Posted in kafila

Tips dan Trik Diterima di Kafila IIS Jakarta (Bagian 2)

Bismillaah. Ashshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaah.

Alhamdulillah, ketika menjadi santri tingkat MA di Kafila International Islamic School (Kafila IIS) Jakarta, saya sempat diamanahi untuk menjadi admin resmi website serta fanpage facebook pesantren. Selain itu, saya pun banyak mengetahui tentang seluk-beluk Penerimaan Santri Baru (PSB) Kafila IIS Jakarta dari wawancara-wawancara maupun obrolan ringan bersama para panitia PSB secara langsung.

Saya pun berkesimpulan bahwa tidak ada suatu hal yang benar-benar menjamin seorang calon santri baru (casanba) diterima di Kafila IIS Jakarta, karena Kafila IIS Jakarta mengutamakan fair play, keadilan.

Saya tegaskan bahwa untuk diterima Kafila IIS Jakarta tidak terdapat jalur khusus. Baik itu jalur prestasi, olimpiade, hafalan al-quran 30 juz, bahkan jalur kekeluargaan. Namun ada satu pengecualian yang akan saya jelaskan di bawah.

Yang penting, bagi bapak/ibu, atau adik-adik yang tengah membaca artikel ini, saya pesankan jangan terlalu berharap dengan pencapaian anak-anak bapak/ibu serta adik-adik di masa SD, misalnya ada yang pernah meraih medali emas IMSO (International Mathematics and Science Olympiad) atau sudah hafal 30 juz bersanad, apalagi hanya sekedar juara cerdas cermat tingkat kabupaten.

Lho, kok bisa? Ayo, simak dulu 🙂

Ini dia tips dan trik diterima di Kafila International Islamic School Jakarta versi Daffa Al-Falah:

Know The Priority

Kafila IIS Jakarta menerima 25 santri baru setiap tahunnya, dengan rincian 20 santri dengan standar ekonomi menengah ke bawah dan 5 santri dengan standar ekonomi menengah ke atas. Jadi, kemungkinan untuk casanba dari kalangan yatim dan dhuafa (kurang mampu secara finansial) untuk diterima di Kafila IIS Jakarta adalah 80% atau 4 kali lebih besar daripada mereka yang mampu.

-Lantas, bagaimana seorang casanba dikatakan tidak mampu? Setidaknya, ia harus memenuhi persyaratan berikut:

  1. Memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari kelurahan dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) setempat. Saya tegaskan, harus dari kedua pihak tersebut karena juga mempertimbangkan orangtua yang aktif di masjid atau tidak.
  2. Pendapatan kotor gabungan orangtua/wali (suami istri) maksimal sebesar Rp 3.000.000,00 per bulan (di bawah Upah Minimum Regional (UMR) DKI Jakarta)(dibuktikan dengan slip gaji), meskipun tidak memiliki SKTM.
  3. Pendapatan kotor gabungan orangtua/wali dibagi jumlah anggota keluarga maksimal Rp 750.000,00 setiap bulannya (dibuktikan dengan slip gaji), meskipun tidak memiliki SKTM.
  4. Foto depan rumah dan kartu keluarga (KK) dapat menjadi faktor yang membantu. Mengapa KK? Karena dari KK-lah diketahui jumlah anggota keluarga (terutama anak) serta jenjang pendidikannya. Misalkan, ada keluarga dengan penghasilan total kedua orangtua mencapai Rp 15.000.000,00, memiliki lima orang anak yang tiga diantaranya sedang berkuliah. Rahasia umumnya adalah bahwa biaya kuliah itu biasanya tidak murah.

Jadi, pengertian ‘kurang/tidak mampu’ dalam seleksi PSB Kafila IIS Jakarta tidaklah sempit. Casanba yang terkategorikan dalam salah satu dari poin-poin di atas dapat menduduki satu dari kursi-kursi prioritas, yakni 80 %.

Only by Kafila’s Test

Seperti yang telah dilansir pada awal artikel ini, tidak ada jalur khusus untuk diterima di Kafila IIS Jakarta. Semuanya harus melewati satu jalur yang sama: tes. Saya ulangi, ada seleksi berkas, tes membaca al-Quran, tes akademik, serta tes-tes lain di karantina. Kalau belum mengerti seluk-beluk keempat tahap ini silahkan kembali ke artikel bagian satu.

Namun, bukan berarti prestasi yang anak-anak bapak/ibu atau adik-adik miliki tidak berguna untuk seleksi ini. Prestasi-prestasi tersebut, seperti hafalan al-Quran dan prestasi akademis serta non-akademis dapat membantu, namun memang tidak segera. Anak-anak bapak/ibu atau adik-adik harus tetap melalui tes demi tes yang ada sebagaimana mestinya.

Karena, pada banyak kasus yang saya temui dari tahun ke tahun, anak-anak dengan hafalan al-Quran yang banyak justru kalah saing dengan mereka yang hanya hafal surah-surah pendek. Anak-anak peraih prestasi olimpiade dan kompetisi-kompetisi lain justru pada akhirnya tidak dipilih ketika anak-anak dengan prestasi nol untuk perlombaan justru terpilih.

Lho kok bisa begitu? Lanjutkan membaca!

The Secret of Top 50

Nah, sebagaimana yang telah dijelaskan di artikel bagian satu, hanya 50 casanba terbaik yang akan dipilih menuju karantina. Anak-anak ini dipilih berdasarkan hasil ujian al-Quran dan akademik yang memenuhi standar.

Timbul pertanyaan. Bagaimana jika jumlah casanba yang memenuhi standar kedua bidang tidak mencapai 50?

Nah, kasus ini baru saja terjadi di PSB Kafila IIS tahun ajaran 2016/2017 lalu, di mana hanya terdapat sekitar 40 casanba yang berhasil mencapai standar minimal untuk kedua tes yang diujikan. Perinciannya, ada sekitar 30 anak yang hanya lolos tes al-Quran dan ada sekitar 5 anak yang hanya lolos tes akademik. Lantas, bagaimana melengkapi kuota 10 kursi yang tersisa?

Jawabannya adalah: Quran is number one. Dari para casanba yang hanya lulus tes al-Quran, dicari anak-anak dengan nilai tes akademik yang paling mendekati standar minimal hingga tercapai kuota 50 terbaik. Jadi, para casanba yang hanya lulus tes akademik tidak dapat terbantukan sama sekali, sebab tidak lolos seleksi al-Quran. Kelancaran membaca al-Quran juga prioritas utama untuk dapat diterima di Kafila IIS Jakarta, selain standar ekonomi menengah ke bawah.

Bagaimana seandainya casanba yang lolos tes al-Quran kurang dari 50 anak sedangkan yang lolos tes akademik ada lebih dari itu? Nah, logikanya, karena Kafila memprioritaskan casanba yang lulus di tes al-Quran, maka akan dicari anak-anak yang lolos tes akademik dengan nilai tes al-Quran tertinggi. Sebenarnya kasus ini kebalikan dari yang di atas, meskipun tidak pernah ada dalam sejarah PSB Kafila IIS Jakarta di mana casanba yang lolos tes al-Quran lebih sedikit daripada yang lolos di tes akademik. Yang jelas, apapun yang terjadi, al-Quran akan menjadi salah satu pertimbangan terpenting bagi casanba untuk menjadi 50 terbaik dan masuk ke tahap karantina.

(Bersambung ke Tips dan Trik Diterima di Kafila IIS Jakarta (Bagian 3))

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

6 thoughts on “Tips dan Trik Diterima di Kafila IIS Jakarta (Bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s