Posted in My Lifetime History

When I Met Wilson

Bismillah. Ashalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah.

“How do you know that?”

Sebuah kalimat yang diungkapkan Wilson kala itu sangat kuingat. Waktu itu, pertanyaanku adalah: ‘did you participate in the OSN for biology in 2012?’

Pada Oktober 2013 silam, 30 siswa-siswi terbaik se-Jabodetabek berkumpul di hall Penerbit Erlangga untuk perhelatan semifinal Erlangga English Speech Contest 2013 (EESC). 30 anak itu terbagi menjadi tiga kategori, yakni: SMP, SMA, dan SMK. Artinya, setiap kategori terdiri dari 10 siswa/siswi.

Allah memberiku kesempatan tak terduga––setelah satu kali kegagalan––untuk mencicipi babak semifinal kompetisi yang sengit itu. Biasanya, primadona kompetisi ini adalah BPK Penabur. Namun entahlah, nama tersebut tidak terpampang di pengumuman semifinalis EESC 2013, suatu hal yang langka. Meskipun tetap saja ada sekolah-sekolah lain yang serupa dengan BPK Penabur yang kesemuanya mengutus lebih dari satu siswa ke semifinal: IPEKA Sunter (dua orang) dan Don Bosco 3 (tiga orang).

SEMIFINALIS

 

Ngomong-ngomong, sebelum mengikuti kompetisi ini, aku memang tidak banyak berharap untuk menang. Di babak penyisihan, yang diadakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII),  aku menyaksikan para peserta dengan kefasihan, kepiawaian dalam bergestur, dan kelacaran mereka, dengan konten yang rata-rata berbobot. Tembus ke semifinal hanya akan selamanya menjadi mimpi, pikirku.

Waktu itu, aku termasuk yang maju di awal. Jadi, aku pun bisa pulang lebih awal. Waktu itu yang mengantarku pulang dengan motor adalah kakak kelasku.

“Lah, Daffa, nanti kalau kamu masuk final bagaimana?” tanya kakak itu saat kami sedang berkendara.

Aku lupa apa jawabanku waktu itu. Sebenarnya, aku sempat berpikiran, “Ah, boro-boro kak…” tapi kalau tidak salah, karena memang babak finalnya (yang pada akhirnya aku tahu bahwa ada semifinal terlebih dahulu) tidak langsung diadakan pada hari itu, aku pun menjawab, “finalnya bukan hari ini. Menunggu pengumuman dulu.”

Sampai tiba suatu malam, sebelum makan malam, kabar tentang semifinalis EESC, yang membuatku tidak nafsu makan.

Pada akhirnyam di atas segala ketidak-nyangka-sama-sekali-anku, aku pun berusaha menerima bahwa aku lolos dan aku harus mempersiapkan dengan sebaik-baiknya babak semifinal itu.

(Bersambung…)

 

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s