Posted in ITB, kafila, My Lifetime History

Di ITB, Apa yang Kau Cari?

Bismillaah, Ashshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah.

Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin.

Hari ini masih masa libur panjang, tapi aku sudah di Bandung duluan. Teman-teman TPB baru akan berdatangan barangkali 5-6 hari lagi, berhubung tepat sepekan ke depan kuliah sudah akan dimulai, insyaa’ Allah.

Sejak lama aku berniat untuk menulis tema ini. Aku sudah berada di ITB selama 1 semester, kurang lebih. Satu semester yang benar-benar warna-warni. Satu semester yang sarat akan campuran perasaan, berbagai pengalaman menakjubkan, dan interaksi dengan teman-teman yang mengesankan. Mungkin aku bisa menuliskan satu novel hanya untuk menceritakan satu semester ini. Tapi tentu saja, aku hanya perlu menyampaikan apa yang sekiranya bermanfaat untuk kubagi pada teman-temanku, khususnya para pembaca blog-ku. 

ITB.

Banyak orang bermimpi masuk ITB, menjadi mahasiswa ITB. Namun, lebih banyak lagi yang bahkan tidak berani untuk bermimpi masuk ITB. Alasannya bermacam-macam dan alasan yang paling klise kurasa adalah ‘standar akademik’. Sepengetahuanku, orang-orang di berbagai daerah di Indonesia memiliki prototype pikiran bahwa ITB hanya untuk mereka yang memiliki intelegensi dan prestasi yang gemilang, super jenius, anak olimpiade, dan biasanya didominasi oleh orang-orang dari sekolah-sekolah itu saja, kota-kota itu saja. Tidak salah, sih, namun tidak sepenuhnya benar pula.

Sejujurnya, aku pun sering kepikiran hal itu. Aku memang tipikal orang yang tidak mudah untuk percaya diri. Aku masih suka merasa minder, salah tingkah, super malu, terutama ketika bergaul dengan anak-anak ITB. Padahal aku sendiri juga anak ITB. Ketika berinteraksi dengan orang-orang yang terlalu kukagumi, aku bahkan lupa kalau aku adalah sebenarnya bagian dari mereka, bagian dari ITB pula. Perasaan yang tidak seharusnya kupelihara. Lagipula, buat apa?

Hal ini mendorongku untuk kembali menata diri dan menoleh ke belakang. Sebenarnya, aku masuk ITB ini untuk apa, sih?

Out of the topic,

Aku mengenal seorang teman yang ia masuk ke sebuah grup di medsos Line. Grup itu bernama “IP 4”. Katanya, grup itu adalah grup yang berisi anak-anak TPB yang sudah well-known sebagai dabest di fakultas/sekolah masing-masing, fungsinya untuk saling menyemangati satu-sama lain untuk meraih IP (Indek Prestasi) 4. Di dalam grup itu, aku mengenal beberapa nama, tentu saja mereka para medalis OSN.

Saat hasil IP semester satu keluar, anak-anak grup tersebut mulai membicarakan nilai satu sama lain. Kulihat angka IP mereka nyaris mencapai 4, yakni di atas 3,5. Ternyata, ada salah seorang yang meng-screenshot transkrip nilai seseorang yang namanya tidak diketahui (barangkali belum dimasukkan ke grup tersebut), ia meraih IP 4. Ya, perfect score. PERFECT SCORE DI ITB BAYANGKAN. Tabel indeks per mata kuliah terisikan huruf ‘A’ beruntun.

——————–*———————–*—————————–

Aku beberapa kali pulang malam ke kosan. Biasanya, kalau berjalan kaki, aku melewati sunken court, tempat nongkrong anak-anak unit tertentu, seperti ITB Jazz, Unit Kebudayaan Jepang, Aceh, Makassar, ITB Humaniora (atau apalah itu), dsb dst dll. Sunken court di malam hari sangat hidup. Para penghuninya berkegiatan dengan alat-alat musik, tarian-tarian, atau obrolan.

sunken_court_by_bosq
Sunken Court

Tidak hanya di sunken court, terkadang di teras gedung-gedung perkuliahan, koridor-koridor, juga di tunnel (semacam jalur bawah-tanah yang menyambungkan ITB dengan SARAGA ‘Sarana Olah Raga’), para mahasiswa berkegiatan sesuai minat masing-masing, seperti Tae Kwon Do dan beladiri lain. Di lapangan apa lagi, anak-anak drum band dan olahraga biasanya beraksi. Malam demi malam yang selalu gegap gempita. Entahlah kapan mereka mengulang pelajaran atau mengadakan riset pribadi. Entahlah kapan mereka persiapan ujian. Mereka sudah terlalu jenius, meureun, atau memang mereka super disiplin dalam pengaturan waktu.

