Posted in Phenomena

This is The Voice Kids!

Bismillah, ashshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillah.

Kali ini, saya sangat tertarik untuk mengulas tentang sebuah pola yang berulang di kontes-kontes pencarian bakat yang diselenggarakan oleh beberapa stasiun televisi tersohor di Indonesia. Dulu saya sangat kagum dengan acara-acara seperti ini karena memunculkan bakat-bakat baru yang terpendam dari seluruh kalangan masyarakat di Indonesia. Sampai sekarang pun, saya masih menanggapi kontes memasak MasterChef sebagai sebuah acara yang sangat mendidik dan melatih skill, terlepas dari budaya yang agak berseberangan dengan apa yang diajarkan agama saya, islam, seperti para kontestan yang tidak meutup aurat, proses pencicipan makanan sambil berdiri dan/atau menggunakan tangan kiri, dsb. 

(Seterusnya, pada tema ini saya akan lebih mengerucut pada anak-anak)

Maka dari itu, kontes ini sangat bermanfaat bagi anak-anak tersebut untuk melatih skill mereka di bidang kuliner atau memasak, skill yang termasuk paling dibutuhkan manusia di setiap zaman. Skill yang sangat jarang ada di sekolah-sekolah di negeri ini yang sistem pendidikannya sangat tidak efektif dan efisien–menghabiskan waktu 12 tahun hanya untuk teori-teori yang sebagian besarnya tidak terpakai di kehidupan bermasyarakat atau dunia pekerjaan bagi sebagian besar lulusannya.

Di samping itu, di negara kita ini terdapat suatu kontes yang sangat menarik perhatian para pemirsa televisi dan bahkan menjadi tontonan terfavorit sepanjang tahun. Ya, itulah kontes tarik suara, alias vokal atau menyanyi. RCTI, yang sangat terkenal dengan acara-acara pencarian bakatnya, lantas menduduki peringkat pertama untuk acara terfavorit di tanah air. Sudah merupakan rahasia umum RCTI memiliki segudang acara-acara yang memukau para pemirsa, terutama sinetron dan ajang pencarian bakat. Sebagai seseorang yang lama ‘terkurung’ di pesantren, saya tentu tidak hafal apa saja judul-judul acar tersebut. Tapi tentu saja terkadang saya tetap memiliki akses, sengaja maupun tidak, untuk menyaksikan acara di televisi. Dan benar saja, pola-pola itu terus berulang–pasti ada sinetron dan kontes pencarian bakat yang menjadi totonan terfavorit. Bisa Anda bandingkan dengan TV One dan Metro TV yang sarat acara-acara ‘kebapakan’ menduduki peringkat 3 terendah.

top10most-viewed-channels_youth

Mungkin Anda berpengalaman menyaksikan salah satu acara kontes pencarian bakat tersebut. Sebagai contoh, acara The Voice Kids Indonesia yang akhir-akhir ini sedang nge-tren di RCTI. Beberapa dari Anda mungkin benar-benar terobsesi dengan acara-acara tersebut, bahkan sampai mengikuti tahap demi tahap yang ada, memiliki satu-dua orang sebagai kontestan yang digemari/didukung, lalu bersorak-sorai ketika ia berhasil lolos (apalagi juara) dan kesal sendiri (bahkan mungkin menangis!) ketika ia harus pulang.

Dari sudut pandang pluralisme yang diterapkan di negara kita, acara ini tentu sangat bagus. Mereka yang memiliki bakat dapat tersalurkan dan menjadi sukses secara instan lewat promosi di televisi. Bahkan, sekali meng-upload video nyanyiannya di YouTube, jumlah pengunjung bisa melebihi angka 8 juta dalam dua bulan. Lalu, dengan ketenaran tersebut, mereka, para kontestan, menjadi terkenal lalu sukses setelah dikontrak oleh produser-priduser lagu dan musik yang ada.

Sekali lagi, karena ini perspektif pribadi, saya mungkin tidak akan menjelaskan sisi kontroversi bisnis yang terjadi di acara-acara ini, kaerna memang saya kurang memahaminya. Saya kali ini tertarik untuk mengulas sebuah pola yang berulang pada acara-acara tersebut.

Seorang anak maju ke depan panggung di hadapan para juri yang sudah tersenyum duluan melihat wajah kontestan yang menggemaskan, yang bahkan terkadang  dihiasi secar berlebihan. Musik dimainkan, ia pun bernyanyi. Pada The Voice Kids sendiri, ketiga juri membelakangi para kontestan dan ketika menyukai suaranya barulah ia berputar balik. Merdu sekali suara anak tersebut mengalun bersama musik. Lagu pun selesai dinyanyikan, audiens bertepuk tangan dan bersorak-sorai, Lalu sang juri mulai memuji-muji kemampuan anak tersebut, setelah sebelumnya menanyakan nama dan asal daerahnya.

“Kamu memiliki kemampuan yang sungguh luar biasa. Kamu memiliki talenta yang dapat membuatmu melejit di masa depan.”

“Suaramu benar-benar merupakan anugerah Tuhan.”

“Keren, asik banget! Di usiamu yang sangat muda kamu sudah memiliki kemampuan seperti seorang diva!”

Lalu si anak mengatakan, “Terima kasih.”

Para juri pun mengonfirmasi kelolosan sang peserta, lalu ia kembali ke belakang panggung sembari meriah ditepuktangani. Sang orangtua dengan bangga memeluk anaknya, bahkan menangis, sujud syukur, dan ekspresi lain.

