Posted in kafila

Tips dan Trik Diterima di Kafila IIS Jakarta (Bagian 3)

Bismillaah, ashshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaah.

Ini adalah bagian terakhir untuk Tips dan Trik Diterima di Kafila IIS Jakarta versi saya. Silahkan lanjut membaca dan semoga bermanfaat!

Top 50: Show Your Best Attitude!

Setelah sampai ke  tahap karantina, adik-adik tidak perlu memedulikan tes-tes yang telah berlalu. Karena pada tahap ini, akhlak dan kemandirian adik-adik yang akan menjadi sorotan utama.

Anak-anak casanba seakan menjadi santri di Kafila IIS Jakarta selama 3-4 hari. Mereka tinggal di Kafila IIS Jakarta dan mengikuti kegiatan-kegiatan santri yang ada meskipun sebagian besarnya terpisah dengan santri asli Kafila IIS. Nah, kedisiplinan para casanba akan dinilai di sini. Apakah mereka tepat waktu menghadiri beragam kegiatan yang ada? Apakah pakaian yang mereka kenakan rapi? Atau justru mereka datang terlambat dengan pakaian yang kusut?

Selain itu, sifat-sifat para casanba yang tidak terdeteksi di tes-tes sebelumnya akan terlihat di karantina. Mereka yang kecenderungannya bersifat kurang bersahabat, kurang bisa menjaga  sikap dan perkataan, bahkan yang super pemalu dan tertutup (pasif dan cuek) biasanya berguguran pada tahap ini, sekalipun mereka peraih nilai tertinggi di tes-tes sebelumnya. Jadi, saya pertegas bahwa attitude is the priority. Akhlak yang menjadi penilaian utama di tahap ini.

Namun, apakah hanya akhlak? Tentu tidak.

Karena anak-anak casanba harus menjalani kegiatan-kegiatan yang ada, maka tidak terkeuali tahfidz al-Quran. Mereka dibebani menghafal satu halaman (sesuai standar Kafila, atau bisa saja kondisional) setiap hari saat karantina.

Apakah hanya yang berhasil mencapai target yang akan lulus? Hmm… tidak juga. Para casanba memang diberi target yang tinggi untuk level mereka, namun para panitia PSB akan menilai siapa yang bisa mencapai target atau siapa yang berhasil mendekati. Atau kesimpulannya adalah, siapa yang berhasil menghafal lebih banyak dari yang lain. Di sini, anak-anak casanba yang hafalannya 30 juz dan lancar pasti menang. Namun yang hafalannya kurang dari itu, mereka bisa saja diminta untuk menghafal ayat lain yang mereka belum hafalkan.

Selain itu, terdapat pula tes kepribadian atau psikotes. Pada tes ini tidak ada istilah benar atau salah, sebab menyangkut karakteristik pribadi, yakni berisikan soal-soal tentang kebiasaan sehari-hari, bagaimana sikap ketika menghadapi sesuatu. Terkadang juga diminta untuk menulis cerita dan menggambar sesuatu. Psikotes juga biasanya terdiri dari model-model soal olah kata, numerik, dan soal visual yang cukup mengasah logika. Tes ini seyogyanya dijalani dengan rileks dan tenang (terkadang bahkan pihak panitia menyuguhi video lucu saat tes ini berlangsung) agar tes kepribadian ini dapat terisi dengan sebenar-benarnya, apa adanya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama menjalani tes ini.

Terakhir, karantina ditutup dengan wawancara yang berisi puluhan (atau mungkin ratusan) pertanyaan empat mata antar para panitia PSB dan anak-anak casanba. Apa isi wawancaranya? Wah, sangat beragam. Yang jelas, pertanyaan-pertanyaan tersebut seogyanya dijawab dengan semestinya tanpa ada ‘pembumbuan’ karena memang menyangkut kehidupan pribadi si casanba. Misalnya salah satu pertanyaan berbunyi, “Apa yang membuat Kafila pantas memilihmu?”.

The Final Judgement

Nah, setelah melewati tahap demi tahap yang panjang, barulah sang 25 besar ditentukan oleh pihak panitia PSB Kafila IIS yang disepakati secara mufakat melalui diskusi. Terkadang, diskusi ini bisa berlarut-larut dan bahkan tidak selesai sehari. Diskusi ini jugalah yang membuat PSB Kafila IIS sangat tidak tertebak.

Kali ini saya menjelaskan beberapa poin penting yang cukup menjadi pertimbangan. Namun sebelumnya, lebih baik saya menjelaskan kriteria casanba yang 99% pasti (Insya Allah, tetu saja) diterima:

  1. Berasal dari keluarga kurang mampu
  2. Memiliki hafalan al-Quran beberapa juz, lancar dan siap diuji
  3. Memiliki prestasi akademis dan/atau non akademis dibuktikan dengan sertifikat
  4. Tidak memiliki riwayat penyakit parah
  5. Berasal dari daerah yang masih tersisa kuotanya di Kafila IIS
  6. Berkelakuan baik dan bersemangat saat menjalani proses karantina
  7. Hasil psikotes menunjukkan bahwa casanba berkemampuan dan berkarakter dasar yang baik
  8. Menjawab pertanyaan dengan baik dan jujur saat wawancara

Nah, maka dari itu, beberapa hal yang menjadi pertimbangan penting (selain yang telah saya pertegas dari awal artikel) adalah:

