Posted in Daffa The AUBA, kafila, My Dakwah Adventure

Laodicean: And The Da’wa Works, Eventually

Bismillaah ashshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah

Di suatu siang menjelang sore, aku berjalan-jalan tanpa alas kaki di halaman Kafila yang sekarang telah dilapisi keramik. Kafila telah jauh berubah. Fasilitasnya semakin mewah. Di luar, tampak plang “Kafila International Islamic School” dengan megah tempampang. Area parkir telah dirapihkan sedemikian rupa. Di perpustakaan, kulihat ada banyak buku baru. Sistem dan peraturan yang berjalan pun mengalami kemajuan dan bertambah ketat. Salah satunya, para santri harus melakukan registrasi berkode, menggunakan semacam struk bukti perizinan yang harus diberi cap oleh satpam, sebelum pergi izin keluar ma’had. Sistem yang menuntut para santri untuk menjadi lebih disiplin dengan waktu karena limitasi waktu berbasis komputer tidak bisa dilanggar––kalau sudah lewat waktunya, ya sistem tidak bisa bekerja. Jadi, santri yang terlambat pulang ke ma’had tidak bisa melakukan registrasi ulang yang menandakan bahwa ia sudah pulang, menyebabkan namanya tak terdata lalu berujung pada konsekuensi berupa hukuman.

Di Kafila, hari itu, adalah hari wisuda lulusan Kafila angkatan VI sekaligus pelantikan santri baru yang dikemas dalam kegiatan ‘khutbatul iftitah’. Tahun ini, ada banyak sekali kejutan dalam PSB (Penerimaan Santri Baru), khususnya adalah jumlah santri yang diterima. Tahun ini, total santri yang diterima bertambah kurang lebih 2,3 kali lipat. Pada tahun sebelumnya, santri yang diterima berjumlah 30 anak. Tahun ini, 70 anak dari berbagai macam daerah, dengan tiga tipe pembayaran. Ya, tahun ini, yang paling mengejutkan adalah, tidak semua santri baru di Kafila menerima beasiswa. Hanya 20 anak dari tingkat MTs dan dua anak dari tingkat MA yang menerima beasiswa. Sisanya, berbayar, namun berjenjang. Mungkin di tulisan lain akan kujelaskan lebih rinci tentang perubahan-perubahan pada PSB Kafila.

Tak kusadari, seorang ibu-ibu ‘mengintai’-ku dari jauh. Ketika posisiku mulai mendekatinya, ia pun menyapaku.

“Daffa, ya?”

“Iya, sahutku.”

“Daffa Al-Falah?”

Aku mengiyakan lagi. Aku tak heran ia telah mengenal wajahku karena tadi pagi, yakni saat wisuda lulusan Kafila angkatan VI, aku diminta untuk menjadi perwakilan alumni untuk menyampaikan kesan-pesan kepada audiens yang hadir.

Wajah ibu itu sumringah. Senyum lebar tersungging di bibirnya.

Ibu itu adalah ibu dari Owais, salah satu santri baru tingkat MA. Ia berasal dari Bengkalis, Riau. Ia pun menceritakan kisah yang sangat tak kusangka-sangka tentang masuknya Owais ke Kafila.

Ceritanya, Owais memiliki seorang kakak perempuan yang bersekolah di Duri, Riau. Kakaknya adalah seorang yang memiliki talenta di bidang bahasa Inggris. Bakatnya tersebut mengantarkannya ke sebuah kompetisi bahasa Inggris tingkat nasional yang diadakan di Universitas Indonesia bidang story telling. Ia tidak berangkat sendiri. Ia berangkat bersama teman-temannya yang berpastisipasi di banyak bidang lain seperti speech,debate, Model United Nation, dan spelling bee. Salah satu temannya yang mengikuti spelling bee bernama Dilah, kalau tidak salah. Waktu itu, Dilah dinobatkan sebagai juara 2. Setelah kompetisi berakhir, Dilah menyimpan keheranan yang ia ceritakan pada teman-temannya.

Saat berkompetisi, Dilah bertemu dengan rival dari sebuah sekolah islam, ia menggunakan peci. Ketika para peserta lain sedang mempersiapkan kompetisi dengan membaca kamus, ia malah membaca al-Quran. Tahu-tahu, di penghujung kompetisi, ia malah keluar sebagai juara 1.

Asal sekolah anak itu adalah Kafila Jakarta. Sekolah itulah yang kemudian direkomendasikan kakak Owais pada Owais. Setelah mencari lebih banyak referensi di internet, Owais pun menaruh hati pada Kafila dan hanya ignin meneruskan sekolah di sana. Qaddarallah, sekarang, ia pun menjadi bagian dari Kafila. Alhamdulillah.

Aku tertawa sendiri mendegar cerita itu. Aku kenal siapa orang yang dimaksud, bahkan aku tahu kata yang ia eja untuk memenangkan kompetisi itu, yakni sebuah kata yang terpampang pada featured image tulisan ini: Laodicean.

Owais.jpg

 

Advertisements

Author:

Kepahiang'99 - Bengkulu'08 - Jakarta'10 - Bandung'16 Just a piece of unimportant world's matter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s