Posted in Daffa The AUBA

My Childhood in Brief: SDIT Iqra’ 1 (2)

Pada tahun 2008 saat aku berusia 9 tahun, Padre dan Madre memutuskan agar aku pindah rumah ke Kota Bengkulu, ibukota provinsi yang berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari rumahku di kampung. Aku tidak begitu ingat alasan apa yang benar-benar menguatkan kedua orangtuaku, meskipun di kemudian hari aku dapat menyimpulkan sesuatu.

Waktu itu, banyak pihak yang mengecam orangtuaku dan yang terberat adalah, tentu saja, dari keluarga besarku. Anak pertama yang masih sangat belia dengan tega di pindahkan ke tempat yang jauh tanpa keluarga? Entahlah. Aku pun tidak tahu energi apa yang Allah sematkan ke badanku sehingga aku dengan sukacita mengikuti rencana tersebut. Hari ini aku berusia 17 tahun dan aku sangat menyadari bahwa anak berusia 9 tahun itu masih sangat kecil. Namun dahulu aku tidak begitu memikirkannya. Usut-punya-usut, di kemudian hari aku menyimpulkan bahwa maksud Padre dan Madre memindahkanku, waktu itu aku naik ke kelas 5 SD, adalah karena lingkungan yang kurang baik di SDN dan aku menyadarinya. Pergaulan anak-anak, terutama laki-laki, membuatku tidak betah. Bahkan Padre pernah bercerita bahwa aku pernah ingin mogok sekolah saat aku duduk di kelas 3, sesuatu yang tidak kuigat sama sekali hari ini.

Singkat cerita, Daffa kecil pun dibawa ke rumah seorang Ustadz Dani melalui perantara teman SMA Madre, bu Heppy, yang tinggal di kota. Kebetulan (baca: takdir), Ust. Dani adalah ketua Yayasan Al-Fida yang memayungi SDIT Iqra’ 1 Bengkulu, tempat yang di kemudian hari menjadi tempat peraduanku menuntut ilmu selama dua tahun terakhir di sekolah dasar. Rumah Ust. Dani sangat dekat dengan SDIT–nyaris di seberangnya. Ust. Dani beristrikan seorang Ustadzah Sefty dan mereka memiliki anak semata wayang bernama Ihsan. Ihsan memanggil kedua orangtuanya sebagai Abi dan Umi, panggilan yang kemudian juga kugunakan untuk memanggil orangtua asuhku itu.

Di hari pertama aku pisah tempat tinggal dengan Padre dan Madre aku tidak menangis. Dan selama aku tinggal di sana aku tidak ingat kalau aku pernah menangis karena merindukan mereka. Entahlah, aku tidak mengerti bagaimana aku bisa sekuat itu. Daffa kecil kurasa sangat menyukai hal-hal baru. Ia senang berkunjung ke tempat-tempat yang belum pernah ia pijak. Ia senang berinterkasi dengan orang-orang baru, terutama yang sebaya dengannya. Daffa kecil memang tumbuh sebagai seorang pemalu tapi sekaligus ceria. Ia tidak mudah menangis hanya karena ditinggal orangtua.

Ihsan satu angkatan denganku, meskipun usianya kurang lebih 1,5 tahun lebih tua dariku. Postur tubuhnya yang jangkung dan lebar membuatnya terlihat lebih tua dari siapapun di angkatan kami. Maka dari itu, ia pun memiliki panggilan lain, ‘kak Ihsan’. Aku pun kemudian memanggilnya dengan panggilan itu.

Di rumah itu aku mengenal sepupu-sepupu kak Ihsan yang sangat banyak, salah duanya adalah Habib dan Haidar yang kakak-beradik. Aku juga diperkenalkan dengan anak-anak panti asuhan di dekat sana. Aku yang tidak aktif berolahraga sering diajak kak Ihsan untuk bermain futsal di lapangan SDIT bersama anak-anak panti . Masa-masa kelas 5 benar-benar perubahan besar dalam hidupku. Terutama ketika aku mengenal banyak teman baru di kelasku.

Teman-teman di SDIT rata-rata bersahabat. Tentu saja mereka lebih terdidik secara budi pekerti dengan nilai-nilai keislaman. Lingkungan SDIT juga sangat berbeda. Penuh warna, lebih rapih dan bersih. Semua perempuan menutup aurat. Untuk pertama kalinya pula aku bertemu cabang-cabang pelajaran PAI yang sangat banyak, seperti aqidah, hadits, fiqh, dan SKI (Sejarah Kebudayaan Islam).

Di SDIT pula aku mulai terbuka dengan dunia yang lebih luas, salah satunya adalah dunia kompetisi. Aku meraih piala kedua dalam hidupku di SDIT (soalnya dulu aku pernah menang di kompetisi yang diadakan kursus sempoa dan itu tidak mewakili SDN). Waktu itu adalah lomba TIK tingkat Kota Bengkulu. Aku meraih juara 3, alhamdulillah.

Aku juga sempat aktif di beberapa kursus seperti bahasa Inggris dan piano. Kata orang, aku memiliki talenta di bidang tarik suara, menyebabkanku sering diminta menjadi penyanyi relawan di depan di depan teman-teman. Beberapa malah mendukungku mengikuti sebuah kontes menyanyi anak-anak yang sangat populer di sebuah stasiun televisi. Syukurlah, waktu itu aku sangat pemalu dan malas untuk memikirkannya, sehingga aku tidak pernah jadi berangkat untuk audisi ke Jakarta.

Di SDIT pula aku mulai menghafal al-Quran lebih fokus, setelah sebelumnya aku hanya bsia merampungkan surah al-Kaafirun yang sangat membingungkan. Aku sering terbolak-balik menghafalkannya. Surah al-Kaafirun adalah surah pertama yang membuatku putus asa dan menangis.