Setelah itu, sang anak menghadapi berbagai macam ronde yang, sebervariasi apapun itu, intinya adalah, ia menyanyi, dikomentari ini-itu, lalu para pendukungnya mengirimkan SMS atau voting, kemudian ia dinyatakan lolos atau tidak. Seperti itu selama berpekan-pekan. Follower di twitter-nya kian hari bertambah secara signifikan. Video-videonya secara cepat bertengger di beranda Youtube. Puncak kejayaan seorang kontestan tiba ketika ia tembus hingga final, lalu ia pun menang. Media-media mewawancarainya, fotonya terpampang di halaman depan banyak tabloid, majalah, koran, dan semacamnya. Produser musik yang mengontraknya membuat karirnya semakin melejit setelah membuat rekaman dan album. Para penggemar berdatangan ke rumahnya, sekedar untuk mengucapkan selamat dan berfoto ria.

Nama sang juara lantas bertengger sebagai artis terfavorit, apalagi dia masih anak-anak. Ia pun diundang ke berbagai macam acara, menjadi performer atau bitang tamu. Namanya kerap menjadi pembicaraan di acara entertainment.

Saya pun berpikir, indah sekali menjadi seperti orang ini. Tapi saya pun menyadari bahwa pola inilah yang selalu terulang, termasuk ketika tiba saatnya, dua atau tiga tahun kemudian, ketika namanya benar-benar sudah sangat basi dan ketenarannya merosot perlahan dengan pasti. Mungkin Anda kenal seorang Debo, juara Idola Cilik ke-2, apa kabarnya sekarang? Atau mereka yang tenar di AFI Junior dahulu– Samuel, Albert, Damai, dkk? Apa peduli orang terhadap mereka sekarang?

Dan itulah yang akan terjadi pada mereka yang sedang tenar hari ini. Mereka akan dieksploitasi sedemikian rupa hingga mencapai puncaknya, lalu namanya seketika pudar ditelan masa. Apalagi mereka yang dahulu anak-anak dengan suara melengkingnya, keindahan parasnya, dan kepolosan tingkahnya, sudah bertambah dewasa dan orang-prang mulai bosan dan meninggalkannya.

Maka dari itu, kontes ini akan selalu berlangsung. Akan ada lebih banyak anak-anak lagi yang dieksploitasi lalu sayangnya, terbuang.

Karakter kontes-kontes ini adalah mencari penggemar dan sangat bergantung pada penilaian manusia. Anak-anak itu harus mengubah jalur masa depannya karena orang mulai tidak suka dengan suara beratnya ketika ia sudah dewasa. Kalaupun ia ditakdirkan untuk sukses nantinya, seluruh hidupnya akan habis untuk mencari penggemar dan memakan uang para penggemar yang membayar untuk konser-konser dan album-albumnya. Ia pun perlahan menjadi dewasa, lalu menua, lalu…

Well, saya sangat setuju dengan pernyataan, apabila engkau ingin melihat ciri masyarakat suatu negara, maka telusurilah acara-acara televisinya. 

Orang Indonesia sangat suka dengan hiburan dan terkadang menjadikan hiburan sebagai salah satu kebutuhan primer. Sebutkan saja, ada berapa macam kontes yang ada di Indonesia yang semuanya sebenarnya hanya menampilkan kemerdua suara seseorang? Dihiasilah ia dengan babak-babak episode dan sangat bermacam, tapi ya intinya hanya satu. Dan tentu saja, rating yang diraih oleh stasiun-stasiun televis ini akan menambah keuntungan penguasanya. Sehingga, akan sangat bisa diprediksi bahwa bangsa Indonesia ke depan akan sangat terbuai dengan hiburan-hiburan yang ada di televisi, yang kemudian akan menjadi karakter bangsa kita.

Bangsa kita masih jauh sekali dengan Amerika dengan National Geographic-nya, atau Jepang dengan Science Channel-nya, dan berbagai macam acara yang sangat edukatif. Maka dari itu, sangat jelas bahwa masyarakat negara-negara tetangga lebih berpendidikan di banding masyarakat kita, sebab tontonannya saja kontras berbeda, meskipun tidak dipungkiri bahwa mereka pun memiliki sinetron serta kontes-kontes menyanyi seperti Indonesia (bahkan Indonesia yang mengiblat ke mereka), namun dengan porsi yang sangat minim dibandingkan acara-acara edukatif yang mereka sajikan juga di stasiun-stasiun televisi mereka.

Lantas, kalau dibahas dengan perspektif agama, saya rasa memang tidak perlu pembahasan panjang karena sudah jelas. Maka dari itu, saya sangat menyayangkan anak-anak muslim Indonesia yang dieksploitasi untuk kemudian mencari ketenaran, lalu terbuang. Bagaimana masa depan akherat mereka dan para orang tua mereka.

Sekarang, kamu yang punya suara bagus mau pilih yang mana? Indonesian Idol Junior, Idola Cilik, atau The Voice Kids Indonesia? Atau menunggu waktu sebentar untuk Indonesian Idol dan The Voice Kids dewasa, atau Indonesia Mencari Bakat, Rising Star, The X Factor, AFI, segala macam, atau menyalurkan bakatmu untuk melantunkan ayat-ayat suci atau gema adzan?

Semoga Allah memberi hidayah pada kita semua. Aamiin.

Wallahu a’lam bishshawaab.

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

2 thoughts on “This is The Voice Kids!

  1. Tulisannya bagus. Tapi yang saya bingung, bukankah The Voice Kids Indonesia ini tayangnya do Global TV? Bukan di RCTI. Di RCTI itu adanya The Voice Indonesia yang sudah lama selesai

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s