Posted in About Islam

Sahabat Sejati

Bismillah. Ashshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah.

Sebuah judul yang sangat sensitif sekaligus tak ada habisnya untuk dibicarakan. Posisi seorang sahabat sangatlah krusial dalam kehidupan manusia, sebab, manusia memiliki kecenderungan hati dan perasaan yang harus ditumpahkan kepada manusia lainnya.

Banyak hal yang dapat menjadi penyebab seseorang menjadi sahabat seorang lain. Saya yakin, banyak orang berpendapat bahwa seorang sahabat itu adalah ia yang selalu hadir untuk kita di kala senang maupun sedih. Ia yang paling keras tepukan tangannya ketika kita berhasil dan ia yang pertama kali mengusap air mata kita sebelum jatuh ke tanah.

Ada yang beranggapan bahwa sahabat mesti selalu bersama kita, layaknya geng-geng ala anak sekolahan. Punya yel-yel tersendiri, singkatannama masing-masing seperti SheKeFaReLor, atau kalau ada tugas selalu berkelompok, jalan-jalan selalu bareng, ke kantin bareng, ke perpustakaan bareng, bahkan ke kamar mandi pun bareng–ala anak-anak perempuan.

Pembahasan tentang sahabat sangat abstrak, tergantung individu yang mendefinisikannya.  Ada yang menjadi sahabat karena sering membantumenyelesaikan permasalahan seseorang. Ada juga yang menjadi pasangan sahabat karena kesamaan hobi/minat/bakat/passion sehingga bisa bekerjasama ketika melakukan suatu hal yang sama-sama digemari. Dan tak bisa dipungkiri ada pula yang menjadi sahabat karena seseorang memiliki banyak harta sehingga ia bisa meraup keuntungan dari sahabatnya. Ini jenis persahabat yang memiliki modus.

Apapun itu, yang jelas, seseorang pasti menginginkan sahabat yang menguntungkannya, kan? Atau memberi manfaat tertentu baginya. Sahabat adalah seseorang yang kita sangat bahagia untuk menghabiskan waktu dengannya dan tidak rela untuk berpisah dengannya.

Namun, yang sayangnya, banyak juga di antara kita yang mungkin merasa belum memiliki sahabat, sehingga, kita merasa hidup sangat menjemukan, penuh kesendirian, dan tak ada yang menopang.

“Aku bingung mau cerita sama siapa. Pasti nggak ada yang suka mendengar ceritaku.”

“Aku nggak punya sahabat. Semua orang di sekitarku sibuk dengan urusan masing-masing.”

“Aku malas bersahabat, aku lebih senang sendirian di rumah sambil bermain game, membaca novel favortiku, atau mendengarkan musik sampai tertidur.”

Ya, memiliki seorang sahabat adalah pilihan. Dan bagaimanapun, hidup itu pilihan, kan? Mau di bawa ke mana hidup ini, terserah yang diamanahkan sehempas nyawa di raganya.

Nah, sebagai seorang muslim, saya merasa sangat beruntung, alhamdulillah. Agama saya adalah agama yang sarat perdamaian, rasa cinta, serta persaudaraan. Bahkan, seorang sahabat memiliki posisi yang sangat penting bagi seorang muslim.

Saya pun terkadang bingung. Saya pernah ‘mendeklarasikan’ beberapa orang di kehidupan saya sebagai seorang sahabat karena kontribusi mereka serta kebahagiaan yang mereka bagi ke saya dalam beberapa bagian hidup saya. Tapi kemudian, ketika terjadi perubahan terhadap beberapa orang itu, saya pun menjadi ragu, lantas bergumam, “dia ternyata bukan sahabatku.

Banyak sekali kejadiannya. Misalnya, ia bukan sahabatku karena:

  • Ia akhir-akhir ini lebih banyak berinteraksi dengan orang lain.
  • Ia sudah mulai jarang menyapaku.
  • Ia baru mendatangiku ketika ada butuh.
  • Karakternya mulai berubah dan aku tidak suka.
  • Ia memiliki hobi baru seakan-akan ingin menyelisihiku.

Sehingga saya pun mencoba terus menggali tentang bagaimana dan siapa sebenarnya sahabat itu. Bahkan sampai sekarang pun saya masih terus belajar tentang makna sahabat, bak mencari si-‘x’ yang hilang dalam matematika.

Saya mendengarkan pendapat banyak orang yang telah memakan asam-garam kehidupan, mereka yang secara usia dan keilmuan lebih senior dibanding saya. Selain orangtua, saya juga mencoba berkonsultasi dengan mereka yang saya anggap orangtua saya, seperti para guru. Saya pun membaca buku-buku para ulama, khususnya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, sang dokter spesialis ‘hati’ yang salah satunya berjudul ‘al-jawaab al-kaafi’.

Saya pun berkesimpulan, bahwa seorang sahabat adalah sesuai yang difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala dalam Quran Surah Az-Zukhruf (Perhiasan) ayat ke-67.

(الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ (٦٧

67. “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain kecuali mereka yang bertakwa.”

Sumber: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-az-zukhruf-ayat-67-80.html 

Sahabat sejati. Itulah jawaban yang saya cari selama ini. Sejati berarti kekal dan kekekalan itu hakikatnya adalam kehidupan setelah kematian.

Jadi, sahabat sejati itu tidak mesti selalu bersama kita secara fisik. Sahabat sejati itu saling mendoakan, sejauh apapun jarak yang memisahkan.

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

‘Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’” hadits ini shahih, diriwayakan oleh Muslim dalam shahih-nya.

Sumber: https://almanhaj.or.id/3299-doa-para-malaikat-bagi-orang-yang-mendoakan-saudaranya-dari-kejauhan.html

Seorang sahabat adalah…

-Ia yang ketika engkau memandangnya, lebih-lebih sedang bersamanya, maka engkau ingat Allah, ingat akherat.

-Ia yang, ketika engkau jauh darinya, engkau ingin sekali mengunjunginya hanya karena engkau mencintainya karena Allah. Bahkan dengan ini engkau dapat meraih cinta Rabb semesta alam.

-Ia yang menasehatimu ketika engkau berbuat salah, tapi tidak di depan umum.

-Ia yang membantu menyelesaikan urusan dunia dan akheratmu.

Jadi, apakah sahabat yang engkau rangkul setiap hari itu benar-benar sahabat? Atau hanya teman sementara? Ayo koreksi lagi diri masing-masing, sudahkah kita memiliki sahabat yang sejati, karena sahabat yang tidak sejati akan menjadi musuh kita. Namun, sahabat sejati akan menjadi salah satu penyebab kita dinaungi di hari di mana tiada naungan selain naungan Allah subhanahu wa ta’ala.

Selanjutnya, saya menyarankan para pembaca untuk membaca artikel yang masya Allah sangat bagus ini, http://www.abujibriel.com/keistimewaan-dan-keutamaan-persaudaraan-karena-allah/

Semoga Allah memberikan kita sahabat yang sejati!

 

 

 

 

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s