Posted in Daffa The AUBA

My Childhood In Brief: Beginning (1)

Bismillaah. Ashshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaah.

Namaku Muhammad Daffa Al-Falah, meskipun aku tidak terlahir dengan nama itu. Filosofi nama itu adalah ekspektasi orangtua akan seorang anak sulung laki-laki yang tahan banting hingga mencapai keberhasilan. Muhammad, tentu saja, diambil dari nama manusia termulia sepanjang zaman yang dalam bahasa Arab bermakna ‘terpuji’. Daffa pun sebuah kata yang diserap dari bahasa Arab yang berarti ‘pembela’, atau ‘pertahanan diri’. Well, nama yang baru populer di abad ke-21 ini. Aku yakin aku termasuk generasi awal yang memiliki nama ini. Al-Falah, tentu saja diserap dari bahasa Arab pula, sebuah kata yang pasti kalian dapatkan setiap mendengarkan gema adzan. Al-Falah berarti ‘kemenangan’. Aku dapat menyimpulkan bahwa terselip sebuah doa pada namaku, yakni agar aku menjadi seorang muslim terpuji yang terus berusaha dan berkarya hingga mencapai sebuah titik kemenangan. Titik itu ada di dunia, tapi hanya semu. Sedangkan titik yang hakiki ada di surga. 

Aku terlahir dari pasangan Padre Hariyanto dan Madre Reka Adista. Padre berasal dari suku Basemah (dominan di daerah Sumatera Selatan seperti Kabupaten Lahat) dan Madre dari suku Rejang (salah satu suku endemik dan tertua di Bengkulu). Aku dilahirkan di Kepahiang, Bengkulu, yang merupakan titik penengah kedua suku. Akibatnya, aku tidak bisa berbicara dengan bahasa suku kedua orangtuaku. Bahasa pertamaku adalah bahasa Bengkulu yang merupakan bahasa pemersatu semua suku yang ada di Bengkulu.

Aku pertama kali membuka mata untuk melihat dunia pada 5 Shafar 1420 yang bertepatan 21 Mei 1999, ketika kaum muslimin baru usai melaksanakan shalat Jum’at. Aku lahir di tempat yang sama dengan tempat kelahiran Madre-ku, di kediaman nenek, bahkan dengan bidan yang sama pula.

Aku tidak ingat apa saja yang kualami di masa lalu hingga masa-masa ketika aku menginjak usia tiga atau empat tahun. Orangtuaku bercerita banyak tentang masa laluku–aku yang pernah sangat lemah karena terkena demam berdarah sehingga harus dirawat di rumah sakit saat masih berusia 1 tahun, aku yang selalu menyapa setiap orang yang lewat di hadapanku, aku yang sering digendong Padre ke pasar setiap pagi agar Madre bisa membereskan rumah tanpa perlu menghadapi kerewelanku.

Keluarga kecil kami sungguh sederhana. Kami tidak memiliki kendaraan pribadi. Rumah pun dapat terbeli karena uang pinjaman. Madre baru satu tahun lulus SMA ketika memutuskan untuk menikah dengan seorang sarjana komputer yang berusia 10 tahun di atasnya.

Keluarga kami memulai dari titik nol. Padre memang seorang sarjana komputer, tapi sayang sekali, ia tidak kesampaian mengikuti ilmu komputasi yang terus berkembang. Akhirnya, Padre pun terpaksa bekerja dengan pekerjaan yang tersedia waktu itu, salah satunya adalah menjadi kuli–berangkat sebelum subuh di bagian belakang mobil pick-up, menggigil kedinginan, sampai pasar untuk mengangkut barang-barang yang belum tentu laku. Terkadang ia sampai tergugu menerima keadaan, tapi itulah yang ada dan harus ia hadapi. Jatuh bangun Padre mengumpulkan uang hingga ia dapat membeli sebuah motor bekas.

Dulu, bisnis pertama yang keluarga kecil kami garap adalah Play Station. Tidak lama, beberapa unit Play Station pun dijual untuk membeli beberapa unit PC. Padre membuka les komputer. Kemudian, usaha Play Station benar-benar berhenti untuk dialihkan ke les komputer. Alhamdulillah, Madre diberikan Allah kelebihan di bidang bahasa Inggris sehingga ia pun membuka kursus. Nah, di sinilah bakatku mulai terbentuk.

Daffa kecil dibiasakan dengan kosakata bahasa Inggris oleh Madre. Aku dulu belajar menggunakan flash cards, yang kelak akan sangat berguna untuk menunjang keberhasilan spelling bee-ku di masa mendatang. Aku juga telah mengenal permainan papan scrabble. Berbagai audio serta media pembelajaran bahasa Inggris telah kukonsumsi sejak balita sehingga itulah yang membentuk bakatku di kemudian hari. Alhamdulillah, aku pun dapat fasih melafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris dengan perbendaharaan kata yang cukup banyak untuk ukuran anak seusiaku.

