Posted in ITB, My Lifetime History

ITB ITB ITB…!

Bismillah, ashshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaah.

Alhamdulillah, kali ini aku menyempatkan diri untuk kembali menekuni kegemaranku. Sudah sekitar dua bulan aku tinggal di Bandung. Atmosfer pembelajaran di ITB pun mulai memanas. Mungkin banyak yang bertanya-tanya bagaimana rasanya kuliah di ITB. Sebelumnya, kurasa sebagian besar orang berpikiran bahwa kuliah di ITB itu sangat sulit, high-level, dan semacamnya. Masuknya saja sudah susah, belum menjalani hari-harinya, apalagi bisa sampai wisuda.

Well, apa yang teman-teman pikirkan tidak sepenuhnya salah. Kalau teman-teman bertanya padaku, maka aku memiliki sudut pandang subjektif sekaligus objektif. Subjektif itu lebih ke pandangan pribadi, namun objektif lebih ke pandangan umum. Kalau secara objektif, bagiku ritme kuliah di ITB biasa saja, namun memang menyibukkan. Mulai minggu ke-2 atau ke-3, kami mulai dibebani tugas-tugas pada mata kuliah (matkul) yang diwajibkan bagi kami di Tahap Persiapan Bersama (TPB), yang merupakan ke-khasan ITB. Jadi, bisa dibilang, kami belum berhak memilih matkul pilihan melainkan harus mempelajari matkul-matkul yang diwajibkan kampus.

Untuk fakultasku, Sekolah Ilmu Teknologi Hayati Program Rekayasa (SITH-R), kami di semester awal ini mendapatkan matkul Kalkulus A, Fisika Dasar A, Kimia Dasar A, Tata Tulis Karya Ilmiah (TTKI, semacam bahasa Indonesia), Pengenalan Teknologi Informasi (PTI, coding pemrograman C++), serta Pengantar Rekayasa dan Desain (PRD, kalau diterjemahkan: Introduction to Engineering and Design). Kami belum mendapatkan matkul olahraga, bahasa Inggris, serta beberapa lainnya yang baru akan ada pada semester berikutnya.

Di ITB, ada tiga macam pembelajaran, yakni kuliah, tutorial, dan praktikum. Kuliah normalnya diadakan dari Senin hingga Jumat dengan satu hari khusus untuk praktikum. Matkul yang ada tutorialnya hanya MaFiKi dan biasanya hanya 1/3 SKS atau boleh dibilang sekali seminggu. Oh iya, kalau tutorial itu pemberian materi dari dosen maka tutorial itu adalah latihan soal bersama dosen atau asisten dosen (asdos) yang merupakan seorang kakak tingkat (kating) dari bidang tertentu. Kami, para mahasiswa SITH R, hanya aktif kuliah pada Senin-Kamis (dengan praktikum di hari Selasa serta tutorial kalkulus dan kimia di sela-sela hari-hari tersebut). Adapun hari Jumat, kami hanya mendapat jatah tutorial fisika kurang lebih satu jam.

Kami mulai dihujani tugas-tugas sejak minggu ke-2 atau ke-3 (aku tidak begitu ingat). Yang jelas, setiap matkul membenani tugas tertentu. Bahkan, sebelum hari praktikum pun kami diwajibkan untuk menulis jurnal atau semacam buku panduan tulis-tangan yang nantinya akan digunakan pada praktikum yang akan dijalani. Ada tiga matkul yang memiliki praktikum, yakni KimDas, FisDas, dan PTI.

Jadi, kuliah di ITB itu cukup hectic, belum bagi mereka yang aktif di organisasi maupun unit kegiatan mahasiswa (UKM). Aku sendiri bahkan tidak aktif di UKM manapun selain kegiatan keagamaan seperti kajian atau halaqah.

Secara subjektif, sebenarnya ada kisah yang cukup rumit. Namun, aku ingin menceritakan gambaran umum mengenai paradigma pribadiku terhadap ITB yang kira-kira pembaca butuhkan. Dulu, aku pun mengira bahwa berkuliah di ITB itu ibarat menjalani hari-hari seperti pelatnas (pelatihan nasional) olimpiade sains. Hmm, terkadang terasa seperti itu, namun levelnya mungkin level kabupaten. Pelajarannya setingkat SBMPTN, kurang lebih. Yang jelas, aku kaget dengan ritme pembelajarn di sini karena di SMA kami terbiasa ‘disuap’ oleh para guru serta soal yang diujikan (bahkan hingga Ujian Nasional) bersistem multiple choices. Di ITB jangan harap ada soal pilihan berganda. Kami bahkan pernah diberi tugas mengerjakan 42 soal kimia dalam waktu sekitar 1 pekan beserta uraiannya. Masya Allah….

