Renungan

Bismillah. Ashshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaah.

Sesuatu baru saja terjadi padaku. Semoga teman-teman pembaca dapat mengambil hikmahnya 🙂

Ini baru saja terjadi. Tepat satu hari sebelum tulisan ini terbit. Aku sedang dalam program On Job Training (OJT), atau simpelnya ‘magang’. Tidak seperti kakak-kakak kelasku di generasi sebelumnya, sekarang aku dan teman-teman kelas XI hanya magang di yayasan, tidak sampai kemana-mana.

Setelah Zuhur, saat istirahat makan siang, Madre (ibu)-ku menelepon. Aku agak heran karena kali ini berbeda sekali; Madre menelepon sambil menangis terisak-isak.

“Abang nggak pa-pa, nak?”

“Iya, Ma. Memang ada apa, Ma?”

Alhamdulillah, ya Allah, Alhamdulillah…” Madre masih sedu-sedan.

Aku bingung. Pikiranku menebak-nebak. Apa Madre baru saja melihat berita Jakarta tenggelam di TV? Oya, aku beritahu teman-teman, Madre di Bengkulu, sedangkan aku di Jakarta. Aku tidak pulang karena magang. Ya, program ini khusus untuk anak kelas XI Kafila IIS pada semester satu.

Aku terus meminta Madre untuk menjelaskan. Beliau masih terisak, namun mencoba menyampaikannya.

“Begini, nak, tadi ada yang menelepon Madre, katanya Abang jatuh dari kamar mandi, terus pendarahan… kena otaknya…” Madre terbata-bata menjelaskan. Kalau teman-teman jadi aku apakah kalian akan sontak kaget? Aku, ya. Jujur saja.

Madre meneruskan, “Jadi, ada orang yang mengaku sebagai dokter dan apoteker, katanya Abang sudah dilarikan ke rumah sakit Harapan Bunda (rumah sakit terdekat dari tempatku), lalu katanya, ‘ada alat baru dari Singapura yang dapat membantu anak Ibu agar dapat bertahan hidup, tapi Ibu harus mentransfer 30 juta segera dalam 10-15 menit, atau anak Ibu tidak bisa selamat’,” jelasnya.

Memang sedikit lucu sih, setelah mendengar kalimat ’30 juta’ *modus, hehe. Tapi aku masih penasaran. “Kok bisa?” tanyaku.

“Nggak tahu, Bang. Sebelumnya juga ada orang yang menelepon, mengaku sebagai Ustadz Abang dan koordinator magang Abang. Namanya Ustadz Usman dan Bu Aisyah. Dokternya mengaku bernama Gunawan.”

Lucu lagi. Aku memberitahu Madre bahwa tidak ada seorang pun yang bernama Usman di sekolahku. Aisyah? Kurasa koordinator magangku bukan itu. Dan dokter Gunawan… designer itu kali, ya? *Ivan, haha.

“Tapi Bang, mereka juga tahu kalau Abang punya asuransi. Katanya, ‘Bu, Daffa memang punya asuransi tapi baru bisa di ACC setelah 4 hari’,” kata Madre kemudian. Aku kaget lagi. Bisa-bisanya penipu tersebut tahu sedetail itu. Madre juga memberitahuku bahwa penipu tersebut tahu nama lengkapku, tahu kalau aku sedang magang, dan hal-hal detail lainnya. Kami mencurigai kalau ini bisa jadi dari orang dalam, tapi ya sudahlah. Tidak penting yang melakukan siapa, yang jelas, setelah mengetahui kalau aku baik-baik saja, Madre pun tenang. Madre memang tipikal wanita yang tidak suka memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan. Kalian mengerti, kan?

Setelah kejadian itu, aku langsung melapor ke Kepala Asrama boarding school-ku, dan Ustadz tersebut berjanji untuk menghimbau para walisantri lain agar tidak terjebak seperti Madre. Oya, sebenarnya Madre tidak sampai tertipu karena 30 jutanya belum Madre transfer. Katanya, beliau masih sempat berpikir jernih. Yang aku cemaskan, kalau misalnya ada orangtua lain yang terjebak, kan setiap orang berbeda, ada yang panikan sehingga bisa langsung percaya, ada yang hebohan, dan lain sebagainya (yang jelas kita tahu lah kalau orangtua pasti sangaaat menyayangi anaknya, apalagi Ibu).

Well, teman-teman pembaca, kejadian ini sebenarnya sering terjadi. Katanya sih penyadapan nomor HP. Kata staff sekolahku yang orang IT, sekarang alat-alat penyadapan seperti itu sudah terjual bebas. Wah, kita perlu lebih protektif, nih. Saranku, bukan hanya lewat telepon, tapi secara langsung juga, kita harus lebih berhati-hati untuk memberikan informasi-informasi tentang kita, apalagi yang privasi.

Semoga kejadian ini tidak terjadi pada teman-teman, biarlah aku yang terakhir… ‘_’ Yang jelas, kalaupun kejadian ini sampai terjadi, usahakan jangan panik duluan ya… pikirkan dulu kejanggalan-kejanggalan yang ada. Misalnya nih, kalau misalnya aku pendarahan otak dan hampir meninggal, nah masa IGD rumah sakit minta uangnya dulu baru mau menolong? Jahat banget, kan? Nah, gitu, deh. Ini renungan kita juga agar lebih dekat pada Allah agar hati kita bersih dan pikiran kita jernih, dan lebih terlindungi dari hal yang nggak-nggak kaya gitu.

Aku senang sekali berbagi dengan teman-teman, apalagi kalau teman-teman hendak berkritik-saran dan saling menasehati dalam kebaikan. Ditunggu, ya!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s