  • Riwayat penyakit. Anak-anak dengan riwayat penyakit parah, seperti TBC, campak, DBD, tifus, dan meningitis atau yang pernah dirawat di rumah sakit akan lebih dipertimbangkan terkait kebugaran fisik saat menjalani rutinitas yang padat di pesantren.
  • Untuk tes akademik, soal-soal yang diujikan memang standar Ujian Nasional Sekolah Dasar (UN SD), namun pada pelajaran Matematika, fakta yang ditemui dari tahun ke tahun adalah bahwa sebagian soal-soal Matematika berstandar olimpiade tingkat dasar/logis-analitis. Disarankan para orangtua (anaknya) atau adik-adik sekalian agar lebih melatih kemampuan bernalar sebelum mengikuti tes akademik.
  • Suatu kasus terkait kuota, misalkan di 50 besar terdapat tiga casanba asal Kota Bandung, Jawa Barat yang semuanya meraih posisi di 25 besar, sedangkan di Kafila IIS sudah terdapat dua orang santri asal Kota Bandung, Jawa Barat. Maka, dari tiga casanba tersebut, hanya akan dipilih satu casanba terbaik, karena di Kafila IIS tidak boleh ada daerah (kota/kabupaten) dengan kuota lebih dari 3 santri.
  • Masih soal kuota. Untuk DKI Jakarta, memang tidak terdapat kuota maksimal. Hanya saja, ketika skor akhir casanba asal ibukota negara tersebut sama dengan casanba lain yang berasal dari daerah, maka casanba daerah akan diunggulkan.
  • Prestasi. Nah, akhirnya, prestasi-prestasi itu akan sangat berguna untuk menyelamatkan para casanba pada seleksi tahap akhir ini. Mereka yang, pada suatu kasus, memiliki skor sama, namun salah seorang diantara mereka memiliki prestasi yang lebih baik daripada seorang yang lain, akan diunggulkan. Terutama yang memiliki prestasi di bidang al-Quran serta Matematika, Sains, dan Keilmuan Umum.
  • Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa di Kafila IIS tidak boleh terdapat santri-santri yang bersaudara kandung, kecuali salah seorang diantaranya tidak lagi berstatus santri di Kafila IIS Jakarta.
  • Terakhir, seperti yang telah saya janjikan, ada satu jalur yang memang istimewa dan tidak terlalu dimengerti bahkan oleh pihak panitia PSB Kafila IIS. Yakni: kebijakan yayasan. Apapun yang terjadi, jika menggunakan kebijakan yayasan yang menaungi Kafila IIS Jakarta, yakni Yayasan Kafila Thoyyiba, maka segala hal menjadi tidak tertebak. Berikut juga semua hal yang saya paparkan di atas dan pada artikel bagian pertama. Semuanya bisa saja berubah karena kebijakan yayasan (yang saya maksud dengan yayasan ini terutama sang pembina yayasan itu sendiri, Bapak Ir. H. Abdullah Mas’ud, sang dermawan yang membiayai operasional pesantren). Seperti seleksi karantina yang baru ada dalam dua tahun terakhir PSB Kafila IIS, ini juga merupakan kebijakan baru yayasan.

Nah, bapak/ibu serta adik-adik pembaca, demikian penjelasan mengenai alur PSB Kafila IIS Jakarta. Mohon maaf atas segala kekurangan yang ada karena saya menulis artikel tersebut sesuai kapasitas saya sebagai mantan santri (alumnus) yang tidak pernah terlibat secara langsung namun banyak sekali mendengar tentang seluk beluk PSB Kafila IIS, selain bahwa saya dulu juga pernah mengalaminya.

Saya harap, tulisan ini dapat memberikan gambaran umum yang jelas sehingga para orangtua serta adik-adik sekalian dapat lebih memahai luar-dalam seleksi PSB Kafila IIS Jakarta. Sekali lagi, hal-hal yang telah saya jelaskan ini boleh jadi sedikit/banyak dimodifikasi untuk ke depannya. Namun insya Allah, saya akan tetap berusaha meng-update informasi-informasi mengenai PSB dan serba-serbi lainnya tentang Kafila International Islamic School Jakarta.

 

Wallaahu a’lam bishshawaab.

Written by Daffa FIGERO’10

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

12 thoughts on “Tips dan Trik Diterima di Kafila IIS Jakarta (Bagian 3)

    1. Masya Allah.
      Bu Nurbaya, Kafila IIS adalah sekolah yang diprioritaskan untuk kalangan menengah ke bawah, namun bukan berarti anak-anak dari keluarga yang menengah ke atas tidak memiliki kesempatan.

      Saya yakin, dengan asal kota anak bu Nurbaya yang jauh di Jayapura dapat menjadi salah satu kemudahan diterimanya anak Ibu, inysa Allah, karena di Kafila IIS sendiri belum ada santri yang berasal dari sana.

      Semoga pertanyaannya terjawab sesuai yang diinginkan.

      Like

  1. Alhamdulillah ya Allah, ust km dr kel yg cukup dgn menyukuri nikmat Allah, km hy memiliki kendaraan sepeda motor hy klo utk anak km menuntut ilmu Agama & dekat dgn Allah km bs usahakan semaksimal mungkin, ust kpn penerimaan satri baru d KAFILA, mksh byk ust .

    Like

  2. Anak sy sdh mendaftr dan sdh diverifikasi utk jenjang aliyah. Tinggal nunggu nomor dan pengetesan tgl 18 februari. Mohon doanya yaa smg bisa diterima di kafila.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s