Matkul yang menurutku cukup membingungkan adalah PTI. Aku tidak terbiasa dengan kode-kode pemrograman komputer. Sejak hari pertama menghadiri kelas PTI, aku sudah gagal paham dengan kuliah yang diberikan dosen. Matkul termudah, tentu saja, TTKI, karena bahasa Indonesia adalah pelajaran abadi yang materinya diulang-ulang sejak SD hingga kuliah, hahaha.

ITB adalah tempat yang sangat cocok untuk mereka yang berjiwa matematis-analitis. Yang hobinya mememperhitungkan hal-hal yang bahkan seremeh air yang menetes dan roda yang berputar. ITB bisa dibilang juga sebagai sarang anak olim (olimpiade sains) di mana mereka para veteran OSN dan semacamnya berkumpul di satu tempat dan menjalani hari-hari ibarat pelatnas. Aku yang sering kebingungan di berbagai pelajaran bisa langsung bertanya pada anak OSN pada bidang tersebut karena semua pelajaran lengkap, ada anak OSN-nya -_- . Termasuk yang pertama kali membantuku mengerjakan PR PTI adalah seorang Umar Alfarouk yang pernah meraih medali Emas pada OSN Komputer 2013, saat ia masih duduk di kelas 10.

Untukku yang memiliki background biologi dan bahasa Inggris tentu sangat shock sebab tidak menemukan kekuatanku di semester pertama ini. Ya, di SITH R kami belum belajar kedua pelajaran itu. Belum lagi karena aku tidak ikut SBMPTN alias lolos ITB tanpa tes, jadi tidak terbiasa dengan soal-soal level tinggi itu.

Kalau ingin pendapat yang lebih subjektif lagi… aku berani bilang kalau kuliah di ITB itu… membosankan. Lagipula, belajar apa sih yang menyenangkan? Hehe. Membosankan karena memang aku tidak yakin ini passion-ku. Karena aku masuk ITB dengan modal, salah satunya, penasaran, maka rasa penasaran itu sebenarnya telah terjawab. Oh, begini ya rasanya kuliah di ITB, Institut Terbaik Bangsa.

Namun, ada satu hal yang membuatku nyaman berada di ITB. Terlepas dari kegiatan akademik di perkuliahan. Adalah teman-teman muslim yang aktif mengikuti kajian yang membuatku tetap nyaman setelah jenuh dengan perkuliahan. Mereka adalah anak-anak jenius, masya Allah, yang tidak perlu serepotku memikirkan pelajaran di kelas. Mereka, masya Allah tabarakarrahman, adalah ikhwan yang sangat bersahabat. Mereka bahkan terkadang lebih relijius daripada anak-anak pesantren. Mereka yang bahkan mengajakku untuk mengikuti kajian pertama kali di ITB. Mereka yang pertama kali mengucapkan salam padaku, menjabat tanganku, dan memanggilku akhi ‘saudaraku’ dalam bahasa Arab. Rata-rata anak-anak kajian itu adalah mahasiswa STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika), yang memiliki Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) bernama MSTEI, Muslim STEI. MSTEI mengundang seorang pendakwah ber-kunyah (julukan) Abu Takeru setiap Jumat sore dan sangat gencar untuk mengajak para mahasiswa muslim di ITB untuk menghadiri kajian yang alhamdulillah sehat itu.

Salah satu teman yang paling kukagumi adalah seorang mahasiswa FTSL (Fakultas Teknil Sipil dan Lingkungan) bernama Jacky. Beliau adalah seorang muallaf dari etnis Cina Melayu. Cukup terharu mendengar kisahnya (yang belum bisa kutulis di sini) memeluk islam. Beliau adalah jagoan olimpiade matematika di daerahnya, Kep. Riau.

Sebenarnya, aku menyimpan satu rahasia di ITB. Namun, waktunya belum tepat untuk diceritakan pada kesempatan ini.

 

Advertisements

Author:

Kalau aku salah, nasehati aku. Ajak aku lebih dekat pada Allah, insya Allah engkau menjadi sahabatku. Mimpiku terbesarku di dunia adalah: Aku ingin jadi hafiz al-Quran yang hidup dan mati bahagia. Aku juga ingin membangun sekolah al-Quran untuk anak-anak yang yatim dan dhuafa di daerahku. Kalau engkau punya mimpi yang sama denganku, insya Allah engkau akan menjadi sahabatku. Doakan aku ya, semoga Allah mengabulkan doa itu untuk dirimu juga.

3 thoughts on “ITB ITB ITB…!

      1. Aulia Khalil Hardiansyah, you can call me Khalil. Thanks a lot to replay my message. I think i have to make a chat with you in the other social media, any idea?

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s