee ini menjadi lebih indah ketika Zaky  meneruskan estafet kejuaraan di Binus International University tahun 2015, meskipun ia hanya meraih peringkat 3. Zaky pernah kalah di regional pada 2013. Saat itu, yang menjadi juara adalah peraih medali perak di AEO 2015 dari SMAK Kolese Santo Yusup Malang dan juara ke-2-nya adalah yang menjadi juara 2 di tahun kemenanganku pada 2014, siswi SMAK Sang Timur Jakarta (sudah lulus dan menjadi mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara, UMN).

By the way, alumnus SMAK Sang Timur (mahasiswi UMN) tersebut kelak akan menjadi pemenang AEO 2016. Aku sempat diundang untuk ikut lagi namun kondisi tidak memungkinkan. Aku sedang berada pada program sukses Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2016. Lagipula aku sudah pernah menang AEO.

Allah Ta’ala merencanakan kejutan lain untukku. Ketika itu UNBK telah usai. Aku beristikharah untuk kembali berpastispasi pada spelling bee di UI namun tingkat SMA. Di setiap spelling bee entah mengapa perasaan gugup dan ‘aku akan kalah’ itu selalu muncul. Ketika hari-H perlombaan pun aku tetap beristikharah pada Allah seandainya kemenangan adalah yang terbaik untukku maka semoga Allah mudahkan, pun sebaliknya, kalaupun kekalahan yang terbaik untukku maka persusah.

Di Senior Spelling Bee 2016 UI aku berhadapan dengan beberapa veteran spelling bee di Binus dan AEO. Apakah perlu aku merasa takut? Aku ‘kan pernah menang? Aku jadi ingat firman Allah dalam Quran Surah Ali Imran ayat 139:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

Berhadapan dengan sekolah-sekolah se-kaliber BPK Penabur, IPEKA, dan Labschool sudah sering kulalui dan Allah selalu membantuku. Adalah manusiawi bagiku untuk kembali merasa gugup setelah setahun kembali ke panggung spelling bee.

Dan keajaiban itu kembali datang saat aku melewati babak penyisihan, lalu semifinal, kemudian final. Waktu cepat sekali berlalu sampai aku berhasil mengeja rescind untuk memenangkan kompetisi 2016.  Si runner up bersal dari SMAN Mandau, Riau dan si juara 3 berasal dari SMAN 8 Jakarta yang terkenal.

ui.jpg

Pada akhirnya, aku pun menyadari bahwa aku sudah terlalu tua untuk mengeja. Tapi aku tahu bahwa aku tetap akan mencitainya.

Dunia spelling bee adalah wadah pembelajaran bahasa Inggris yang sangat menyenangkan. Sayang, bidang ini masih dikuasai oleh Barat, sehingga kompetisi tersebut acapkali dihiasi hiburan-hiburan bernuansa Barat yang sangat tidak sesuai syariat Islam. Dan itulah selama ini yang aku berusaha hindari. Hingar-bingar fitnah dunia yang menjadikan spelling bee terasa menyesakkan, terutama dengan pemandangan wanita-wanita tak berhijab. Pada beberapa spelling bee juga ada sistem pengelompokkan. Pengelompokkan dengan wanita yang membuat sulit keadaan. Bagaimana kami harus berinteraksi dengan tetap menjaga jarak dan pandangan. Itulah yang sebenarnya membuatku tidak nyaman di spelling bee yang sebenarnya mubah ini.

Aku percaya bahwa Allah memang telah menakdirkan kesuksesanku di bidang ini, untuk berdakwah dengan busana dan peci yang kukenakan, meraih prestasi terpuncak di tingkat nasional dan internasional. Aku berharapAllah memaafkan kemaksiatan yang tak dapat kuhindari dan menerima usahaku sebagai amal shalih yang berguna untuk masuk surga tanpa hisab dan adzab.

Hanya saja, aku bingung apakah aku harus kembali mengambil langkah untuk berkompetisi atau sudah-cukup-di-sini, sebab sejatinya aku masih punya 4 tahun ke depan, Insya Allah, untuk spelling bee level mahasiswa. Lebih dari sekedar ketenaran, aku ingin meringankan beban orangtua dengan berpikir ekonomis bahwa berkompetisi itu berarti produktif secara finansial. Aku juga senang berbagi pada teman-temanku di kampung, terutama buku-buku. Dari mana lagi aku bisa mendapatkan uang? Orangtua? Sudah saatnya aku belajar mandiri. Mohon doa para pembaca agar Allah menggerakkan kakiku menuju langkah yang lebih berkah, dan apakah aku harus berhenti dari semua ini atau tetap mengeja sampai momen three spellers remaining itu terulang.

Wallahu a’lam bishshawaab.

 

 

 

 

 

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s