 

hqdefault
Tunnel

Di lain sisi, karena aku cukup sering nongkrong  di Masjid Salman, aku pun berinteraksi dengan orang-orang yang sangat gemar dengan kegiatan-kegiatan kaderisasi dakwah, mengikuti kajian-kajian dan mentoring-mentoring, serta berdialog tentang agama. Beberapa hampir tidak pernah absen mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan GAMAIS ‘Keluarga Mahasiswa Islam’, rohisnya ITB, atau kegiatan dari Masjid Salman sendiri. Usut-punya-usut, mereka ternyata memiliki misi tersendiri untuk, selain tarbiyah untuk diri masing-masing, mereka ingin menjadi pribadi yang dapat masuk ke seluruh golongan di ITB dengan membawa syiar islam, entah itu di Kabinet Mahasiswa, HImpunan, atau Unit Kegiatan Mahasiswa.

wisatabdg
Masjid Salman ITB
88528_620
Masjid Salman ITB

Selain itu, banyak sekali cerita menarik tentang teman-teman ITB ini:

  1. Seseorang, fulan, sebenarnya berminat dan telah bermimpi sejak lama untuk menjadi seorang militer. Namun, karena matanya minus, ia harus membuang mimpinya tersebut dan membanting setir ke ITB. Sekarang, ia justru aktif di Menwa (Resimen Mahasiswa ITB), yang anggota-anggotanya menurutku mirip Satpol PP, luar-dalam. 😀4500260058_9c079f1477.jpg
  2. Fulan yang lain ‘terlempar’ ke ITB. Ceritanya begini. Ia berasal dari suatu daerah di Kalimantan dan memiliki minat yang dalam terhadap bidang medis atau biologi kedokteran. Saat seleksi SNMPTN Undangan, ia mendaftar ke Fakultas Kedokteran (FK) di sebuah universitas ternama di daerah asalnya, lalu di pilihan kedua ia memilih Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), dan di pilihan ketiga, ia memilih FMIPA ITB. Qaddarallaah, ia terlempar ke pilihan ke-tiganya, yakni FMIPA ITB. Aku sungguh heran karena di ITB, Biologi sudah memisahkan diri dari FMIPA dan membangun sekolah sendiri, SITH. Temanku ini menyatakan bahwa ia tidak tahu itu, ia mendaftar tanpa memeriksa, karena barangkali ia sadar takkan diterima di FMIPA ITB. Ketika kutanya kembali, ia berkata bahwa mungkin ia akan mengambil Kimia, bidang yang paling dekat dengan Biologi, meskpun tetap saja kedua bidang tersebut beda banget.
  3. Beberapa teman memilih suatu fakultas/sekolah yang ketika kutanya mengapa, mereka tidak tahu. “Yaa, nyoba aja!”. Aku sih husnodzon aja mereka memang tertarik untuk mempelajari banyak hal baru, ya sudah.
  4. ‘Pengkhianat ITB’, istilah yang disematkan untuk mereka yang telah di terima di ITB, masuk ke grup fakultas/sekolah masing-masing, namun keluar sebelum kuliah dimulai karena diterima di STAN (pasalnya, kalau diterima di STAN dan tidak mengambil maka wajib bayar 20 juta, wallaahu a’lam T_T)
  5. Seseorang yang kukenal bahkan ingin segera pindah dari ITB. Tebak ke mana: ke Mekkah! Di ITB, ia pertama kali mengenal kajian, dan ketika hal tersebut telah menyentuh sanubarinya, seketika ia ingin menjadi seseorang yang fokus mendalami agama.uqu-logo
  6. Ada juga yang masuk ITB hanya sekedar agar orangtuanya bahagia dan hidupnya mapan… tapi tidak hanya berhenti di situ, ketika sudah sukses secara finansial, ia ingin segera meinggalkan pekerjaan tersebut untuk merengkuh mimpi lain… misalnya mendirikan sekolah, menjadi pebisnis, wirausahawan, dsb dst dll.

