Posted in ITB, My Lifetime History

Keluarga Fahlevi

Bismillah. Ashshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah.

Minang. Banyak sekali orang Minang di ITB, setidaknya sejak aku menyadari bahwa ketika pendaftaran ulang (daful) pertama di ITB Jatinangor, aku jauh lebih banyak mendengar percakapan bahasa Minang dibandingkan bahasa Sunda, bahasa setempat. Aku lebih terkejut lagi bahwa ternyata satu sekolah di Sumatera Barat bahkan bisa mengutus dua puluhan alumni satu angkatannya ke ITB saja. Untuk level sekolah di daerah, jumlah tersebut merupakan jumlah yang sangat fantastis. Di angkatanku saja hanya dua orang yang berasal dari SMA di provinsi Bengkulu (Aku sendiri tidak termasuk yang dua itu sebab SMA-ku di Jakarta).

Sependek pergaulanku dengan anak-anak Minang di ITB, aku belajar banyak hal tentang karakter mereka yang pejuang keras hingga ke ranah perantauan. Mahasiswa Berprestasi Nasional 2017 dari ITB, bang Muhammad Al-Kahfi, adalah alumni SMAN 1 Padang Panjang, kakak tingkat Yusuf (baca: Resurgence: A Comrade Factor). Ia mengusung tema tentang aplikasi asuransi syariah. Masha Allah. Pribadi yang teguh dalam memegang prinsip beragama ini juga yang mebuatku sangat kagum dengan orang-orang Minang. Ya, tentu saja, sependek pergaulanku. Kalaupun ada prototype hal-hal negatif dari mereka, teman-temanku tidak begitu.

Di semester dua lalu, aku memutuskan untuk tinggal bersama Yusuf di kosnya. Sejak saat itu, aku banyak sekali belajar bahasa Minang. Bahasa Minangku cukup berguna saat berkomunikasi dengan mahasiswa-mahasiswa ITB lain yang berasal dari tanah Minang. Manfaat sampingannya adalah agar tidak dikatai orang Minang kecuali aku sudah mengerti bahasanya, hehe. Atau barangkali kelak jodohku orang Minang? Memang merupakan kesukaanku untuk mempelajari bahasa-bahasa baru, apalagi yang bisa langsung dipraktekkan.

Suatu malam, ketika aku bertemu untuk pertama kali dengan Yusuf setelah liburan semester satu, kami pergi makan di sebuah rumah makan di dekat kos. Kami banyak sekali bercerita. Yusuf bercerita tentang keluarganya. Karena aku terkesima, aku meminta izin untuk menuliskannya di blog-ku.

Keluarga Fahlevi adalah salah satu keluarga yang sangat kukagumi dalam hidupku. Ayah dan ibu mereka memiliki enam anak laki-laki dan satu perempuan. Yang pertama, bang Rendy, adalah alumni Teknik Pertambangan ITB. Yang kedua, Bang Indra, pernah menjalani student exchange ke Jepang selama setahun, sebelum kemudian ia melanjutkan studinya ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) hingga tamat. Anak ketiga dan keempat, bang Rudy dan kak Jenny, meskipun hanya berkesempatan untuk berkuliah di ranah sendiri, semangat mereka untuk meraih pendidikan tinggi sangat besar. Yusuf, anak kelima, diterima di Teknik Sipil ITB. Sekarang, adiknya, Afid, pun diterima di Manajemen Rekayasa Industri – Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB lewat jalur SNMPTN Undangan, dengan program peminatan (jalur yang sama denganku). Afid pernah memenangkan medali perunggu di OSN Kebumian 2016 Palembang. Adik terakhir mereka, Raihan, masih SMP, adalah juara olimpiade matematika andalan sekolahnya di Payakumbuh. Di belakang nama-nama mereka, tersemat kata ‘Fahlevi’––bukan marga keluarga, melainkan terinspirasi dari sebuah nama keluarga sebuah dinasti di Iran. Usia mereka pun hanya terpaut satu atau dua tahun satu sama lain.

Aku berkesimpulan, bahwa memang Yusuf dan saudara-saudarinya adalah anak-anak yang terdidik dengan baik di rumah, dengan disiplin yang sangat ketat. Mereka mewarisi budaya kerja keras Minang yang tak terkalahkan. Tipikal keluarga yang sangat kuidamkan, karena masa kecilku dan adik-adikku tidak begitu. Padahal, kedua orangtua Yusuf tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, bahkan Ayahnya tidak pula sampai lulus SMA. Namun, keduanya merupakan salah satu lulusan terbaik sekolah kehidupan dan universitas bahtera keluarga. Keduanya berbisnis lewat perdanganan perabotan rumah tangga. Dulu, kata Yusuf, dua abang tertuanya sering membantu orangtua mengangkut perabotan-perabotan dagang Papa dan Mama mereka. Adalah bang Rendy dan bang Indra pula yang benar-benar diatur dengan disiplin yang ketat. Ketika tidak keluar rumah tanpa izin, pukulan ‘sayang’ dari orangtua boleh jadi melayang ke salah satu anggota tubuh mereka. Kehidupan keras di era 90-an mendidik mereka untuk terus menjadi anak yang serius, pun di sekolah. Meskipun tidak terlalu keras pada adik-adik bang Rendy dan bang Indra, budaya ketekunan itu ikut turun kepada lima anak termuda di keluarga Fahlevi.

Hidup keluarga Fahlevi semakin berombak diterpa badai yang datang dari keluarga besar mereka sendiri, ketika banyak sekali yang berbuat buruk pada mereka. Namun, oleh ibu mereka, keluarga besar yang suka mencela itu malah selalu dibalas dengan kebaikan alih-alih keburukan pula., berapa banyak perabotan-perabotan dagangan mereka sendiri atau bahkan sejumlah uang menjadi saksi bisu transaksi tanpa pamrih itu. Ibu keluarga Fahlevi percaya, bahwa kebaikan pasti ‘kan berbalas kebaikan. Dan itulah yang telah mereka rasakan, yakni dampak kepada kesuksesan anak-anak keluarga Fahlevi. Sadar atau tidak, mereka telah menjalankan sabda Nabi yang tercantum dalam kitab Arba’in An-Nawawiyyah, hadits ke-36.

“Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim yang pasti berderajat shahih.

Masha Allah, tabarakallah. Senang mengenal keluarga Fahlevi.

Advertisements

Author:

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Kepahiang, Bengkulu. Kelahiran tahun 1999. Pernah berpastisipasi pada Konferensi Anak Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bobo 2009 (Save My Food My Healthy Food) dan 2014 (Aksi Hidup Bersih). Menuntut ilmu di SDN 04 Kepahiang, SDIT Iqra' 1 Bengkulu, Kafila International Isamic School Jakarta, dan Rekayasa Pertanian SITH ITB. Pemenang Spelling Bee pertama dan termuda dalam sejarah Asian English Olympics, alhamdulillah. Tertarik pada sains biologi khususnya biologi sel dan molekuler serta biologi medis dan fisiologi manusia, juga bahasa asing, sejarah islam, dan ilmu syar'i. Resolusi: hafiz al-Quran, petani kurma, guru bahasa Inggris, polyglot, penulis handal, penerjemah profesional, dan pendiri pesantren berbasis sains-Quran berbeasiswa di daerah asalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s