Belajar di SDIT dengan kultur full-day school-nya tidak membuatku lelah. Aku justru sangat bersemangat untuk berlama-lama di sekolah, mempelajari belasan pelajaran. Makan siang di sekolah, menunggu-nunggu snack yang diantar, shalat Zuhur dan Ahsar di masjid sekolah. Sungguh menyenangkan. 2 tahun di SDIT merupakan masa yang terasa sangat lama karena setiap harinya kunikmati.

Saat aku duduk di kelas 6, untuk pertama kalinya aku lolos ke sebuah perhelatan tingkat nasional. Adalah Konferensi Anak Bobo 2009 (sekarang Konferensi Anak Indonesia) oleh majalah Bobo yang meluluskan karya tulisku yang berjudul ‘tempoyak’ (makanan khas daerah Bengkulu) sehingga aku bersama 35 delegasi lain dari seluruh Indonesia diundang ke Jakarta untuk menghadiri konferensi tersebut.

Daffa.jpg
Konferensi Anak Bobo 2009 “Save My Food, My Healthy Food”

Di kelas enam pula aku pertama kali memenangkan olimpiade matematika bergengsi di kota, Mathematics Championship di Universitas Bengkulu. Aku bersama Rizki dan Husain mengantarkan SDIT Iqra’ 1 mempertahankan predikat Juara Umum pada kompetisi tahunan tersebut. Alhamdulillah.

 

Di SDIT Iqra’ 1 aku tidak pernah penjadi bintang kelas. Ada banyak sekali teman-teman yang lebih baik dariku. Beberapa nama yang berbekas adalah Fahmi, Bella, Bella (lagi), Husna, Atikah, Resia, Bima, dan Fathini. Mereka anak-anak yang memiliki kemampuan akademis yang hebat, masya Allah. Mereka yang memacuku untuk terus berkompetisi, karena di SDN aku seakan tak bersaing dengan siapapun. Teman-temanku itu hari ini telah menjadi mahasiswa di berbagai universitas ternama di negeri ini.

Ada juga beberapa nama lain yang masih merekat di hatiku. Mereka adalah Lalan, Gilang, dan Badar. Kami pernah ‘bersahabat’. Sayang sekali, Badar harus pindah sekolah saat kelas 6. Tapi, persahabatan masa kecil memang biasanya sebatas ‘janji jari kelingking’ dan frekuensi pertemuan yang cukup sering, atau mungkin memiliki kesamaan minat. Hari ini, aku menyadari bahwa di SDIT dulu sebenarnya aku tidak memiliki sahabat. Sahabat yang sejati. Hanya sekedar ‘teman dekat’.

Entah bagaimana aku yang hanya belajar 2 tahun di SDIT dinobatkan sebagai siswa terbaik aulaad (laki-laki saat wisuda. Fathini meraih predikat siswa terbaik banaat (perempuan). Yang penting aku bersyukur bisa mengangkat nama kedua orangtuaku yang berasal dari kampung, apalagi ketika mereka diminta untuk maju ke atas panggung. Waktu itu aku diberikan buku Three Cups of Tea oleh Greg Motenson, buku yang tidak pernah kubaca karena terlalu tebal yang sekarang telah hilang entah ke mana. Sekarang aku menyesal karena itulah sisa kenangan ketika aku dinobatkan sebagai lulusan terbaik SDIT Iqra’ 1 angkatan 2010.

Aku ingin mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah menemani hari-hariku di SDIT, khususnya para ustadz dan ustadzah yang telah mengerahkan usaha keras mereka demi menghasilkan generasi unggulan ummat islam. Aku ingin mengucapkan terima kasih yang khusus pada beberapa diantara mereka, yakni Ustadz Indra, Ustadzah Meri, Ustadzah Fida, Ustadzah Endang, dan Ustadz Adi. Oya, waktu itu angkatanku juga berhasil membawa nama SDIT Iqra’ 1 sebagai peraih nilai tertinggi UASBN (sekarang US) SD se-Provinsi Bengkulu. Alhamdulillah. Masa-masa yang terindah dalam hidupku.

Aku belum bercerita bahwa aku hanya tinggal di kediaman Abi Dani dan Umi Sefty sekitar satu tahun. Saat naik ke kelas enam, aku pindah ke rumah bu Heppy yang menjadi perantaraku mengenal Abi Dani dan Umi Sefty. Bu Heppy serta suaminya Pak Ahmad pun kemudian kupanggil dengan sebutan ‘Umi dan Abi’, mengikuti panggilan ketiga anak mereka: Fairuz, Haura, dan Vidya. Berdasarkan angkatan, Fairuz dua tahun di bawahku, Haura empat tahun, dan aku tak yakin dengan Vidya karena waktu itu ia masih belum sekolah seingatku. Kediaman kami cukup jauh dengan SDIT, maka dari itu, keterlambatan merupakan problem yang belum bisa kami selesaikan dengan tuntas.

Advertisements

Author:

Kalau aku salah, nasehati aku. Ajak aku lebih dekat pada Allah, insya Allah engkau menjadi sahabatku. Mimpiku terbesarku di dunia adalah: Aku ingin jadi hafiz al-Quran yang hidup dan mati bahagia. Aku juga ingin membangun sekolah al-Quran untuk anak-anak yang yatim dan dhuafa di daerahku. Kalau engkau punya mimpi yang sama denganku, insya Allah engkau akan menjadi sahabatku. Doakan aku ya, semoga Allah mengabulkan doa itu untuk dirimu juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s