Begitu bercorak anak-anak ITB yang kukenal. Dan itu BARU YANG KUKENAL. Ada berapa puluh ribu mahasiswa ITB lain dengan mimpi mereka masing-masing, coba?

Mungkin ada juga yang masuk ITB hanya karena… ini ITB. Ia ingin berbangga dengan almamaternya di atas almamater orang lain. Setiap orang pasti menganggap ITB adalah perguruan tinggi negeri terbaik di negeri ini, atau setidaknya, salah satunya. Tidak dipungkiri ada yang memilih ITB hanya demi dipuji orang banyak.

Terlepas dari semua itu, aku tidak menyalahkan siapapun. Setiap orang berhak atas pendapat, jalan hidup, dan tujuan masing-masing. Aku sendiri di biologi paling suka materi yang dipelajari anak-anak FK, yakni anatomi-fisiologi manusia. Aku juga suka biologi sel dan molekuler serta etologi (biologi perilaku). Tumbuhan dan ekologi justru merupakan bidang yang paling tidak kukuasasi saat di SMA, tapi aku memilih Rekayasa Pertanian ITB 🙂 So what???

ITB bukan hanya untuk orang jenius, kok. ITB juga bukan untuk anak-anak olimpade saja. ITB adalah juga untuk orang-orang yang berusaha, yang memiliki mimpi besar untuk daerah mereka, bangsa mereka, ummat mereka.

Aku yang sering minder ini berulang kali mengatakan pada diriku, bahwa aku masuk ke ITB bukan untuk kejar-kejaran IPK. Bukan untuk sok-sokan jurusan favorit. Apa yang kucari di sini adalah ilmu, ilmu yang bisa bermanfaat untuk kampung halamanku. Ilmu yang dengannya aku dapat berkontribusi pada kejayaan ummat Islam yang dijanjikan.

Yang berat adalah ketika beberapa orang atau ustadz menyatakan padaku,

“Kenapa masuk ITB?”

“Siapa yang suruh masuk ITB?”

“Sayang, lho, hafalanmu!”

“Kenapa nggak ke LIPIA aja? Atau Madinah?”

“Bahaya… entar ikhtilat… kena fitnah… blabla.

Iya juga sih. Biasanya, setiap orang bertanya seperti itu aku akan tersenyum terlebih dahulu, nahan nangis. Siapa sih yang nggak mau belajar agama lebih dalam? Siapa sih yang nggak mau ke Saudi, haramain, aman dari fitnah dajjal…. Siapa sih yang nggak mau hidup enak di tempat yang ideal, islami, tenang, nyaman, di sekitar orang-orang satu manhaj yang soleh-soleh semua…

Ya, mungkin ada. Tapi aku nggak termasuk. Makanya, satu semester ini, aku pun sempat terkena dogma ‘salah jurusan’, yang menyebabkan semangatku pasang-surut. Malah jauh lebih banyak surutnya. Kontradiksi perasaan bergumul dalam hati. Tapi aku yakin… nggak mungkin Allah membiarkanku masuk ITB karena tidak sayang padaku. Toh, ini hasil istikharah berbulan-bulan, kok. Meskipun aku berpikiran bermacam-macam, ada saja jalan Allah untuk membuatku tetap bertahan, salah satunya: teman. Ya, teman. Aku belum pernah bertemu dengan teman-teman seperti ini di tempat lain. Mungkin, di tulisan-tulisan tentang ITB sebelum ini, aku telah banyak sekali bercerita tentang teman-teman di ITB. Teman-teman yang justru ‘memaksaku’ untuk kembali mengkaji apa yang pernah kupelajari dulu di pesantren karena pertanyaan-pertanyaan mereka yang komplikatif.

Sebagai anak pesantren, terutama dengan busana yang biasa kukenakan, banyak sekali uneg-uneg berterbangan ke telingaku. Ketika aku menggunakan ear-phone saat musik dialunkan, ada seorang teman yang bertanya mengapa. Kesempatanku untuk memberitahunya sedikit ilmuku tentang hukum musik. Ada juga seorang teman yang bertanya padaku tentang puasa Asyura (ia berharap dosanya diampuni setahun ke belakang), padahal aku bahkan tidak tahu bahwa ia muslimah. Ia tidak berhijab dan namanya mirip nama non-Muslimah. Di ujung chat, aku memberinya pesan untuk berhijab. Tak terbayang pahalanya apabila ia kemudian ia berhijab karena perantara dakwahku.

