Posted in Daffa The AUBA, kafila, My Dakwah Adventure

Laodicean: And The Da’wa Works, Eventually

Bismillaah ashshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah

Di suatu siang menjelang sore, aku berjalan-jalan tanpa alas kaki di halaman Kafila yang sekarang telah dilapisi keramik. Kafila telah jauh berubah. Fasilitasnya semakin mewah. Di luar, tampak plang “Kafila International Islamic School” dengan megah tempampang. Area parkir telah dirapihkan sedemikian rupa. Di perpustakaan, kulihat ada banyak buku baru. Sistem dan peraturan yang berjalan pun mengalami kemajuan dan bertambah ketat. Salah satunya, para santri harus melakukan registrasi berkode, menggunakan semacam struk bukti perizinan yang harus diberi cap oleh satpam, sebelum pergi izin keluar ma’had. Sistem yang menuntut para santri untuk menjadi lebih disiplin dengan waktu karena limitasi waktu berbasis komputer tidak bisa dilanggar––kalau sudah lewat waktunya, ya sistem tidak bisa bekerja. Jadi, santri yang terlambat pulang ke ma’had tidak bisa melakukan registrasi ulang yang menandakan bahwa ia sudah pulang, menyebabkan namanya tak terdata lalu berujung pada konsekuensi berupa hukuman. Continue reading “Laodicean: And The Da’wa Works, Eventually”

Posted in Daffa The AUBA

My Childhood in Brief: SDIT Iqra’ 1 (2)

Pada tahun 2008 saat aku berusia 9 tahun, Padre dan Madre memutuskan agar aku pindah rumah ke Kota Bengkulu, ibukota provinsi yang berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari rumahku di kampung. Aku tidak begitu ingat alasan apa yang benar-benar menguatkan kedua orangtuaku, meskipun di kemudian hari aku dapat menyimpulkan sesuatu. Continue reading “My Childhood in Brief: SDIT Iqra’ 1 (2)”

Posted in Daffa The AUBA

My Childhood In Brief: Beginning (1)

Bismillaah. Ashshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaah.

Namaku Muhammad Daffa Al-Falah, meskipun aku tidak terlahir dengan nama itu. Filosofi nama itu adalah ekspektasi orangtua akan seorang anak sulung laki-laki yang tahan banting hingga mencapai keberhasilan. Muhammad, tentu saja, diambil dari nama manusia termulia sepanjang zaman yang dalam bahasa Arab bermakna ‘terpuji’. Daffa pun sebuah kata yang diserap dari bahasa Arab yang berarti ‘pembela’, atau ‘pertahanan diri’. Well, nama yang baru populer di abad ke-21 ini. Aku yakin aku termasuk generasi awal yang memiliki nama ini. Al-Falah, tentu saja diserap dari bahasa Arab pula, sebuah kata yang pasti kalian dapatkan setiap mendengarkan gema adzan. Al-Falah berarti ‘kemenangan’. Aku dapat menyimpulkan bahwa terselip sebuah doa pada namaku, yakni agar aku menjadi seorang muslim terpuji yang terus berusaha dan berkarya hingga mencapai sebuah titik kemenangan. Titik itu ada di dunia, tapi hanya semu. Sedangkan titik yang hakiki ada di surga.  Continue reading “My Childhood In Brief: Beginning (1)”