Madre sangat perhatian akan pendidikan masa kecilku sehingga aku bisa membaca di usia 3 tahun. Ia juga mengikutkanku di kursus sempoa sejak aku berusia 5 hingga 10 tahun, yang kemudian menjadi kalkulator otomatis yang akan terus berada di otakku. Usaha kursus yang dibuka orangtuaku tidak terlalu menjanjikan secara finansial mengingat daerah tempat tinggalku hanyalah sebuah kampung dengan minat belajar yang cukup rendah. Akhirnya, Madre dan Padre memutuskan membuka usaha fotokopi dan alat tulis kantor (ATK).

Perlahan tapi pasti, usaha ini kian berkembang, hingga tiba suatu masa ketika usaha keluarga kami menjadi yang terbesar dan terbaik se-kabupaten. Ikhtiar dan doa mereka Allah ijabah dengan indah. Waktu terasa cepat sekali berjalan hingga takdir Allah memutuskan Padre untuk menjabat ketua KPU (Komisi Pemilihan Umum) kabupaten. Padre di masa mudanya memang terkenal aktif di berbagai organisasi. Salah satu yang masyhur adalah kontribusinya di KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia), beliau sempat menjabat sebagai ketua wilayah.

Di usia ke-5 aku pun mulai belajar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 04 Kepahiang, tempat di mana Padre menuntut ilmu 3 dekade silam. Aku tumbuh sebagai anak yang lugu, pemalu, tapi ceria. Aku di masa kecil sangat membatasi dengan siapa aku berteman. Aku di masa kecil seringkali menjadi anak rumahan, meskipun terkadang juga di rumah teman sekitar. Permainan masa kecilku bersama teman-teman di kelurahan Pensiunan sangat beragam dan yang paling berkesan bagiku adalah permainan monopoli. Kami bisa lupa waktu ketika berkumpul untuk memainkannya. Selain itu, anak-anak di kampung kami juga mengikuti ‘musim permainan’. Kadang ada musim layang-layang, di waktu lain ada musim gambaran yang ditepuk-tepuk, atau ada juga masa-masa ketika banyak yang memainkan kelereng, remi, bahkan kucing-kucingan yang lebih familiar di Indonesia dengan sebutan ‘bola bekel’. Tak ada habisnya permainan kami di masa kecil.

Aku ingat ketika menghabiskan pagi hari Minggu bersama teman-teman mencari capung di pekuburan. Kami mematahkan lidi dari sapunya, lalu merekatkan ujung lidi dengan getah nangka. Setiap capung yang sedang hinggap di tanaman kami coba ‘jebak’ dengan ‘senjata’ kami, lalu dikumpulkan dalam sebuah wadah. Setelah itu, entahlah, mungkin di lepaskan kembali?

Aku juga ingat ketika di sore hari, aliran sungai musi di seberang rumah ramai dikunjungi masyarakat. Kebanyakan asyik berenang meskipun sungai cukup dalam. Ada juga yang menikmati desiran angin dan lambaian air sungai dari tepinya. Duduk-duduk di bebatuan yang berbagai macam ukurannya. Ada yang bahkan mencuci pakaian dan banyak aktivitas lainnya. Rumahku jauh dari persawahan, sehingga terkadang aku hanya menyempatkan waktu datang ke kebun milik tetangga karena aku tidak punya kebun.

Daffa kecil terkenal dengan kepandaiannya di sekolah sebagai straight peraih juara 1, meskipun aku sendiri merasa tidak pernah mengulang pelajaran di rumah kecuali beberapa kali saja. Ya, namanya saja sekolah kampung. Aku punya teman yang setelah lulus SD ia membantu orangtuanya bekerja di kebun alias putus sekolah. Di kampungku, banyak sekali anak-anak yang kerja part-time sebagai penjual empek-empek keliling. Teriakan mereka sangat memorable di benakku, “Iioo… pempek goreeeng…!!”. Terkadang air mata hendak jatuh dari pelupuk mataku mengingat anak-anak seusiaku yang harus bekerja demi menopang kebutuhan keluarga. Aku juga kenal dengan para loper koran dan bahkan aku pernah mengikuti mereka berkeliling menawarkan koran di jalan-jalan dan di pasar. Padahal, upah mereka tak seberapa.

Pada 21 Mei 2005, adik pertamaku lahir. Waktu itu aku tepat berusia 6 tahun. Ia lahir di tempat yang sama denganku dan Madre. Nama ‘Syifa’ yang kemudian menjadi panggilan bayi mungil itu, untuk nama panjang ‘Ananda Syifa Azzahra’. Ananda berarti ‘anak Madre’, Syifa dalam bahasa Arab berarti ‘penyembuh’, sedangkan ‘Azzahra’ adalah, juga dari bahasa Arab, berarti ‘bunga’.

Aku tidak begitu ingat masa kecilku dengan Syifa selain bahwa, sebagai kakak, aku sering disalahkan ketika terjadi sesuatu pada adik kecilku padahal terkadang aku tidak merasa bahwa itu salahku. Aku tidak begitu sering bermain dengan Syifa karena jarak usia kami yang terlalu jauh. Lagipula, aku laki-laki sedangkan Syifa perempuan. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar, kadang bersepeda jauh. Ditambah ketika Syifa masih berusia 3 aku pisah tempat tinggal dengan Syifa bahkan dengan Padre dan Madre. Aku pindah ke tempat yang jauh.

 

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s