Temanku yang akan mencalonkan diri menjadi ketua angkatan juga banyak berkonsultasi padaku tentang kepempimpinan dan bagaimana menyikapi perbedaan. Banyak juga yang berkonsultasi tentang masalah pribadi, ketidaknyamanan, kesuraman, agar mereka terobati dengan siraman rohani. Bahkan, aku punya teman yang kurang perhatian dengan keorganisasian islam tiba-tiba meminta mentoring olehku sebab ia terkena dakwah misionaris!

Aku jadi lebih tergugah untuk lebih mendalami apa yang telah kuhafal, lebih banyak mencari tahu tentang ilmu yang bisa langsung keterapkan pada teman-temanku. Aku dan beberapa teman penghafal Quran bahkan diminta untuk mengajari tajwid dan membina tahfizh teman-teman se-angkatan, serta yang lebih tua, bahkan mahasiswa S2!

Lalu, siapa bilang kuliah di ITB membatasi diri untuk mempelajari islam lebih dalam? Berapa banyak orang yang jadi lebih faqih setelah masuk ITB? Para mahasiswa yang semangat dalam mempelajari islam membentuk sebuah komunitas, namanya Al-Muhandis (dalam bahasa Indonesia, al-Muhandis berarti Insinyur) yang mewadahi para talibul ilm di bidang fiqh, aqidah, tafsir, hadits, dll. al-Muhandis hanyalah salah satunya. Ada lebih banyak lagi kegiatan-kegiatan dan kajian-kajian yang diadakan Masjid Salman, GAMAIS ITB, dan lain-lain.

14022253_2099638756927810_5760098206814160236_n.png

Bukan berarti aku tidak menghormati mereka yang kemudian memilih jurusan keagamaan, khususnya teman-teman Kafila-ku, para kakak kelas, serta adik-adik kelas nanti. Tapi yakinlah, kalian tidak akan tahu bagaimana beratnya berdakwah pada masyarakat luas apabila kalian tidak pernah langsung turun ke lapangan. Sangat disayangkan apabila teman-teman yang mengambil jurusan agama kelak hanya bisa memberikan kajian, doktrin ini-itu, tapi tidak mengerti kondisi masyarakat, seberapa awam mereka, misalnya. Atau lebih-lebih ilmunya hanya apa yang ia hafal dan tidak bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.

Aku ingin menyampaikan secara terbuka, terutama pada adik-adik Kafila yang telah Allah berikan kelebihan di bidang matematika dan sains. Ketika kalian berpikiran untuk hidup aman di haramain, apakah kalian tidak dendam dengan kebengisan pasukan Mongol saat mereka meluluhlantakkan peradaban islam modern di Baghdad yang penuh dengan nuansa sains? Buku-buku para ulama dan ilmuwan diceburkan ke sungai Tigris sampai sungai itu menghitam sebab tinta yang luber. Apakah kalian rela karya-karya ilmuwan pendahulu kita yang direbut Barat lalu mereka mengklaim bahwa merekalah inisiatornya?

——————–*———————–*—————————–

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lebih tahu tentang ilmu dunia dibandingkan para shahabatnya.

Di antara buktinya adalah hadits dari Anas tentang mengawinkan kurma. Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sahabatnya yang sedang mengawinkan kurma. Lalu beliau bertanya, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Dengan begini, kurma jadi baik, wahai Rasulullah!” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ

Seandainya kalian tidak melakukan seperti itu pun, niscaya kurma itu tetaplah bagus.” Setelah beliau berkata seperti itu, mereka lalu tidak mengawinkan kurma lagi, namun kurmanya justru menjadi jelek. Ketika melihat hasilnya seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

مَا لِنَخْلِكُمْ

Kenapa kurma itu bisa jadi jelek seperti ini?” Kata mereka, “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kita begini dan begitu…” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.”  (HR. Muslim, no. 2363)

13837113-palm-tree-with-seeds-Stock-Photo-date.jpg

Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lebih tahu tentang ilmu pengobatan.

عَنْ سَعْدٍ، قَالَ: مَرِضْتُ مَرَضًا أَتَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُنِي فَوَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ ثَدْيَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَهَا عَلَى فُؤَادِي فَقَالَ: «إِنَّكَ رَجُلٌ مَفْئُودٌ، ائْتِ الْحَارِثَ بْنَ كَلَدَةَ أَخَا ثَقِيفٍ فَإِنَّهُ رَجُلٌ يَتَطَبَّبُ فَلْيَأْخُذْ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِنْ عَجْوَةِ الْمَدِينَةِ فَلْيَجَأْهُنَّ بِنَوَاهُنَّ ثُمَّ لِيَلُدَّكَ بِهِنَّ

“Dari sahabat Sa’ad mengisahkan, pada suatu hari aku menderita sakit, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku, beliau meletakkan tangannya di tengah dadaku, sampai-sampai jantungku merasakan sejuknya tangan beliau. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Engkau menderita penyakit jantung. Temuilah Al-Harits bin Kaladah dari Bani Tsaqif, karena sesungguhnya dia adalah seorang tabib (dokter). Dan hendaknya dia (Al-Harits bin Kaladah) mengambil tujuh buah kurma ‘ajwah, kemudian ditumbuk beserta biji-bijinya, kemudian meminumkanmu dengannya.”  (HR. Abu Daud, no. 3875. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if)
Sumber : https://rumaysho.com/13101-ilmu-dunia-engkau-lebih-paham.html

Image result for pharmacy hd

Marilah berbagi fungsi dan posisi. 

Bukankah ada banyak teman-teman kita di tempat lain yang telah mempersiapkan khusus untuk mempelajari agama agar mereka dapat menjadi ulama masa depan? Berilah ruang untuk mereka. Untuk apa Kafila memadukan kurikulum sains, agama, dan hafalan Quran, apabila kita tidak memiliki cita-cita besar untuk berdakwah di kalangan para saintis, dokter, pebisnis, pengusaha, dan teknokrat?

Untuk adikku Fulan, Indonesia takkan mengirimmu ke Bulgaria untuk ikut serta di IMC bersama 19 orang terpilih se-negara kecuali karena kemampuan Matematikamu. Seandainya engkau ke Madinah, siapa yang akan mewarisi Khawarizmi?

Untuk adikku yang lain, medali itu takkan Allah takdirkan untukmu kecuali karena Allah tahu engkau penting di bidang itu. Apakah engkau rela ketika teori-teori Fisika menjadikan manusia jauh dari agamanya—ketika energi dianggap kekal, tidak diciptakan dan tidak musnah? Di mana peran Allah?

Untuk adikku yang satu lagi, tentu kelebihanmu dalam menghafal dan menganalisa permasalahan Biologi tidaklah Allah berikan padamu kecuali karena suatu maksud. Dokter mana yang akan mengaitkan kesembuhan dengan Allah? Apakah selamanya kita akan setuju dengan teori Darwin?

Saudara-saudara kita yang tertindas di Aleppo, Rohingya, serta Garut dan Bima yang baru ditimpa bencana tidak cukup hanya didoakan. Ummat kita butuh ahli diplomasi dan politik yang berafiliasi dengan Islam, yang dapat menyelamatkan ummat islam dari jeratan mafia-mafia politik yang hanya mementingkan Barat. Ummat kita butuh geolog, meteorolog, dkk untuk mendeteksi bencana yang akan datang.

Saudara-saudara kita yang kelaparan butuh suplai makanan dari para ahli pertanian. Ummat kita butuh insinyur sipil dan arsitek yang mengkonstruksi infrastruktur umum seperti jembatan, bangunan-bangunan bermaslahat seperti rumah sakit, juga kelistrikan gedung dan perpipaannya. Ummat kita butuh ahli lingkungan dan planologi yang dapat menciptakan kota ‘islami’ yang bukan hanya kota ahli dzikir tapi juga ahli kebersihannya, pengolahan air limbahnya, dan tata kotanya yang ideal. Bukankah kerapihan dan keteraturan adalah ajaran Islam? Jepang negara Islami tapi bukan Islam. Indonesia negara islam tapi tidak islami.

Siapa yang akan berjuang melawan crackers dan cyber crimers yang benci islam kalau bukan ahli informatika kita? Siapa yang akan berhasil menghadapi raksasa-raksasa industri dan ekonomi yang merendahkan ummat kita, kalau bukan teknokrat industri dan ekonom Muslim yang bertaqwa? Apakah selamanya kita akan berbeda pendapat dalam penentuan mulai Ramadhan hanya karena ketiadaan astronom Muslim yang handal? Panjang, deh. Bayangkan saja jika semua elemen kemaslahatan umat ini dipengang oleh mereka yang hafidz 30 juz, mereka yang paham ayat-ayat Allah, hadits-hadits Nabi.

Coba, kalian simak firman Allah, surah Fathir ayat 28.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah antara hamba-hamba-Nya (Allah), hanyalah para ulama.”

Image result for fatir 28

 

Mungkin di tafsir, ulama yang dimaksud adalah ulama dalam bidang agama. Tapi coba baca potongan ayat dan ayat sebelumnya.

“Tidakkah kamu melihat bahawasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu Kami (Allah) keluarkan dengannya buah-buahan yang pelbagai warna. Dan dari gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang pelbagai warnanya dan yang hitam pekat.” (Fathir: 27)

“Dan demikian (pula) antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak, pelbagai (pula) warnanya….” (Fathir: 28)

Pesan apa yang Allah siratkan? Secara tidak langsung, ulama yang dimaksud jugalah ulama-ulama di bidang sains. Berikut ayatnya secara utuh, dengan pelengkap:

“Tidakkah kamu melihat bahawasanya Allah menurunkan air dari langit (hidrologi, meteorologi, klimatologi, dsb), lalu Kami (Allah) keluarkan dengannya buah-buahan yang pelbagai warna (pomologi, botani, pertanian, biologi). Dan dari gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang pelbagai warnanya dan yang hitam pekat. (vulkanologi, geologi, geodesi.)” (Fathir: 27)

Image result for mountain hd

“Dan demikian (pula) antara manusia (antropologi, psikologi, kedokteran dll), binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak (zoologi, kedokteran hewan), pelbagai (pula) warnanya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah antara hamba-hamba-Nya (Allah), hanyalah para ulama.” (Fathir: 28)

See the hidden messages?

Ayo, jangan takut masuk ITB. Luruskan niat. Kenapa ITB? Ya karena aku anak ITB. Kalau aku anak UGM pasti aku tulis tentang UGM. Hanya saja, poin penting yang kumaksud adalah: bercita-citalah yang tinggi untuk ummat kita ini.

Angkatan 2 SMAN 1 Sumatera Barat meloloskan sekitar 30 dari 60-an muridnya ke ITB saja, karena mereka paham sesuatu. Sekolah Minang lain, seperti SMAN 1 Padang, SMAN 1 Padang Panjang, SMAN 1 Bukittinggi, dll, patut menjadi percontohan. Mereka biasa meloloskan belasan hingga puluhan alumni mereka setiap tahun KE ITB SAJA. Belum yang ke UI, UGM, ITS, dll. Padahal para siswa mereka notabene anak daerah setempat dengan segala keterbatasan. Berbeda dengan para santri Kafila yang disaring dari anak-anak seluruh penjuru negeri dengan berbagai tes.

Image result for itb ui ugm

Adalah penting untuk bermpimpi masuk ke perguruan tinggi terbaik negeri. Buang jauh-jauh kesombongan, bangga-banggaan. Niatkanlah untuk mengangkat izzah islam dan sekolah islam di mata dunia umum. Seseorang yang membawa nama ITB dan perguruan tinggi terbaik lain sebagai almamaternya akan lebih mudah didengar dan lebih dihormati. Jalan dakwah akan lebih mudah ketika nama dan almamater kita adalah yang terbaik. Para petinggi negara, pemegang kebijakan, lulusan mana, coba? Persaingan dunia ke depan akan sangat sengit. Siap atau tidak, engkau pasti terlibat. Hanya, engkaulah yang memilih, apakah menjadi pelaku yang berpengaruh atau hanya sebagai penonton yang dipengaruhi.

Ketika sudah berhasil masuk ITB…

Apa yang Kau Cari di ITB? Apakah sekedar IPK 4? Sekedar mewujudkan mimpi orang tua atau ingin mendapatkan pekerjaan yang layak? Kalau aku: ilmu yang bermanfaat, relasi yang banyak, dan pahala yang berlimpah. Aku ingin berdakwah, menginspirasi dan bermanfaat bagi banyak orang, membuka mata dan telinga dengan dunia nyata miniatur masyarakat yang sebenarnya. Aku ingin dapat menafsirkan dan menguak rahasia al-Quran dan as-Sunnah secara saintifik, khususnya di bidang yang kugeluti. Dan yang terpenting dari semua itu: aku mendapatkan ridho dan rahmat Allah atas segala usahaku.

Memang banyak sekali resiko, semacam ikhtilath dan keberagaman yang berlebihan. Alangkah indahnya jika kita dapat lebih kuat menjaga keimanan di tempat seperti ini alih-alih di tempat yang sudah kondusif, lebih-lebih jika kita dapat mewarnai mereka. Esensi dakwah bukan berarti mereka harus ikut kita, melainkan usaha kita menyampaikan pesan-pesan kebaikan, diterima ataupun tidak. Lagipula, Allah Yang-Maha-Baik pun telah memfasilitasi istighfar dan shalat taubat bagi kita yang tidak bisa mengelak dari dosa. Sekarang, mau cari aman lalu masuk surga sendiri, atau mau ambil resiko lalu masuk surga bareng yang lain?

Percayalah, ITB membutuhkan kalian!

Basyir, kutunggu di FTSL ITB. Hadzib, semoga tembus SITH-S ITB. Ghifa, meskipun FK Unpad, aku tetap menanti di Jatinangor 😀 . Basayev, silahkan terbang ke Eropa dan gali sebanyak-banyaknya manfaat! Farros, sukses, ya, ke Malaysia. Zaky, tunggu aku di Saudi ^^. Adik-adik SMP, Taufiq dan Raffi, STEI ITB, oke! Teman-teman lain, ketika kalian telah menuliskan suatu mimpi dan kiranya di kemudian hari kalian anggap terlalu tinggi, jangan cepat-cepat dihapus. Bisa jadi tulisan itu telah menjadi bagian dari takdirmu. Berusahalah, berikhtiarlah, bertawakkallah, banyak berdoa… dan buktikan kalian dapat tembus ke ITB… buktikan bahwa kita, para Harapan Ummat Setelah Allah, dapat berkibar di pilar-pilar tertinggi dunia dan akherat! Science was ours and must be ours again! Allahu akbar!

Wallaahu a’lam bishshawaab.

 

 

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

2 thoughts on “Di ITB, Apa yang Kau Cari?

  1. menarik, kebetulan saya juga ITB 2016. Saya setuju bahwa ilmu agama yg kita miliki akan bernilai jika kita menyebarkannya, dan salah satu jalannya adalah dengan terjun ke dunia nyata. Tetapi, menurut saya tidak ada salahnya juga untuk mendalami Ilmu agama ke madinah, mekkah, dan lain lain. Islam juga membutuhkan para ulama agama yang mengerti tentang hukum hukum Islam secara spesifik, agar jika nanti ada perselisihan, para ulama agama bisa mengatasinya. Namun yang terpenting adalah Islam bukan hanya tentang ilmu ilmu fiqih, aqidah, dan lain lain, Islam itu mencakup seluruh aspek kehidupan. Jadi apapun jurusannya, selama tetap menjalankan kewajiban Islam (berdakwah, melaksanakan syariat. dll), tetap terjalin dalam ukhuwah Islamiyah, dan tetap memperjuangkan agar Islam tidak lagi tertindas (misalnya teori ilmu pengetahuan sekarang yang bertentangan dengan Islam adalah bukti bahwa Islam sedang tertindas), maka baik ulama agama maupun ulama sains (peneliti) sama sama pejuang Islam =)

    Like

    1. Yumna Fakultas/Sekolah apa?
      Bukan tidak ada salahnya belajar agama khusus ke Haramain misalnya. Tapi, apa yang kubicarakan adalah tentang pembagian fungsi dan peran. Tentu saja harus tetap ada sebagian generasi Islam yang belajar tafaqquh fiddin secara khusus. Adapun mereka yang melabuhkan usia muda mereka untuk secara khusus mempelajari sains maka hendaknya tetap tidak meninggalkan menuntut ilmu agama, setidaknya yang memang wajib untuk diketahui. Dan ya, semuanya adalah pejuang islam insyaa’Allah selama mereka meniatkan seperti itu. Wallahu a’lam.

      Barakallah fiik, ya, makasih komentarnya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s